Suatu siang di kompleks kampus UGM Bulak Sumur, Yogyakarta. Saya duduk lemas dan lelah di depan sebuah warung pinggir jalan. Lemas, karena saya baru saja ditolak untuk ikut kost oleh seorang ibu pemilik rumah kontrakan di kompleks itu. Alasannya hanya karena saya bukan mahasiswa dan tak punya pekerjaan tetap. Lelah, setelah berjalan kaki menjajakan koran di sekitar universitas terkenal tersebut.
Pikiran saya melayang ke beberapa waktu sebelum ini. Merantau ke Ibukota Jakarta, saya tidak bisa tahan lama seperti teman-teman yang lain. Padahal rencana dari rumah, kalau sudah mendapat pekerjaan, saya akan mencoba untuk kuliah. Gagal di Jakarta saya pergi ke daerah Bogor. Mengadu nasib di sekitar pabrik semen milik konglomerat Liem Sio Liong. Tapi, di sini pun saya tak punya nasib baik. Dalam satu tahun hanya pindah dari pabrik yang satu ke pabrik yang lain. Jangankan untuk kuliah, untuk makan dan membayar kontrakan pun harus bertindak hemat sekali.
Akhirnya saya lari dari Bogor dan pergi ke Yogya. Dengan harapan di kota Pelajar ini saya dapat bekerja sambil kuliah. Walaupun di awal kedatangan saya, saya mendapat tamparan yang begitu menyakitkan dari seorang ibu pemilik sebuah kontrakan mahasiswa.
Saya melanjutkan kembali berjualan koran. Ditolak di kampus Bulak Sumur, saya pindah ke jalan Malioboro. Saya tidak lagi mencari tempat kost. Stasiun kereta api Tugu, sudah cukup bagi saya untuk melepaskan lelah baik siang maupun malam. Siang saya menjajakan koran. Malam hari, sebelum tidur, saya banyak menghabiskan waktu untuk begadang. Sebab komunitas Malioboro memang sangat heterogen. Ada pengangguran, penjual koran, pedagang kaki lima, tukang semir, seniman, mahasiswa dan masih banyak bentuk manusia yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Di sini, saya juga banyak menimba ilmu.
Agak lama saya jadi warga Malioboro. Namun hasil berdagang koran saya tak menunjukan ada peningkatan. Hanya bisa untuk makan harian saja. Dan yang tidak bisa saya sangka-sangka sebelumnya adalah, sering sekali saya sakit perut. Barangkali karena terlalu sering tidur di tempat terbuka, akhirnya masuk angin. Sehingga harus berkali-kali saya ke WC. Padahal, pergi ke WC tidak gratis. Maka rencana kuliah saya pun gagal lagi. Uang hasil menjaja koran ludes untuk biaya memasukan makan ke perut dan mengeluarkan kotoran dari perut. Itu saja.
Saya pasrah. Hanya itu yang bisa saya kerjakan. Niat bekerja sambil kuliah, ternyata sampai Yogya pun gagal. Saya memutuskan untuk pulang saja ke kampung. Sebelum pulang, karena saya kekurangan ongkos, saya mampir ke kontrakan seorang budayawan asal Jombang. Dari dia saya diberi uang. Dan tiba-tiba naluri 'bisnis' saya muncul lagi setelah memegang uang pemberian tersebut. Akhirnya uang itu tak langsung saya belikan tiket kereta api. Namun, suatu pagi sebelum pulang, saya pergi ke sebuah penerbit surat kabar. Dan uang tersebut saya gunakan untuk membeli koran untuk saya jual selama perjalanan dalam kereta.
Dengan semangat 45 saya naik kereta ekonomi jurusan Jakarta tanpa membeli tiket. Koran saya jual di situ. Karena masih pagi, dagangan saya laris manis. Saya mendapat untung banyak, tiket gratis, dapat membeli nasi bungkus, dan masih sisa uang. Rasanya gembira sekali hati saya hari itu.
Namun, kegembiraan itu tidak berumur lama. Menjelang stasiun kereta api Kutoarjo, saya ditemui tiga lelaki muda. Wajahnya menampakkah kekerasan. Di tangan-tangan mereka ada sebungkus koran dan majalah. Rupanya mereka adalah penjual koran juga. Mereka mengajak saya ke sebuah ruang kecil di antara gandengan dua gerbong. Dengan kata-kata kasar, salah seorang dari mereka berkata, "Kalau kamu mau hidup, hentikan jualan koranmu di sini. Atau kamu mau saya lempar keluar dari gerbong ini?"
Saya menatap muka ketiga laki-laki muda itu. Sorot mata mereka sudah tidak bisa saya ajak kompromi. Mereka sudah memperlihatkan mimik permusuhan. Saya hanya bisa menyerah dan mencoba mempertahankan diri. "Maaf, saya tidak tahu aturan berjualan disini. Saya kira siapapun boleh mencari makan di gerbong ini. Sekali lagi maaf. Saya hanya kali ini saja. Sekedar untuk ongkos pulang."
Dengan berbagai argumentasi, akhirnya mereka memaklumi saya, walaupun masih nampak kekecewaan mereka. Karena mereka menganggap ladang usahanya telah diserobot oleh saya. Ternyata di antara pedagang kecil seperti saya pun ada pertarungan maha hebat di dalamnya.
Saya berpikir sambil duduk di antara dua gerbong kereta ekonomi itu, di tengah gesekan kuat antara roda kereta api dan rel. Rupanya seperti inilah kuliah yang diberikan Allah kepada saya. Saya tidak bisa kuliah di dalam dinding-dinding kampus formal, saya tidak bisa berguru kepada guru besar yang bergelar profesor doktor, tapi Allah sendirilah yang memberi kuliah kepada saya. Bukan di UGM, UI, Unpad, Undip, ITB, IPB atau universitas formal lain, tapi di sebuah universitas yang sebenarnya. Yaitu kehidupan ini.
Setelah peristiwa itu saya makin menyadari, bahwa kuliah itu sama dengan sekolah. Sekolah itu sama dengan mencari ilmu. Dan mencari ilmu tidak harus di universitas yang berhadapan langsung dengan dosen. Kata orang-orang bijak: Debu yang beterbangan, rumput yang saya injak sehari-hari, setetes embun yang menempel di sehelai daun, adalah ilmu Allah yang tersirat.
Jadi, seandainya sampai akhir hayat saya tidak bisa kuliah di universitas yang saya sebut di atas, saya sudah tidak lagi menyesal dalam-dalam. Karena saat saya menulis ini pun hakekatnya adalah kuliah. Kuliah untuk mendekatkan diri saya pada-Nya.
Dan dengan lapang dada disertai keikhlasan, tentunya saya harus siap kembali menerima 'mata kuliah-mata kuliah' lain dari Allah SWT berupa cucuran keringat, deraian air mata, kesedihan, kekalahan, kegagalan, caci maki dan lain sebagainya. Agar ketika selesai dari kuliah di universitas kehidupan ini mendapat 'ijazah' dan 'toga' kemuliaan di hadapan-Nya.
Brunei, Juni 2005
Senin, 11 Mei 2009
ini pundaku mana bebanmu
Kemarin sore bus patas reguler jurusan Blok M-Tangerang yang saya tumpangi mendadak mogok. Sudah dicoba berkali-kali, namun sopir tetap gagal menghidupkan mesin bus yang sudah sarat penumpang itu. Sebagian besar penumpang berkesah, peluh pun menjadi hiasan seragam semua penumpang. Sepuluh menit sudah kendaraan itu mogok, hingga akhirnya kondektur berteriak minta tolong kepada penumpang laki-laki untuk membantu mendorong bus besar itu.
Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.
Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.
Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?
Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.
***
Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.
Sebuah pelajaran di sore hari
Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.
Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.
Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?
Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.
***
Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.
Sebuah pelajaran di sore hari
memulai pekerjaan besar
Siapa sih orang yang dalam hidup ini tidak punya cita-cita, keinginan, harapan dan impian yang ingin di raih? Apakah ada dalam kehidupan ini orang yang tidak punya harapan tentang suatu hal?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hidup di dunia ini setiap orang pastilah mempunyai cita-cita, impian dan harapan akan terkabulnya suatu keinginan. Keinginan individu yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, karena banyak faktor personal yang mempengaruhinya. Seringkali tujuan hidup kita diarahkan oleh seperangkat keinginan tersebut. Beberapa aktivitas yang kita lakukan selalu berkaitan dan dalam rangka mewujudkan keinginan yang melekat erat dalam benak setiap manusia.
Tapi jangan dikira keinginan tersebut tidak berkembang. Keinginan kita ketika masih TK mungkin hanya berkisar pada terbelinya beberapa ‘mainan’ yang dapat memuaskan aktivitas bermain. Tetapi lihatlah, ketika kita duduk di bangku SMA, apakah keinginan kita tetap pada ‘sekadar’ terbelinya beberapa ‘mainan’ tersebut? Tentu saja tidak. Keinginan kita tentu saja sudah berkembang, misalnya menjadi siswa yang berprestasi, masuk dalam sekolah favorit, menjadi ‘bunga’ sekolah, dan masih banyak keinginan yang lain. Seiring dengan perjalanan waktu, keinginan tersebut terlewati, ada yang tercapai dan ada yang tidak. Dan apakah ketika kita sudah memasuki dunia kerja, keinginan kita masih sama?
Adakah di dunia ini orang yang berjalan tanpa ada tujuan yang jelas? Tanpa ada keinginan yang ingin dicapai? Tanpa ada harapan akan terkabulnya suatu hal? Jawabnya, ada. Kalau boleh saya perinci, pertama jelas orang yang sakit jiwa alias tidak normal. Kedua, orang yang putus asa. Ketiga, orang yang masih bingung ke mana akan diarahkan diri dan kehidupannya, yaitu orang yang tidak tahu alasan keberadaannya di dunia ini.
Saya pernah berada dalam suatu kondisi di mana terdapat perbedaan kontras aktivitas yang dilakukan dalam satu komunitas. Sebagian dari komunitas tersebut sangat aktif dan selalu berkreasi, singkatnya tidak pernah diam. Namun ada juga sebagian orang dalam satu komunitas tersebut yang hanya menggunakan waktunya untuk sesuatu yang mubah seperti berbicara panjang lebar tanpa manfaat yang jelas.
Pada awalnya saya sempat bingung. Terus terang memang saya tergolong orang yang tidak bisa diam. Maka akhirnya tergabunglah saya dalam satu bagian komunitas tersebut. Melakukan berbagai pekerjaan yang insyaAllah bisa menambah ilmu. Bahkan di saat saya merasa kebingungan mengatur waktu, masih ada sebagian orang yang tiap hari luntang-lantung hanya mengobrol ke sana ke mari tanpa ada hasil nyata dari aktivitas kesehariannya tersebut.
Saya termenung.
Ya Allah betapa Engkau melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira kepadaku. Bahkan suatu saat di mana saya sedang ‘bete’, seorang teman menasehati, “Jadikan semua aktivitas ini sebagai ibadah. Jangan terbebani dengan hal-hal besar. Cobalah jalani dan kerjakan dengan maksimal apa yang ada sekarang ini.”
Dalam Adz-Dzariyat 56 Allah berfirman, "Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun" "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Sehingga sudah jelas bahwa kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Jadi, bagaimanakah wujud ibadah kita? Apakah ‘cukup’ hanya dengan melaksanakan ibadah mahdhoh semata? Apakah kita menutup mata pada ibadah yang sifatnya muamalah? Setiap aktivitas yang kita niatkan lurus untuk Allah, dengan jalan yang benar maka bisa termasuk dalam ibadah. Kemudian apa kaitannya dengan keinginan dan harapan? Ternyata tujuan hidup manusia sangat terkait erat dengan keinginan dan harapan.
Jika dikembalikan pada ad dzariyat 56, maka sudah selayaknya kita melakukan ‘seleksi’ pada keinginan dan harapan kita. Kembali kita kaitkan dengan tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini. Sekali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Apakah kemudian keinginan dan harapan kita akan terkukung dalam satu batasan maya? Apakah masih mungkin bagi kita untuk mempunyai keinginan besar?
Sangat mungkin. Karena dalam pencapaian suatu keinginan terkandung 2 hal : ikhtiar dan doa. Jadi, tidak ada alasan bagi kita ragu untuk mempunyai suatu keinginan besar. Hanya masalahnya, sudahkah kita mengukur diri, mencoba mengaitkan antara keinginan ‘besar’ kita dengan usaha yang telah dan ‘sedang’ kita lakukan? Termasuk di dalamnya apakah aktivitas (maupun pekerjaan) yang sedang kita lakukan sekarang ini dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ‘besar’ tersebut? Satu hal yang perlu diingat. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha dan berdoa. Tetapi hasil akhir ada di tangan Allah. Kita harus ber-tawakkal pada semua ketentuan Allah.
Saya pikir memang benar, penyebab utama ‘bete’ yang saya alami adalah karena saya terlalu memaksakan diri dan kurang menikmati aktivitas keseharian. Sejak saat itulah ada yang berubah dalam paradigma berpikir saya. Bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut harus kita wujudkan mulai dari pekerjaan yang kecil. Bukankah pekerjaan kecil jika dikumpulkan akan menjadi suatu pekerjaan besar? Dan secara logis dapat diterima bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar kita harus mulai dari pekerjaan yang kecil.
Dan tahukah apa pekerjaan besar yang saya rencanakan dalam hidup ini? Menjadikan setiap aktivitas keseharian dalam rangka beribadah kepada Allah. Baik aktivitas di tempat kerja, di rumah, dan dalam lingkungan keseharian. Saya ingin menjadi dosen yang baik, yang bisa memberikan ilmu yang tidak seberapa ini kepada mahasiswa sehingga mereka bisa mengambil manfaat daripadanya, dan tentu saja saya harus selalu meng-up date pengetahuan yang saya miliki. Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua sebagai bakti pada mereka berdua atas segala kasih sayang yang telah mereka berikan. Dan saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain serta menjadikan rumah tangga yang insyaAllah kelak saya bangun sebagai sarana beribadah kepada Allah.
Jadi, memang belum terlambat kan bagi kita untuk memulainya
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hidup di dunia ini setiap orang pastilah mempunyai cita-cita, impian dan harapan akan terkabulnya suatu keinginan. Keinginan individu yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, karena banyak faktor personal yang mempengaruhinya. Seringkali tujuan hidup kita diarahkan oleh seperangkat keinginan tersebut. Beberapa aktivitas yang kita lakukan selalu berkaitan dan dalam rangka mewujudkan keinginan yang melekat erat dalam benak setiap manusia.
Tapi jangan dikira keinginan tersebut tidak berkembang. Keinginan kita ketika masih TK mungkin hanya berkisar pada terbelinya beberapa ‘mainan’ yang dapat memuaskan aktivitas bermain. Tetapi lihatlah, ketika kita duduk di bangku SMA, apakah keinginan kita tetap pada ‘sekadar’ terbelinya beberapa ‘mainan’ tersebut? Tentu saja tidak. Keinginan kita tentu saja sudah berkembang, misalnya menjadi siswa yang berprestasi, masuk dalam sekolah favorit, menjadi ‘bunga’ sekolah, dan masih banyak keinginan yang lain. Seiring dengan perjalanan waktu, keinginan tersebut terlewati, ada yang tercapai dan ada yang tidak. Dan apakah ketika kita sudah memasuki dunia kerja, keinginan kita masih sama?
Adakah di dunia ini orang yang berjalan tanpa ada tujuan yang jelas? Tanpa ada keinginan yang ingin dicapai? Tanpa ada harapan akan terkabulnya suatu hal? Jawabnya, ada. Kalau boleh saya perinci, pertama jelas orang yang sakit jiwa alias tidak normal. Kedua, orang yang putus asa. Ketiga, orang yang masih bingung ke mana akan diarahkan diri dan kehidupannya, yaitu orang yang tidak tahu alasan keberadaannya di dunia ini.
Saya pernah berada dalam suatu kondisi di mana terdapat perbedaan kontras aktivitas yang dilakukan dalam satu komunitas. Sebagian dari komunitas tersebut sangat aktif dan selalu berkreasi, singkatnya tidak pernah diam. Namun ada juga sebagian orang dalam satu komunitas tersebut yang hanya menggunakan waktunya untuk sesuatu yang mubah seperti berbicara panjang lebar tanpa manfaat yang jelas.
Pada awalnya saya sempat bingung. Terus terang memang saya tergolong orang yang tidak bisa diam. Maka akhirnya tergabunglah saya dalam satu bagian komunitas tersebut. Melakukan berbagai pekerjaan yang insyaAllah bisa menambah ilmu. Bahkan di saat saya merasa kebingungan mengatur waktu, masih ada sebagian orang yang tiap hari luntang-lantung hanya mengobrol ke sana ke mari tanpa ada hasil nyata dari aktivitas kesehariannya tersebut.
Saya termenung.
Ya Allah betapa Engkau melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira kepadaku. Bahkan suatu saat di mana saya sedang ‘bete’, seorang teman menasehati, “Jadikan semua aktivitas ini sebagai ibadah. Jangan terbebani dengan hal-hal besar. Cobalah jalani dan kerjakan dengan maksimal apa yang ada sekarang ini.”
Dalam Adz-Dzariyat 56 Allah berfirman, "Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun" "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Sehingga sudah jelas bahwa kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Jadi, bagaimanakah wujud ibadah kita? Apakah ‘cukup’ hanya dengan melaksanakan ibadah mahdhoh semata? Apakah kita menutup mata pada ibadah yang sifatnya muamalah? Setiap aktivitas yang kita niatkan lurus untuk Allah, dengan jalan yang benar maka bisa termasuk dalam ibadah. Kemudian apa kaitannya dengan keinginan dan harapan? Ternyata tujuan hidup manusia sangat terkait erat dengan keinginan dan harapan.
Jika dikembalikan pada ad dzariyat 56, maka sudah selayaknya kita melakukan ‘seleksi’ pada keinginan dan harapan kita. Kembali kita kaitkan dengan tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini. Sekali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Apakah kemudian keinginan dan harapan kita akan terkukung dalam satu batasan maya? Apakah masih mungkin bagi kita untuk mempunyai keinginan besar?
Sangat mungkin. Karena dalam pencapaian suatu keinginan terkandung 2 hal : ikhtiar dan doa. Jadi, tidak ada alasan bagi kita ragu untuk mempunyai suatu keinginan besar. Hanya masalahnya, sudahkah kita mengukur diri, mencoba mengaitkan antara keinginan ‘besar’ kita dengan usaha yang telah dan ‘sedang’ kita lakukan? Termasuk di dalamnya apakah aktivitas (maupun pekerjaan) yang sedang kita lakukan sekarang ini dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ‘besar’ tersebut? Satu hal yang perlu diingat. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha dan berdoa. Tetapi hasil akhir ada di tangan Allah. Kita harus ber-tawakkal pada semua ketentuan Allah.
Saya pikir memang benar, penyebab utama ‘bete’ yang saya alami adalah karena saya terlalu memaksakan diri dan kurang menikmati aktivitas keseharian. Sejak saat itulah ada yang berubah dalam paradigma berpikir saya. Bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut harus kita wujudkan mulai dari pekerjaan yang kecil. Bukankah pekerjaan kecil jika dikumpulkan akan menjadi suatu pekerjaan besar? Dan secara logis dapat diterima bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar kita harus mulai dari pekerjaan yang kecil.
Dan tahukah apa pekerjaan besar yang saya rencanakan dalam hidup ini? Menjadikan setiap aktivitas keseharian dalam rangka beribadah kepada Allah. Baik aktivitas di tempat kerja, di rumah, dan dalam lingkungan keseharian. Saya ingin menjadi dosen yang baik, yang bisa memberikan ilmu yang tidak seberapa ini kepada mahasiswa sehingga mereka bisa mengambil manfaat daripadanya, dan tentu saja saya harus selalu meng-up date pengetahuan yang saya miliki. Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua sebagai bakti pada mereka berdua atas segala kasih sayang yang telah mereka berikan. Dan saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain serta menjadikan rumah tangga yang insyaAllah kelak saya bangun sebagai sarana beribadah kepada Allah.
Jadi, memang belum terlambat kan bagi kita untuk memulainya
Ilustrasi manajemen waktu
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.
Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.
Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.
Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.
Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".
Senin, 13 April 2009
Si Pencuri Kue
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Ia terbenam dalam bukunya, tetapi kebetulan ia melihat, bahwa lelaki disebelahnya, dengan begitu berani, mengambil satu kue dari kantong yang terletak di antara mereka, ia mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam, sementara si "Pencuri Kue" yang pemberani menghabiskan persediaannya.Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu . Berpikir," kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia!". Setiap kali ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, "Ya ampun, Orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah, ia tidak kelihatan berterima kasih !". Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang, menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantung kuenya, di depan matanya! "Kok milikku ada di sini," erangnya dengan patah hati, "Jadi Kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi!" terlambat untuk minta maaf, ia tersandar dengan sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah si pencuri kue itu!
Lalu saya teringat dalam hidup ini kisah pencuri kue ini sering terjadi. Kita selalu sering berprasangka. Dan kita selalu terlalu sering melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Dan tak jarang kita sering berprasangka buruk. Oranglah yang kasar, oranglah yang tak tahu diri, oranglah yang berdosa, oranglah yang salah, oranglah yang kurang beriman, oranglah yang munafik, oranglah yang mencuri. Padahal kita yang mencuri.
Dan betapa seringnya kita mengatakan sesuatu itu adalah milik kita, padahal kalau di renungkan semua yang diatas bumi ini adalah milik Allah. Dan betapa seringnya kita mencuri Milik Allah? Maka Tuhan memberi peringatan pada kita melalui Al-Quran.
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga." (QS. 10:66)
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. 49:12)
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam, sementara si "Pencuri Kue" yang pemberani menghabiskan persediaannya.Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu . Berpikir," kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia!". Setiap kali ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, "Ya ampun, Orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah, ia tidak kelihatan berterima kasih !". Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang, menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantung kuenya, di depan matanya! "Kok milikku ada di sini," erangnya dengan patah hati, "Jadi Kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi!" terlambat untuk minta maaf, ia tersandar dengan sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah si pencuri kue itu!
Lalu saya teringat dalam hidup ini kisah pencuri kue ini sering terjadi. Kita selalu sering berprasangka. Dan kita selalu terlalu sering melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Dan tak jarang kita sering berprasangka buruk. Oranglah yang kasar, oranglah yang tak tahu diri, oranglah yang berdosa, oranglah yang salah, oranglah yang kurang beriman, oranglah yang munafik, oranglah yang mencuri. Padahal kita yang mencuri.
Dan betapa seringnya kita mengatakan sesuatu itu adalah milik kita, padahal kalau di renungkan semua yang diatas bumi ini adalah milik Allah. Dan betapa seringnya kita mencuri Milik Allah? Maka Tuhan memberi peringatan pada kita melalui Al-Quran.
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga." (QS. 10:66)
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. 49:12)
Langganan:
Postingan (Atom)



