Jumat, 15 Januari 2010

Anak


Oleh: Naguib Mahfouz


"Bapak!"
"Ya?"
"Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama."
"Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu."
"Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang."
"Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan."
"Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain."

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:
"Itu hanya pada pelajaran agama saja."
"Kenapa, Pak?"
"Karena kau punya agama sendiri dan ia punya agama lain."
"Bagaimana sih, Pak?"
"Kau Islam dan ia Kristen."
"Kenapa?"
"Kau masih kecil, nanti akan mengerti."
"Saya sudah besar sekarang."
"Masih kecil, Sayangku."
"Kenapa saya seorang Islam?"

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:
"Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam."
"Dan Nadia?"
"Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen."
"Apa karena bapaknya berkacamata?"
"Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen."

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:
"Siapa yang lebih baik?"

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:
"Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik."
"Tentu salah satu ada yang lebih baik."
"Ini baik dan itu juga baik."
"Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?"
"Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya."
"Tapi kenapa?"

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:
"Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?"
"Tidak."
"Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam."
"Jadi, Nadia itu mode lama?"

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:
"Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya."
"Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?"

Segera ia memotong:
"Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga."
"Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?"
"Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain."
"Apa bedanya, Pak?"
"Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah."
"Siapa sih Allah, Pak?"

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:
"Apa kata Bu Guru di sekolah?"
"Ia membaca surat-surat dari Al-Qur'an dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu."

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:
"Ia yang menciptakan dunia seluruhnya."
"Seluruhnya?"
"Ya, seluruhnya."
"Apa artinya mencipta?"
"Yang membuat segala sesuatu."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan kekuasaan yang agung sekali."
"Dimana Ia tinggal?"
"Di dunia seluruhnya."
"Dan sebelum ada dunia?"
"Di atas."
"Di langit?"
"Ya."
"Saya ingin melihat-Nya."
"Tidak bisa."
"Meskipun melalui televisi?"
"Ya, tidak bisa juga."
"Tak seorang pun bisa melihat-Nya?"
"Tak seorang pun."
"Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?"
"Begitulah."
"Siapa yang kasih tahu Ia di atas?"
"Para nabi."
"Para nabi?"
"Ya, seperti nabi kita Muhammad."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan kesanggupan yang khas ada padanya."
"Kedua matanya tajam sekali?"
"Ya."
"Kenapa begitu?"
"Allah menciptakannya begitu."
"Kenapa?"

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:
"Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki."
"Dan bagaimana nabi melihat-Nya?"
"Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu."
"Seperti Bapak?"

Ia menjawab sambil menahan tawanya:
"Ia tak ada bandingannya."
"Kenapa Ia tinggal di atas?"
"Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi ia bisa melihat segala sesuatu."

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:
"Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi."
"Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana."
"Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya."
"Tapi Ia hidup dan tidak mati."
"Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya."
"Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi ia hidup dan tidak mati."
"Dan kakekku masih hidup juga?"
"Kakekmu sudah meninggal."
"Apa orang-orang juga telah membunuhnya?"
"Tidak, ia meninggal sendiri."
"Bagaimana?"
"Ia sakit, dan kemudian meninggal."
"Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?"
Keningnya mengerenyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

"Tidak. Insya Allah ia akan sembuh."
"Dan kenapa Kakek meninggal?"
"Sakit dalam ketuaannya."
"Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?"

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:
"Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya."
"Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?"
"Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki."
"Apa mati itu menyenangkan?"
"Tidak, Sayang."
"Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?"
"Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan."
"Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan."
"Hmm, Bapak keliru tadi."
"Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?"
"Karena Tuhan belum menghendaki begitu."
"Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?"
"Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi."
"Kenapa?"
"Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi."
"Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?"
"Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal."
"Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?"
"Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi."
"Di mana?"
"Di atas."
"Di sisi Tuhan?"
"Ya."
"Dan kita bisa melihat-Nya?"
"Ya."
"Tentunya itu bagus kan?"
"Tentu."
"Kalau begitu, kita harus pergi."
"Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik."
"Dan Kakek sudah melakukannya?"
"Ya."
"Apa yang ia lakukan?"
"Ia telah membangun rumah dan menanam kebun."
"Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?"

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

"Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi."
"Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik."
"Ia anak nakal."
"Tapi ia tidak akan mati."
"Kecuali kalau Tuhan menghendakinya."
"Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?"
"Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka."

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata- katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya.

Namun si kecil tiba-tiba berseru:
"Saya ingin selalu bersama Nadia!"

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:
"Meski pada pelajaran agama sekalipun!"

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:
"Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!"

Istrinya menyahut:
"Nanti ia akan besar, dan akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya."

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.

*Diterjemahkan oleh M. Fudoli Zaini, dalam "Antologi Cerpen Nobel"
(Penerbit Bentang, Mei 2004).

NAGUIB MAHFOUZ lahir di Kairo, Mesir, pada 1911. Ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad. Sebagai pengarang, Mahfouz mula-mula menulis dengan gaya romantis, lalu realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis.

NAGUIB MAHFOUZ terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen. Dari tangannya sudah lahir 32 novel, 14 kumcer, dan 30 naskah film. Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan 1988 pada Mahfouz, sebagai pengakuan untuk: "... ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan."

Senin, 11 Mei 2009

Universitas yg sebenarnya

Suatu siang di kompleks kampus UGM Bulak Sumur, Yogyakarta. Saya duduk lemas dan lelah di depan sebuah warung pinggir jalan. Lemas, karena saya baru saja ditolak untuk ikut kost oleh seorang ibu pemilik rumah kontrakan di kompleks itu. Alasannya hanya karena saya bukan mahasiswa dan tak punya pekerjaan tetap. Lelah, setelah berjalan kaki menjajakan koran di sekitar universitas terkenal tersebut.

Pikiran saya melayang ke beberapa waktu sebelum ini. Merantau ke Ibukota Jakarta, saya tidak bisa tahan lama seperti teman-teman yang lain. Padahal rencana dari rumah, kalau sudah mendapat pekerjaan, saya akan mencoba untuk kuliah. Gagal di Jakarta saya pergi ke daerah Bogor. Mengadu nasib di sekitar pabrik semen milik konglomerat Liem Sio Liong. Tapi, di sini pun saya tak punya nasib baik. Dalam satu tahun hanya pindah dari pabrik yang satu ke pabrik yang lain. Jangankan untuk kuliah, untuk makan dan membayar kontrakan pun harus bertindak hemat sekali.

Akhirnya saya lari dari Bogor dan pergi ke Yogya. Dengan harapan di kota Pelajar ini saya dapat bekerja sambil kuliah. Walaupun di awal kedatangan saya, saya mendapat tamparan yang begitu menyakitkan dari seorang ibu pemilik sebuah kontrakan mahasiswa.

Saya melanjutkan kembali berjualan koran. Ditolak di kampus Bulak Sumur, saya pindah ke jalan Malioboro. Saya tidak lagi mencari tempat kost. Stasiun kereta api Tugu, sudah cukup bagi saya untuk melepaskan lelah baik siang maupun malam. Siang saya menjajakan koran. Malam hari, sebelum tidur, saya banyak menghabiskan waktu untuk begadang. Sebab komunitas Malioboro memang sangat heterogen. Ada pengangguran, penjual koran, pedagang kaki lima, tukang semir, seniman, mahasiswa dan masih banyak bentuk manusia yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Di sini, saya juga banyak menimba ilmu.

Agak lama saya jadi warga Malioboro. Namun hasil berdagang koran saya tak menunjukan ada peningkatan. Hanya bisa untuk makan harian saja. Dan yang tidak bisa saya sangka-sangka sebelumnya adalah, sering sekali saya sakit perut. Barangkali karena terlalu sering tidur di tempat terbuka, akhirnya masuk angin. Sehingga harus berkali-kali saya ke WC. Padahal, pergi ke WC tidak gratis. Maka rencana kuliah saya pun gagal lagi. Uang hasil menjaja koran ludes untuk biaya memasukan makan ke perut dan mengeluarkan kotoran dari perut. Itu saja.

Saya pasrah. Hanya itu yang bisa saya kerjakan. Niat bekerja sambil kuliah, ternyata sampai Yogya pun gagal. Saya memutuskan untuk pulang saja ke kampung. Sebelum pulang, karena saya kekurangan ongkos, saya mampir ke kontrakan seorang budayawan asal Jombang. Dari dia saya diberi uang. Dan tiba-tiba naluri 'bisnis' saya muncul lagi setelah memegang uang pemberian tersebut. Akhirnya uang itu tak langsung saya belikan tiket kereta api. Namun, suatu pagi sebelum pulang, saya pergi ke sebuah penerbit surat kabar. Dan uang tersebut saya gunakan untuk membeli koran untuk saya jual selama perjalanan dalam kereta.

Dengan semangat 45 saya naik kereta ekonomi jurusan Jakarta tanpa membeli tiket. Koran saya jual di situ. Karena masih pagi, dagangan saya laris manis. Saya mendapat untung banyak, tiket gratis, dapat membeli nasi bungkus, dan masih sisa uang. Rasanya gembira sekali hati saya hari itu.

Namun, kegembiraan itu tidak berumur lama. Menjelang stasiun kereta api Kutoarjo, saya ditemui tiga lelaki muda. Wajahnya menampakkah kekerasan. Di tangan-tangan mereka ada sebungkus koran dan majalah. Rupanya mereka adalah penjual koran juga. Mereka mengajak saya ke sebuah ruang kecil di antara gandengan dua gerbong. Dengan kata-kata kasar, salah seorang dari mereka berkata, "Kalau kamu mau hidup, hentikan jualan koranmu di sini. Atau kamu mau saya lempar keluar dari gerbong ini?"

Saya menatap muka ketiga laki-laki muda itu. Sorot mata mereka sudah tidak bisa saya ajak kompromi. Mereka sudah memperlihatkan mimik permusuhan. Saya hanya bisa menyerah dan mencoba mempertahankan diri. "Maaf, saya tidak tahu aturan berjualan disini. Saya kira siapapun boleh mencari makan di gerbong ini. Sekali lagi maaf. Saya hanya kali ini saja. Sekedar untuk ongkos pulang."

Dengan berbagai argumentasi, akhirnya mereka memaklumi saya, walaupun masih nampak kekecewaan mereka. Karena mereka menganggap ladang usahanya telah diserobot oleh saya. Ternyata di antara pedagang kecil seperti saya pun ada pertarungan maha hebat di dalamnya.

Saya berpikir sambil duduk di antara dua gerbong kereta ekonomi itu, di tengah gesekan kuat antara roda kereta api dan rel. Rupanya seperti inilah kuliah yang diberikan Allah kepada saya. Saya tidak bisa kuliah di dalam dinding-dinding kampus formal, saya tidak bisa berguru kepada guru besar yang bergelar profesor doktor, tapi Allah sendirilah yang memberi kuliah kepada saya. Bukan di UGM, UI, Unpad, Undip, ITB, IPB atau universitas formal lain, tapi di sebuah universitas yang sebenarnya. Yaitu kehidupan ini.

Setelah peristiwa itu saya makin menyadari, bahwa kuliah itu sama dengan sekolah. Sekolah itu sama dengan mencari ilmu. Dan mencari ilmu tidak harus di universitas yang berhadapan langsung dengan dosen. Kata orang-orang bijak: Debu yang beterbangan, rumput yang saya injak sehari-hari, setetes embun yang menempel di sehelai daun, adalah ilmu Allah yang tersirat.

Jadi, seandainya sampai akhir hayat saya tidak bisa kuliah di universitas yang saya sebut di atas, saya sudah tidak lagi menyesal dalam-dalam. Karena saat saya menulis ini pun hakekatnya adalah kuliah. Kuliah untuk mendekatkan diri saya pada-Nya.

Dan dengan lapang dada disertai keikhlasan, tentunya saya harus siap kembali menerima 'mata kuliah-mata kuliah' lain dari Allah SWT berupa cucuran keringat, deraian air mata, kesedihan, kekalahan, kegagalan, caci maki dan lain sebagainya. Agar ketika selesai dari kuliah di universitas kehidupan ini mendapat 'ijazah' dan 'toga' kemuliaan di hadapan-Nya.

Brunei, Juni 2005

ini pundaku mana bebanmu

Kemarin sore bus patas reguler jurusan Blok M-Tangerang yang saya tumpangi mendadak mogok. Sudah dicoba berkali-kali, namun sopir tetap gagal menghidupkan mesin bus yang sudah sarat penumpang itu. Sebagian besar penumpang berkesah, peluh pun menjadi hiasan seragam semua penumpang. Sepuluh menit sudah kendaraan itu mogok, hingga akhirnya kondektur berteriak minta tolong kepada penumpang laki-laki untuk membantu mendorong bus besar itu.

Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.

Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.

Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?

Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.

***

Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.

Sebuah pelajaran di sore hari

memulai pekerjaan besar

Siapa sih orang yang dalam hidup ini tidak punya cita-cita, keinginan, harapan dan impian yang ingin di raih? Apakah ada dalam kehidupan ini orang yang tidak punya harapan tentang suatu hal?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hidup di dunia ini setiap orang pastilah mempunyai cita-cita, impian dan harapan akan terkabulnya suatu keinginan. Keinginan individu yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, karena banyak faktor personal yang mempengaruhinya. Seringkali tujuan hidup kita diarahkan oleh seperangkat keinginan tersebut. Beberapa aktivitas yang kita lakukan selalu berkaitan dan dalam rangka mewujudkan keinginan yang melekat erat dalam benak setiap manusia.

Tapi jangan dikira keinginan tersebut tidak berkembang. Keinginan kita ketika masih TK mungkin hanya berkisar pada terbelinya beberapa ‘mainan’ yang dapat memuaskan aktivitas bermain. Tetapi lihatlah, ketika kita duduk di bangku SMA, apakah keinginan kita tetap pada ‘sekadar’ terbelinya beberapa ‘mainan’ tersebut? Tentu saja tidak. Keinginan kita tentu saja sudah berkembang, misalnya menjadi siswa yang berprestasi, masuk dalam sekolah favorit, menjadi ‘bunga’ sekolah, dan masih banyak keinginan yang lain. Seiring dengan perjalanan waktu, keinginan tersebut terlewati, ada yang tercapai dan ada yang tidak. Dan apakah ketika kita sudah memasuki dunia kerja, keinginan kita masih sama?

Adakah di dunia ini orang yang berjalan tanpa ada tujuan yang jelas? Tanpa ada keinginan yang ingin dicapai? Tanpa ada harapan akan terkabulnya suatu hal? Jawabnya, ada. Kalau boleh saya perinci, pertama jelas orang yang sakit jiwa alias tidak normal. Kedua, orang yang putus asa. Ketiga, orang yang masih bingung ke mana akan diarahkan diri dan kehidupannya, yaitu orang yang tidak tahu alasan keberadaannya di dunia ini.

Saya pernah berada dalam suatu kondisi di mana terdapat perbedaan kontras aktivitas yang dilakukan dalam satu komunitas. Sebagian dari komunitas tersebut sangat aktif dan selalu berkreasi, singkatnya tidak pernah diam. Namun ada juga sebagian orang dalam satu komunitas tersebut yang hanya menggunakan waktunya untuk sesuatu yang mubah seperti berbicara panjang lebar tanpa manfaat yang jelas.

Pada awalnya saya sempat bingung. Terus terang memang saya tergolong orang yang tidak bisa diam. Maka akhirnya tergabunglah saya dalam satu bagian komunitas tersebut. Melakukan berbagai pekerjaan yang insyaAllah bisa menambah ilmu. Bahkan di saat saya merasa kebingungan mengatur waktu, masih ada sebagian orang yang tiap hari luntang-lantung hanya mengobrol ke sana ke mari tanpa ada hasil nyata dari aktivitas kesehariannya tersebut.

Saya termenung.

Ya Allah betapa Engkau melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira kepadaku. Bahkan suatu saat di mana saya sedang ‘bete’, seorang teman menasehati, “Jadikan semua aktivitas ini sebagai ibadah. Jangan terbebani dengan hal-hal besar. Cobalah jalani dan kerjakan dengan maksimal apa yang ada sekarang ini.”

Dalam Adz-Dzariyat 56 Allah berfirman, "Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun" "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Sehingga sudah jelas bahwa kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.

Jadi, bagaimanakah wujud ibadah kita? Apakah ‘cukup’ hanya dengan melaksanakan ibadah mahdhoh semata? Apakah kita menutup mata pada ibadah yang sifatnya muamalah? Setiap aktivitas yang kita niatkan lurus untuk Allah, dengan jalan yang benar maka bisa termasuk dalam ibadah. Kemudian apa kaitannya dengan keinginan dan harapan? Ternyata tujuan hidup manusia sangat terkait erat dengan keinginan dan harapan.

Jika dikembalikan pada ad dzariyat 56, maka sudah selayaknya kita melakukan ‘seleksi’ pada keinginan dan harapan kita. Kembali kita kaitkan dengan tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini. Sekali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Apakah kemudian keinginan dan harapan kita akan terkukung dalam satu batasan maya? Apakah masih mungkin bagi kita untuk mempunyai keinginan besar?

Sangat mungkin. Karena dalam pencapaian suatu keinginan terkandung 2 hal : ikhtiar dan doa. Jadi, tidak ada alasan bagi kita ragu untuk mempunyai suatu keinginan besar. Hanya masalahnya, sudahkah kita mengukur diri, mencoba mengaitkan antara keinginan ‘besar’ kita dengan usaha yang telah dan ‘sedang’ kita lakukan? Termasuk di dalamnya apakah aktivitas (maupun pekerjaan) yang sedang kita lakukan sekarang ini dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ‘besar’ tersebut? Satu hal yang perlu diingat. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha dan berdoa. Tetapi hasil akhir ada di tangan Allah. Kita harus ber-tawakkal pada semua ketentuan Allah.

Saya pikir memang benar, penyebab utama ‘bete’ yang saya alami adalah karena saya terlalu memaksakan diri dan kurang menikmati aktivitas keseharian. Sejak saat itulah ada yang berubah dalam paradigma berpikir saya. Bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut harus kita wujudkan mulai dari pekerjaan yang kecil. Bukankah pekerjaan kecil jika dikumpulkan akan menjadi suatu pekerjaan besar? Dan secara logis dapat diterima bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar kita harus mulai dari pekerjaan yang kecil.

Dan tahukah apa pekerjaan besar yang saya rencanakan dalam hidup ini? Menjadikan setiap aktivitas keseharian dalam rangka beribadah kepada Allah. Baik aktivitas di tempat kerja, di rumah, dan dalam lingkungan keseharian. Saya ingin menjadi dosen yang baik, yang bisa memberikan ilmu yang tidak seberapa ini kepada mahasiswa sehingga mereka bisa mengambil manfaat daripadanya, dan tentu saja saya harus selalu meng-up date pengetahuan yang saya miliki. Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua sebagai bakti pada mereka berdua atas segala kasih sayang yang telah mereka berikan. Dan saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain serta menjadikan rumah tangga yang insyaAllah kelak saya bangun sebagai sarana beribadah kepada Allah.

Jadi, memang belum terlambat kan bagi kita untuk memulainya

Ilustrasi manajemen waktu

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".