Selasa, 24 Februari 2009

Valentine Die

Tanggal 14 Pebruari sudah identik dengan kata valentine. Valentine’s Day (VD). Tua, muda, membanjiri toko-toko souvenir yang menjajakan pernak-pernik perayaan valentine yang notabene diartikan hari kasih sayang. Bahkan ada toko di Samarinda ini yang mewajibkan karyawannya membawa kado untuk acara tuker-tukeran kado di tanggal tersebut. Bener gak sih valentine itu artinya kasih sayang ? Apa sih sebenarnya yang melatarbelakangi kehebohan masyarakat dunia ini terhadap tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya ? Kenapa juga muslimah kita latah berpink ria tanda suka cita menyambut tanggal tersebut ?

Salah Kaprah

Banyak orang salah kaprah, mengartikan kata valentine sebagai “Kasih sayang”. Idih PD banget yang bilang begitu. Emang di kamus ada artinya ? Kamus apa coba ? Kamus latin ? Hayo bisa jawab nggak ?! Makanya jangan sok ikut-ikutan sebelum tahu asal-usulnya.

Sebenarnya kata valentine itu diambil dari nama seorang birhop di Terni, suatu tempat kira-kira 60 mil dari Roma, yang hidup diakhir abad ke 3 M di zaman raja Claudius II. Tepat tanggal 14 Pebruari 270 M St. Valentine dihukum mati oleh rajanya. Kenapa ? Kabarnya ia mengajak manusia memeluk agama nasrani. Dalam versi lain dijelaskan bahwa Claudius II menganggap bahwa para bujangan lebih tabah dalam berperang dibandingkan yang telah menikah sampai akhirnya timbul larangan pernikahan. Valentine menentang pelarangan tersebut dengan mengadakan pernikahan di gereja secara diam-diam, namun naas akhirnya ketauan juga. Dipenjara deh. Dalam penjara Valentine “mucil” (=bandel, -red), pake jatuh hati sama anak sipir yang sedang sakit, tentu setelah dia berhasil menyembuhkannya. Walhasil ketangkap basah lagi, jadi juga doi dihukum mati.

Dalam versi lain diceritakan bahwa pada awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang bertitel Lupercalia setiap tanggal 15 Pebruari, sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita < perkawinan) serta Pan (Tuhan di alam ini). Di acara itu ngumpul laki-laki dan perempuan, saling memilih pasangan lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya, lantas tuker-tukeran. Lalu ? hura-hura sampai pagi. Alamak sebegitunya ! Seiring dengan perkembangan, pihak gereja berinisiatif memindahkan upacara penghormatan terhadap berhala itu jadi tanggal14 Pebruari. Tujuannya pun banting stir, bukan lagi menyembah berhala tapi menghormati seorang pendeta kristen yang tewas dihukum mati. Nama Lupercalia pun diganti jadi Saint Valentine’s Day.

Nah lho.. kamu-kamu yang ikutan hajatan VD ternyata merayakan peringatan yang bukan dari Islam.

Imbasnya Terhadap Masyarakat Muslim

Indonesia pun nggak luput dari biasnya, bahkan nggak sedikit masyarakat muslim yang latah ikut-ikutan. Aduh.. koq bisa begitu ya ? Apa karena tertarik dengan warna pink yang ditawarkan ? Atau gemerlapnya VD ? Mungkin juga hanya berkeyakinan “Hari Kasih Sayang”. Jangan mudah tertipu kawan. Itu adalah rangkaian dari peringatan mengenang kembali seorang pendeta, bagian ritual mereka. Itu mah bukan produk peradaban Islam.

Tahu nggak sobat, dengan melibatkan diri pada acara begituan sama aja sudah mengingkari keyakinan kita pada Islam. Sebagaimana Rasul telah melarang umatnya untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, seperti termaktub dalam Hadits Riwayat At-Tirmidzi, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” Terlebih-lebih dalam Al-Qur’an sendiri, Alloh SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra : 36).

Mengekornya umat kita terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang, lagi pula menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Alloh SWT berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 51).

Diantar dampak buruk menyerupai mereka adalah ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah.

Lantas bagaimana dengan maksud hati tidak untuk mengenang kembali Valentine, tapi lebih tertuju pada hari kasih sayangnya ? Pertanyaan ini yang kadang terucap oleh mereka yang sudah gandrung dengan perayaan tersebut, hingga mencari-cari alasan agar tetap mempunyai hari khusus untuk mengungkapkan rasa sayangnya terhadap orang yang dicintainya yaitu tanggal 14 Pebruari.

Jawabnya seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya !” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Jauhi VD

Jadi jelas sudah bahwa perayaan VD adalah budaya Barat yang merambat di relung hati mereka yang alpa terhadap pengetahuan tentang Islam. Mereka merayakannya berdasarkan “kelatahan”. Mematri kata “Kasih Sayang” sebagai alasan menghindari / mengganti kata-kata Valentine. Padahal mempunyai arti yang sama. Yang paling menyedihkan adalah mereka tahu kalau Valentine adalah nama seorang pendeta, tapi mengapa juga tetap menutup mata dan telinga. Seolah-olah tidak mengetahui kebenaran tersebut, mencoba mendustakan hati. Hati-hati kalau sudah begitu, pintu hati bisa ditutup oleh Pembuat Hati, Alloh SWT. Nauzubillah.

Valentine merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam, dan dapat disimpulkan bahwa hukumnya adalah haram.

Valentine sudah memakan banyak korban, khususnya remaja kita. Banyak yang tertipu oleh gemerlap yang ditawarkannya, hingga menikam perasaan dan pikiran sehat mereka.

Dampak buruk lainnya, dengan mengekor mereka berati memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengakui agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Faatihah ; 6-7).

Hmm.. renungin deh, gimana bisa kita memohon kepada Penguasa Kehidupan, Alloh SWT untuk ditunjukkan jalan yang lurus, sementara sendirinya ber-VD-ria.

Sobat Shahirah, perayaan VD lebih terarah pada pengumbaran hawa nafsu. Cinta yang tak terbelenggu. Ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Apalagi lebih terarah pada lain jenis. Adakah manfaat didalamnya ? Cuma mudhorat yang menyertainya. Ingat pada ancaman Alloh SWT : “Dan jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah : 120).

Kasih Sayang yang Sesungguhnya

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membanggakan diri.” (An-Nisaa’ : 36)

Kasih sayang (silaturahmi) merupakan kebutuhan bagi setiap umat. Pengungkapan rasa sayang tersebut tidak berpatok pada satu hari saja (14 Pebruari), tapi sepanjang masa hidup kita. Sentuhan kasih sayang jangan dikonotasikan pada satu obyek saja yaitu lain jenis. Cakupan kasih sayang (silaturahmi) sangatlah luas, terhadap teman, keluarga, saudara seiman, dll. Dimana makna kasih sayang yang sebenarnya adalah kelembutan perasaan yang mampu melahirkan sikap saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan kemanfaatan, menutupi aib saudara, bermurah hati, bermuka cerah dan tersenyum bila bertemu, hingga hati menjadi lapang dan menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama insan.

Kasih sayang yang terwujud dalam bentuk silaturahmi, tentu memberikan manfaat yang sangat besar bagi hidup. Trus.. gimana sih sebenarnya cara menumbuhkan rasa kasih dan sayang itu ?

Bersilaturahmi, dengan saling menyayangi dan mengunjungi, semata-mata karena mengharap ridho Alloh SWT. Tersenyum bila berjumpa, dengan senyum bisa melapangkan hati orang lain dan bernilai shodaqoh lho. Saling jabat tangan, tentu aja harus dengan sesama jenis. Kalaupun dengan lain jenis, haruslah dari golongan mahramnya. Bila melanggar syariat, bukan kasih sayang lagi hasilnya, tapi maksiat dan dosa. Abu Daud meriwayatkan “Tidak ada orang muslim yang apabila berjumpa (saudaranya) kemudian berjabat tangan, kecuali keduanya akan mendapat ampunan dosa sebelum mereka berpisah”. Memberi ucapan selamat, hal yang sepele bagi kita, tapi akan memberikan kesan khusus bagi penerima ucapan tersebut, terciptanya suasana senang dan hati yang lapang padanya. Memberi hadiah (oleh-oleh), seperti yg diriwayatkan Iman Jailani bahwa dengan hadiah akan mewariskna rasa cinta kasih dan menghilangkan kedengkian (kekotoran hati). Tentu semuanya diiringi dengan keikhlasan, tanpa mengharap balasan. Kalo niatnya mengharap balasan yg lebih wah, sama aja boong. Saling mendoakan, hal ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan ketenangan bagi keduanya. Bersikap lemah lembut.

So.. sobat Shahirah, gitu deh kasih sayang yang sesungguhnya. Insya Alloh ukhuwah kita akan tetap langgeng, kalo kita berpatok pada ke-8 hal di atas, hingga pahala dari Alloh tetap mengalir dan kebahagiaan serta ketenangan pun senantiasa mendampingi perjalanan hidup kita. Untuk itu.. yuk.. masing-masing kita senantiasa mendekatkan diri dengan orang-orang yang benar, orang-orang yang saling berkasih sayang semata-mata karena Alloh SWT.

***

Makanya jangan salah langkah lagi, selama ruh masih dikandung badan, tidak ada kata lambat untuk memperbaiki diri dan merenovasi hati. Yuk.. kembali ke jalan yang telah digariskan Alloh SWT buat kita, hingga kita bisa melangkah bersama dalam alunan nuansa Islam yang indah. Semoga Alloh melindungi kaum muslimin dari segala fitnah yang tampak ataupun yang tersembunyi dan membimbing langkah kita ke dalam Ridho-Nya. Amien. Amien Ya Robbal Alamin.

(Rojab Umar A)
dakwatuna-dakwah.blogspot.com

7 ciri orang sok tahu

Sok tahu' pada dasarnya adalah "merasa sudah cukup berpengetahuan" padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita 'sok tahu'? Mari kita mengambil hikmah dari Al-Qur'an. Ada beberapa ciri 'sok tahu' yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat al-'Alaq.

1. Enggan Membaca

Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui.

Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat.

2. Enggan Menulis

Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.

Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"?

3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan

Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah.

Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.

4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham

Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32)

Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah."

5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain

Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).

Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil."

6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat

Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli.

7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.

Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.
dakwatuna-dakwah.blogspot.com

sandal jepit dan peci

Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah terlelap. Sandal jepit yang berada di luar rumah menggigil kedinginan. Tak pernah sekalipun ia diajak masuk oleh si empunya. Dengan tubuh kotor penuh debu, kadang lumpur, ia selalu dibiarkan tergeletak di depan. Rupanya, keluhan itu sempat di dengar oleh Peci yang tergantung di paku di dinding ruang tamu. Melihat rekannya yang berada diluar, Peci hanya tersenyum penuh kemenangan dan pura-pura tertidur tak mempedulikan Sandal Jepit yang mulai menangis.

Dalam batinnya, Sandal berkata, sungguh enak menjadi Peci. Ia selalu ditempatkan diatas, dipakai atau tidak, tak pernah ia berada dibawah. Lain halnya dengan dirinya, dipakai terinjak-injak, tak dipakai tetap tersingkir di pojokkan, ditanah atau dilantai dingin. Setiap kali hendak digunakan, tuan pemilik selalu membersihkan Peci, tak satupun debu dibiarkan hinggap, dan sepulang diajak pergi, kembali dibersihkan dan diletakkan kembali ke tempat yang lebih terhormat, jika tidak diatas lemari, didalam lemari, diatas buffet, paling rendah tergantung di dinding. Berbeda dengan nasib Sandal Jepit, dipakai tak pernah dibersihkan, sepulangnya semakin tak dipedulikan sekotor apapun, mulai dari debu, sampai kotoran dengan aroma bau yang tak sedap.

Kalaupun diajak pergi, Sandal tak pernah ke tempat yang bersih, ke pasar, ke kebun, lapangan, atau ke toilet. Jelas saja, tuan pemilik akan lebih memilih sepatu atau sendal kulit untuk ke Mall, ke pesta, atau ke tempat-tempat yang memang bukan tempatnya Sandal berada disana. Tapi, Sandal juga dipakai jika tuan pemilik hendak ke Masjid. Entah ini penghormatan atau sebaliknya buat Sandal Jepit karena jika nanti di Masjid ia harus berpindah kaki dengan orang lain alias hilang, toh tuan pemilik hanya berpikir, ”Untung cuma Sandal Jepit”. Sedangkan Peci, selalu dipakai ke tempat kondangan, bahkan para pemimpin negeri, pejabat-pejabat penting negara ini wajib menggunakan Peci saat pelantikan dan acara-acara resmi, acara kehormatan kenegaraan.

Peci hampir tak pernah dipinjamkan kepada tuan yang lain, karena biasanya masing-masing sudah memiliki. Tapi Sandal, sekalipun ada beberapa, tak pernah ia diberikan kehormatan untuk mengabdi pada satu tuannya saja. Ia bisa dipakai tuan istri, tuan anak, atau juga pembantu. Tidak jarang, ia dipinjamkan juga ke tetangga, atau teman tuan anak. Kalaupun usang dan berubah warna, Peci biasanya tak pernah dibuang. Disimpan dalam kardus di gudang dengan rapih, atau paling mungkin diberikan kepada anak-anak yatim atau siapa saja yang membutuhkannya. Intinya, masih bernilai paskaguna. Sandal Jepit? Jelek sedikit diganti, apalagi kalau sudah putus talinya, tidak ada tempat yang paling pas kecuali tong sampah. Terkadang, ia juga harus merasakan kepedihan jika tubuhnya harus dipotong-potong untuk pengganti rem blong, atau dibuat ban mobil-mobilan mainan anak-anak.

Tapi Sandal tetap menyadari status dan perannya sebagai Sandal yang akan selalu terinjak-injak, kotor, dan tak pernah diatas. Sandal tak pernah iri dengan peran peci. Terlebih saat tuan pemilik berhadapan dengan Tuhannya, dan ditanya; “Mana dari dua barang milikmu yang paling sering kau gunakan, paling bermanfaat, Sandal Jepit atau Peci, yang akan kau bawa bersamamu ke surga?” Dengan mantap tuan pemilik menyebut Sandal Jepit jauh lebih memberikan manfaat baginya.

***

Saudaraku, tak penting apa status, peran dan fungsi Anda di dunia ini, karena Allah, Rasul dan manusia beriman tak melihat Anda dari pakaian yang dikenakan, jabatan yang tersemat, dan kehormatan yang disandang, tapi seberapa bermanfaatnya Anda bagi orang lain dengan status dan peran Anda tersebut. Jika demikian, bukan hal penting untuk mempertanyakan status dan jabatan penting apa yang akan kita sandang saat ini dan nanti, tetapi terpenting adalah mempertanyakan, seberapa bisa kita berbuat baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Wallahu ‘a’lam bishshowaab.
(Rojab umar A.)

Reuni

Reuni dengan teman-teman lama selalu bisa memberikan kejutan-kejutan, yang menyenangkan ataupun tidak. Apalagi setelah berpisah dua puluh tahun. Dalam sebuah reuni 'tanpa direncanakan' dengan teman-teman kuliah dua puluh tahun yang lalu berbagai cerita disampaikan oleh masing-masing. Setelah puas mengomentari penampilan fisik masing-masing," Kok berubah drastis? Kok 'panggah' saja? Dandy amat kamu sekarang, punya istri baru ya ? Rambutmu kamu taruh dimana? Badan melar gitu kok ya nekat pakai baju ketat" dan lain-lain. Dilanjutkan dengan bertanya bagaimana kabar masing-masing, berapa anak, bagaimana pekerjaan, dan lain-lain.

Percakapan dengan tidak terasa mengalir begitu saja.

"Piye kabarnya si Ina, ada yang tahu nggak?"

Tiba-tiba ada yang bertanya tentang seorang teman yang jadi 'bunga' kelas karena kecantikannya dan menjadi rebutan banyak 'kumbang' termasuk kami-kami ini.

"Lho, dia kan udah meninggal setahun yang lalu karena penyakit ginjal. Cukup lama lho dia menderita karena harus cuci darah seminggu dua kali. " Seseorang menyahut

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Diam-diam saya bersyukur nggak 'jadian' sama dia. Soalnya dia juga nggak mau sama saya sih!

"Eh, tahu nggak. Si Ani sekarang tinggal di Australia lho!"

"Lho kok bisa ? Apa suaminya disekolahkan lagi ?"

"Hi...hi..! Nggak tahu ya! Dia kan udah cerai dengan suaminya yang lalu dan lantas kawin sama bule Strali."

"Haa..?!

Saya tidak bisa menahan rasa terkejut saya. Bagaimana mungkin teman yang dianggap pasangan paling ideal waktu itu bisa cerai dan kemudian kawin dengan bule dan tinggal di Australi. (Lantas bagaimana dengan anak dan suaminya ya ? Padahal suaminya baik sekali lho!)

"Eh, tahu si Anu nggak.. dia sekarang udah jadi pejabat penting di Departemen Perhubungan. Kalau mau ketemu Menteri Perhubungan mesti lewat dia katanya."

"Ha..?! Anak 'lolak-lolok' gitu bisa jadi pejabat penting ?!"

Surprise. Padahal dulu saya 'meramal' teman yang satu ini bakal kesulitan dalam kariernya. Lha wong kemampuannya pas-pasan dan penampilannya 'ndeso' gitu. Tapi..nasib orang siapa tahu?

"Masih ingat si Ina ? Dia sekarang udah hampir menyelesaikan program Doktornya lho!

"Ha.?! Bagaimana bisa ? Dulu diakan hampir drop-out karena nilainya ancur-ancuran ?!

"Ya, setelah lulus ia lalu melamar jadi dosen di luar Jawa. Disana kariernya melaju dengan mulus.Ia sekarang jadi Ketua Jurusan"

Another surprise. hampir tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa teman yang satu ini akan berkarir jadi dosen. Bagaimana mungkin, sedangkan jadi mahasiswa saja dulunya dia kami anggap 'tidak layak' saking rendahnya prestasi akademisnya. Tapi sekarang... hampir menyelesaikan program doktornya. What a surprise!

Ternyata bukan hanya dia yang berkarir jadi dosen. Ada empat teman lainnya yang berkarir sama di berbagai PTN bergengsi di berbagai kota. Dan hampir semua dari mereka justru teman-teman yang tidak memiliki prestasi akademis!

Salah seorang diantaranya bahkan begitu pendiamnya sampai kami beri nama sebutan 'Gong', kalau tidak dipukul tidak berbunyi. Kok bisa-bisanya ia jadi dosen dan ngajar di depan kelas! Dunia memang penuh kejutan. Sejenak kami kemudian saling olok karena ternyata karier kami yang dulunya punya prestasi akademik lebih baik ternyata tidak secemerlang teman yang dulu kami anggap 'di bawah anjing' alias 'underdog' itu.

"Si Fulan gimana kabarnya ? Ada yang tahu, nggak" Si Fulan ini
'the brightest student' di angkatan kami dan merupakan kebanggaan kelas kami "Kasihan lho dia. Setelah keluar dari bank karena rasionalisasi dan bertahun-tahun ngak punya pekerjaan tetap sekarang dia terpaksa menerima pekerjaan ngajar mulai Subuh hingga Isya'"

"Ha.!"

Kami sejenak terpana membayangkan betapa nasib 'menelikung' teman yang 'bright' ini. Dulu rasanya kami semua yakin bahwa ia pasti akan memiliki masa depan yang cerah karena kepintarannya. Ia dengan mudah diterima bekerja di bank terkenal dan kariernya meroket. Terakhir ia menjabat sebagai kepala cabang dan kariernya amblas setelah bank tersebut kena likuidasi. Ia mencoba melamar ke bank-bank lain tapi prospek perbankan ternyata tidak bersahabat lagi dengannya. Dengan sisa-sisa tabungannya ia mencoba bertahan sampai akhirnya ia harus menyadari bahwa ia harus bekerja apa saja. Mengajar bahasa Inggris privat dan di sekolah-sekolah swasta mungkin adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

Seorang teman lain yang juga memiliki prestasi akademik tinggi ternyata nasibnya juga tidak bisa dikatakan cerah. Kariernya datar saja, termasuk kemampuan finansialnya. Ada juga seorang teman yang termasuk 'Top Gun' yang bekerja di BUMN dan memiliki karir cerah tapi mendapat masalah dalam kehidupan keluarganya.

Want to hear another surprise ? Seorang teman yang kami panggil 'Pak Kyai' saking alimnya ternyata kecantol dengan 'santri'nya dan membuat keluarganya berantakan. Padahal dulu dia selalu menasihati saya agar jangan mempemainkan hati wanita kalau dia lihat saya sudah mulai pedekate pada gadis lain. Dalam hati saya istighfar berkali-kali. Kok bisa ya.?!

Dua puluh tahun waktu berlalu dan begitu banyak peristiwa terjadi. Hidup memang penuh dengan kejutan yang tidak terduga. Saya masih juga sulit untuk mengerti bagaimana nasib bisa mempermainkan hidup kita.

Padahal dulu saya iri banget pada teman-teman yang 'sempurna'. Otak encer, tongkrongan yahud, duit berlimpah, pergaulan luas. Everything was so easy for them. Eh., kok ya sekarang di 'sliding tackle' sama nasib. Alhamdulilah nasib tidak turut 'menjegal' saya. Dalam banyak hal justru nasib saya lebih baik daripada teman-teman yang dulunya rodanya ada di atas. Ya, Allah! Jadikan hamba termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Amin!

rasanya baru kemarin 2

Rasanya baru kemarin pohon mangga di depan rumah kutanam. Saya mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda. Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan, memagarinya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap unggas yang berupaya memaruh daunnya.

Tapi, kemarin sore kami terpaksa menebang pohon mangga itu setelah sekian tahun tak lagi berbuah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi kurangkul. Masih bertengger di persimpangan dahan besarnya sebuah rumah kayu kecil yang dulu menjadi tempat saya membaca buku.

Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan senandung nina bobo atau sholawat nabi.

Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput, walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku menciumnya sebelum berangkat kerja.

Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian merah putih seragam Sekolah Dasar untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku. Masih terngiang sangat jelas di telinga ini makian ibu sepulang saya main bola lantaran tak terlebih dulu merapihkan seragam sekolah dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Atau karena kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya.

Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, saya mencium pipi ibu sebelum berangkat ke kantor meminta ridhanya. Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu ibu menangis bangga melihat anaknya di wisuda.

Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Padahal saat itu saya masih bercelana pendek warna biru setiap ke sekolah. Ada seorang teman wanita yang menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi partner belajarnya sehingga kami sering meraih ranking kelas bergantian.

Pagi menjelang subuh tadi, sebuah kecupan hangat dari istriku membangunkanku dari mimpi. Dan seperti biasa setiap minggu pagi saya mengajak dua putri cantik saya ke depan istana Bogor untuk melihat dan memberi makan rusa dari balik pagar besi istana itu. Jika masih tersisa waktu, kami sempatkan untuk beristirahat di kebun raya dan membiarkan dua peri cantik itu berlari ke sana kemari mengukur luasnya kebun.

Dan ini benar-benar, rasanya baru semalam seorang sahabat meneleponku dan berbincang lama tentang apapun. Seakan tak ada waktu lagi esok hari sehingga ia rela menghabiskan pulsanya untuk berjam-jam ngobrol denganku.

Pagi ini teleponku berdering. Di ujung telepon sana, seorang wanita menangis memberi kabar tentang kepergian suaminya menghadap Allah. Dan suaminya itu, sahabat yang semalam meneleponku.

Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok. Wallahu a’lam.

Bayu Gautama.
Mengenang seorang sahabat. “Rid, mungkin hari ini, besok atau lusa kita bertemu”

rasanya baru kemarin

Rasanya baru kemarin kita melantunkan do’a : "Allahumma bariklanaa fii rajab wa sya'ban, wa balighnaa ramadhaan...." "Yaa Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya'ban dan sampaikanlah usia kami menjumpai Ramadhan..." ketika mentari bulan Rajab mulai terbit. Memohon keberkahan di bulan Rajab dan mohon dipertemukan dengan bulan Ramadhan yang demikian mulia.

Baru kemarin pula rasanya, kami bersama anak membuat dan mewarnai tulisan sederhana namun penuh makna “MARHABAN YAA RAMADHAN, SYAHRUL MUBARAK” dengan suka cita, demi menyambut kedatangan Ramadhan yang kita rindukan kehadirannya.

Baru kemarin pula rasanya, kami berlari-lari di bawah gerimis kecil menuju masjid untuk mengikuti jama’ah sholat taraweh.

Baru kemarin pula rasanya, kami bersuka cita dengan muslim dari berbagai Negara ketika iftor bersama.

Namun kini………Ramadhan ternyata telah berlalu. Pergi meninggalkan kita tanpa bisa dicegah kepergiannya, dengan iringan tetesan air mata kesenduan dan penuh penyesalan, karena belum mampu memanfaatkan saat-saat mulia itu dengan sebaik-baiknya.

Tak terasa……waktu demikian cepat berlalu. Detik demi detik, menit demi menit, jam, hari, minggu, bulan. Sungguh Maha Benar Alloh yang sejak jauh hari telah memberikan peringatan kepada kita :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat- menasehati supaya menetapi kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran” (Q.S.Al-‘Ashr : 1-3).

Tiada hal yang tertinggal kecuali sebuah harapan, semoga Alloh berkenan menerima segala amal yang berhasil kita lakukan selama sebulan, mengampuni segala kesalahan dan kekhilafan, serta mempertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang dengan amal ibadah yang lebih baik dari Ramadhan yang telah berlalu.

Andai Ramadhan kemarin adalah Ramadhan terakhir bagi kita, semoga Alloh berkenan menghapus dosa-dosa kita, dan membimbing kita untuk menjalani sisa usia dengan penuh pengabdian pada-Nya.

Rabb…….
Sungguh…….kami ini bukanlah ahli surga,
Namun……kami tak sanggup pula bila harus tinggal di neraka,
Karenanya…….terimalah taubat kami,
Ampunkanlah dosa kami,
Dengan Rahmat-Mu dan kasih sayang-Mu,
Bimbinglah kami, agar sanggup menapaki jalan rahmat-Mu Dan menjauhi jalan maksiat kepada-Mu,
Aamiin.

Cuma Sekantong Gorengan

Seorang anak belasan tahun terduduk lemas di bawah pohon di pinggiran jalan. Matanya yang sayu tampak tengah mengamati antrian mobil di sepanjang jalan Wijaya, Jakarta Selatan. "Mobil-mobil mewah" pikirnya. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang entah apa yang dipikirkannya, namun yang kutahu pasti ia sangat lelah. Itu bisa bisa dilihat dari seikat sapu lidi yang bertengger bersama tubuhnya di pohon rindang, juga seonggok sampah dalam sebuah keranjang besar. Kutahu, ia seorang penyapu jalanan yang setiap pagi tak pernah absen mengukur jalanan kota.

Tak kuasa rasanya kaki ini terus melangkah tanpa berhenti menyapanya. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki-kaki ini untuk tak terus berlalu. Bukan, bukan mobil-mobil mewah itu yang membuatnya menerawang, aku yakin, itu hanya pelampiasan satu rasa yang sampai pagi ini ditahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

"Sudah makan dik?" sapaku dengan senyum yang kupaksakan semoga menjadi yang termanis agar ia tak merasa sungkan atau takut.

"Belum ..." Benar dugaanku. Tubuhnya bergerak sedikit bergeser semakin merapat dengan pohon, namun matanya terus mengira-ngira siapa gerangan yang menyapanya. "Ini, ambillah ..." sebungkus gorengan yang baru saja kubeli di Prapatan dekat lampu merah serta sebotol Aqua langsung menjadi miliknya. Seperti menggotong gunung terbesar di dunia rasanya jika aku terus mendekap makanan kecil tersebut tanpa peduli rasa lapar yang ditahan anak itu.

"Nggak ... nggak usah ..." duh, ingin sekali hati ini menangis. Sudah pasti kutahu ia sangat lapar, tapi kenapa masih menolak pemberianku. Hmm, mungkin senyumku kurang manis, atau bisa jadi ia masih menangkap kekurang-ikhlasanku menyerahkan sarapan pagiku kepadanya. Bisa saja, mata hatinya merasai beratnya tangan ini saat terhulur bersama bungkusanku. Bukan tidak mungkin ia mampu melihat lebih dalam niat yang tersembul bersamaan dengan uluran tangan ini, yakni sekedar ingin mendapatkan pujian atau perhatian dari sekeliling.

Ah tidak. Takkan kubiarkan itu terjadi. Kulatih wajah dan bibirku untuk bisa memancarkan senyum terindah yang menyejukkan. Kurangkai betul-betul kalimat yang semestinya keluar dari mulut ini agar tak menakutkannya lagi, dan kuayun-ayunkan tangan ini seperti senam kesegaran jasmani yang entah sudah berapa tahun tak pernah kulakukan lagi, agar tangan ini begitu ringan saat terhulur. Ahaaa ... hatiku berteriak, mungkin karena sudah lama aku tak melakukan senam, sehingga tangan ini semuanya menjadi kaku. Tapi ... bukan, bersedekah itu tidak ada kaitannya dengan rajin senam, olahraga, apalagi angkat berat. Berarti, untuk apa juga kulatih wajah dan bibirku tadi, dan bersusah payah merangkai kata layaknyak seorang pujangga tengah menyusun syair keagungan hanya sekedar untuk menyodorkan sedekah.

"Ayo ... ambil saja ..." kali ini benar-benar kuperbaiki senyumku, juga uluran tangan yang lebih ringan. Tentu saja tanpa melakukan latihan-latihan terlebih dahulu. Karena ini sekedar mengulang satu hal yang sudah lama tak kulakukan. Ya! ... hatiku berteriak lagi.

Kutemukan jawabannya. Masalahnya bukan soal wajah dan senyumku yang harus dipaksakan semanis-manisnya, atau sudah sekian lamanya tak bersenam tangan. Sesungguhnya, diri ini sudah lama tak merasai duduk bersama, makan bersama dan berbagi dengan mereka, anak-anak yatim, fakir miskin, orang-orang yang lemah. Tangan ini sudah lama tak terhulur untuk mereka, bahkan seringkali wajah dan pandangan ini berpaling dari hentakan-hentakan kaki lapar mereka, juga erangan penderitaan yang semestinya memekakkan telinga ini.

Kuulangi tawaranku, tapi kali ini sambil duduk disampingnya. Kalau saja pohon itu cukup untuk berbagi sandaran, tentu aku akan bersandar pula dengannya, sekedar untuk membuatnya nyaman, bahwa aku adalah dia, dia adalah bagian dari aku. Itu saja intinya. Untungnya, pohon itu terlalu kecil untuk tempat berbagi, karena sesungguhnya, saat ini aku tidak lebih membutuhkan sandaran itu. Cukuplah itu untuknya, aku tak ingin merebut lahan kesejukannya. Mungkin saja, selama ini hanya pohon itulah tempatnya bersandar, memperdengarkan keluhannya, menempelkan peluhnya, dan sesekali menjadi bantal tidurnya.

Ia sangat tahu, seandainya pohon itu memiliki tangan, pastilah kehangatan pelukannya senantiasa dirasai. Tapi bukankah Tangan-Tangan Allah bertebaran dimana-mana? Saya yakin, keyakinan itulah yang menjadikannya terus bersandar di pohon ciptaan Allah itu, karena ia tahu, kapanpun, dimanapun ia memasrahkan diri, Allah selalu disana. Bersama orang-orang yang lemah, memeluk anak-anak yatim, dan sangat dekat dengan fakir miskin. Tanganku masih terhulur. Ia tak segera menyambutnya. Hanya keraguan yang menyemburat dari wajahnya.

"Kalau saya ambil ini, mas makan apa?" Degg. Kali ini aku tak ingin menangis. Ingin sekali kupeluk dia. Aneh rasanya, di zaman seperti ini, saat banyak orang tak peduli lagi dengan kepentingan orang lainnya, diwaktu manusia yang satu menginjak manusia yang lainnya untuk kepentingan pemuasan perutnya sendiri, dikala semakin punahnya orang-orang yang mau memikirkan nasib orang lain. Eh, anak ini, yang aku ikhlaskan sarapan pagiku karena aku masih bisa membelinya lagi, malah berbalik memikirkan 'nasib'ku. "mas makan apa?" terbayang nggak sih ...

"Sudah ... saya bisa beli lagi. Ini buat adik," Senyum diwajahnya memancarkan rasa syukur yang tak tergambarkan, meski hanya sekantong gorengan dan sebotol Aqua. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut hangat tanganku.

"Aku yang berterima kasih sama kamu dik. Kalau kamu tidak menerimanya, entah kapan lagi kesempatan terbaik ini datang lagi kepadaku. Mungkin tangan ini akan semakin kaku sehingga semakin sulit terhulur. Wajah dan pandangan ini bahkan bukan lagi sekedar berpaling saat kehadiranmu, tapi justru tak lagi melihat meski tangismu bagai halilintar didepan hidungku. Kaki-kaki ini tak lagi berhenti untuk sekedar mencari tahu, apa yang tengah terjadi denganmu hari ini. Dan tak ada lagi senyum keikhlasan dari hati ini untuk bisa duduk bersama denganmu". Aku teruskan langkahku tanpa menoleh kebelakang, ungkapan rasa syukurku terus terngiang mengiringi kelegaan dada yang tiba-tiba saja kurasakan, entah karena apa.

Al-Balkhi dan Si Burung Pincang

Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. "Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?"

"Dalam perjalanan", jawab al-Balkhi, "aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan".

"Keanehan apa yang kamu maksud?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab al-Balkhi menceritakan, "aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. "Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".

"Tidak lama kemudian", lanjut al-Balkhi, "ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".

"Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.

"Maka aku pun berkesimpulan", jawab al-Balkhi seraya bergumam, "bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja". Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga".

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, "wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?"

Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, "wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik". Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: "Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud 'alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR. Bukhari).

Aku Tidak Akan Kembali

BELUM pernah Hisyam bin Yahya menemukan seseorang seperti Said bin Harits. Said adalah satu dari sekian banyak orang yang ikut berjihad ke negeri Rum—pada tahun 88 H. Pemuda itu kuat beribadah: puasa tiap hari, dan malamnya bangun salat malam. Jika sedang berjalan-jalan, ia membaca Alquran, dan bila sedang berdiam diri di kemah, ia membaca dzikir.

Tepat tengah malam, ketika rombongan itu sangat khawatir dari serangan musuh, Hisyam dan Said sama-sama berjaga. Malam itu memang giliran mereka. Pada waktu itu, benteng musuh telah terkurung. Ketika semalaman dilihatnya Said bin Harits beribadah, maka Hisyam pun menasihatinya, “Engkau harus mengistirahatkan badanmu. Sebab itu hak badanmu.”

Mendengar kata-kata itu, Said malah menangis. Ia menjawab, “Ini hanya beberapa nafas yang dapat dihitung dan umur yang akan habis serta hari akan segera berlalu. Sedang aku hanya menantikan maut dan berlomba menghadapi keluarnya ruh.”

Sungguh, Hisyam bin Yahya merasa sangat pilu. Ia tahu benar pemuda di hadapannya ini tak pernah berhenti melakukan hal-hal kebaikan. Bagi diri dan umatnya. Maka dengan hati yang pilu, ia berkata lagi, “Aku bersumpah dengan nama Allah. Masuklah engkau ke dalam kemah untuk istirahat.”

Maka Said pun masuk dan tidur. Sedang Hisyam duduk di luar kemah. Tiba-tiba Hisyam mendengar suara dalam kemah. Padahal selain Said, tiada orang lagi. Ketika Hisyam melihat ke dalam kemah, Said berkata, “Aku tidak suka kembali.”

Ia mengulurkan tangan kanannya. Dan ia melompat bangun dari tidurnya. Hisyam tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Ia segera mendekap pemuda itu sambil mendekapnya. “Ada apakah? Kenapa kau berkata begitu?” tanya Hisyam.

“Aku tidak akan memberitahukannya padamu,” jawab Said.

Hisyam bersumpah dengan nama Allah supaya Said memberitahukan hal itu padaanya. Said malah balik bertanya, “Apakah engkau berjanji tidak akan membuka rahasia itu selama hidupku?”

“Baiklah.”

Said menarik nafas. Sejurus kemudian, ia berkata, “Aku bermimpi, seolah telah tiba hari kiamat. Semua orang telah keluar menunggu panggilan Allah. Dalam keadaan itu tiba-tiba ada dua orang menghampiriku. Tiada orang yang sebagus kedua orang itu. Mereka menyalamiku dan mereka berkata kepadaku:

“Terimalah kabar baik. Allah telah mengampuni dosamu dan memuji usahamu. Allah menerima amal baik dan doamu. Karena itu, marilah pergi untuk kami perlihatkan kepadamu nikmat yang tersedia untukmu.”

Lalu, keduanya membawaku keluar dari tempat itu. Mereka menyediakan kuda yang tidak serupa dengan kuda-kuda yang ada di dunia, sebab larinya bagaikan kilat atau angin yang kencang. Dan akupun mengendarainya, sehingga sampai di gedung yang tinggi dan besar. Gedung itu tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, seakan-akan terbuat dari perak yang berkilatan. Ketika aku sampai di muka pintu, tiba-tiba pintu terbuka sebelum diketuk, lalu aku masuk dan melihat segala sesuatu yang tidak dapat disifatkan dan tergerak dalam hati. Dan bidadari-bidadari serta pelayan-pelayan sebanyak bintang di langit. Dan ketika mereka melihat aku, mereka bernyanyi-nyanyi dengan berbagai nyanyian. Seorang dari mereka berkata, “Itu kekasih Allah telah tiba, ucapkanlah selamat datang kepadanya.”

Sampai di situ, Said menghentikan ceritanya sejenak. Hisyam mendengarkan dengan saksama. Said pun melanjutkan, “Lalu aku berjalan hingga sampailah di ruangan tidur terbuat dari emas bertaburan permata, diliputi dengan kursi emas. Tiap-tiap kursi ada gadis yang tidak dapat disifatkan oleh manusia kecantikannya, dan di tengah-tengah mereka ada yang tinggi dan tercantik. Kedua orang yang membawaku berkata, ‘Itu keluargamu dan ini tempatmu.’ Kemudian mereka meninggalkannku. Lalu gadis-gadis itu datang kepadaku memberi sambutan dan mereka mendudukkan aku di tengah, di samping gadis yang cantik sambil berkata, ‘Itu istrimu.’

Aku bertanya kepadanya, "Dimanakah aku ketika itu?"

Dan ia menjawab, "Engkau di Jannatul Ma’wa".

Lalu aku bertanya "siapa dia?"

Ternyata ia adalah istriku yang kekal. Lalu aku ulurkan tanganku kepadanya, tetapi ditolak dengan halus sambil berkata, ‘Kini kamu harus kembali ke dunia dan tinggal tiga hari’. Nah, aku tidak suka itu. Hingga aku berkata, ‘Aku tidak suka kembali,” Said mengakhiri ceritanya.

Mendengar cerita itu, Hisyam tidak dapat menahan air mata. “Beruntung kau Said. Allah telah memperlihatkan pahala amal baikmu.”

Said malah bertanya, “Apakah ada orang lain yang melihat kejadian ini?”
“Tidak.”
Lalu ia berkata, “Tutuplah hal ini selama hidupku.”

Said berwudhu dan berminyak harum. Ia lalu mengambil senjatanya dan menuju ke medan perang sambil berpuasa. Hisyam tak hentinya mengagumi pemuda itu. Orang-orang banyak menceritakan kehebatan perjuangannya, belum pernah mereka melihat perjuangan sedemikian. Ia meletakkan dirinya dalam serangan musuh, dan mengatasinya.

Pada hari kedua, ia bertempur lebih hebat. Pada waktu malam, Said tetap melaksanakan salat dan bangun pagi untuk kembali maju ke medan perang. Pemuda itu tak hentinya menerapkan apa yang ia kerjakan malam dan siang hari. Sepanjang hari itu ia bertempur terus-menerus. Hingga tepat matahari terbenam, tibalah sebuah panah mengenai lehernya. Jatuhlah ia sebagai syahid. Hisyam tetap memperhatikannya, sedang orang-orang mengangkatnya.

“Bahagialah engkau, berbuka malam ini. Sekiranya aku bersamamu,” ujar Hisyam. Said mengginggit bibirnya sambil tersenyum, “Alhamdulillaahilladzi sadaqana wa’dahu,” kemudian dia mengingal dunia.

Saat itu, Hisyam berkata kepada orang-orang. “Hai sekalian orang, seperti inilah kita harus berlomba-lomba.”
Orang-orang pun semakin tahu bahwa Said telah mengorbankan waktu dan hidupnya untuk dakwah. Untuk sebuah perjuangan. Tidak ada istilah rugi untuknya. Ia berjuang untuk Allah. Walaupun harus berdarah-darah. Setiap malam, ia khusyuk bermunajat kepada Allah terus mendekatkan diri, meningkatkan kemampuan dan kekuatan dirinya. Siang, ia bertempur menghadapi musuh. Sepanjang malam, orang hanya menceritakan keadaan itu saja. (Saad Saefullah)

Akhirnya dia mati seperti keledai

Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.

Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!."

Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."

Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.

Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab. Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.

Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.

Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!."

Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?!!!.

(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)

Selasa, 10 Februari 2009

Dinda di Mana...

Penulis: Abu Aufa

Gelap masih menyelimuti lelap, bergelayut manja di pelupuk mata. Pulas, karena lelah lembur seharian mengalahkan dingin yang menelusup dari celah dinding. Hening, diselingi dengkuran halus yang silih berganti mengisi sunyi.

'Uwaaa... uwaaa...,' tangisan si kecil memecah sepi. Kaget ! Mata mengerjap, perasaan pun masih mengawang. Aah, si kecil ngompol rupanya. Popoknya sudah basah, pingin diganti.

'Ma... ma... si kecil ngompol nih,' berbisik perlahan, sambil tangan membangunkan istri yang tampak sangat lelah.

Uwaaa... uwaaa... lebih kencang. 'Ma, bangun dong digantiin dulu tuh popoknya!' lebih keras. Sedikit menggeliat, alhamdulillah... akhirnya bangun juga,

'Bibik...!!!' Lho???


*****


Terlalu lama tinggal di Perumahan Mertua Indah kadang membuat sebuah keluarga susah mandiri. Dari suami selaku kepala rumah tangga yang kadang sulit mengambil keputusan sendiri, atau istri yang tidak terlatih. Seiring bergulirnya waktu, syukurlah rezeki semakin bertambah, akhirnya ngontrak rumah. Gak terlalu besar, tapi cukup untuk sebuah pasangan muda.

Kebahagiaan pun semakin bertambah, si kecil lahir di sela-sela kesibukan kita yang sama-sama bekerja. Kesibukan istri di sebuah perusahaan swasta pun berganti dengan rutinitas seorang ibu muda. Cuti melahirkan selesai, ia balik lagi dengan kesibukan rapat dan kerja, maklum wanita karir.

'Pa, cari pembantu ya, masa' setiap hari harus nitip anak ke ibu,' pintanya suatu saat. Seorang perempuan berumur, yang selalu berjilbab panjang warna pudar itu akhirnya menetap di rumah.

'Bik, bisa tuh kerja dengan baju panjang seperti itu?' tanya istriku sangsi, di suatu hari. 'Insya Allah bisa Non,' sahutnya sopan.

Entahlah, mungkin karena sikapnya yang penuh santun, atau pekerjaan yang selalu beres membuat kami betah memperkerjakannya di rumah. Istriku pun senang, lalu semakin larut waktu demi waktu dengan kesibukan mengejar impian.


*****


Uwaaa... uwaaa... Kembali tangisan si kecil membuyarkan lamunanku, aah... dinda, dimanakah kau berada?

Kesibukan siang malam melarutkan kewajibanmu, duhai adinda. Entah apa yang engkau kejar, status atau kedudukan-kah? Rasanya sudah cukup rezeki dari gajiku selama ini, entahlah, mungkin kau akan malu dengan status ibu rumah tangga karena dirimu adalah seorang sarjana. Lulus dengan IPK tertinggi, pujian karena ketekunan dan kepintaran membuatmu semakin melupakan risalah mulia sebagai wanita.

Bukan... bukan aku melarang, karena syariat pun membolehkan, tapi tidakkah kau merasakan hausnya kasih sayang buah hati kita akan peluk cium seorang ibunda? Tidakkah kau ingin menjadikan dirimu madrasah sehingga kelak dari keluarga kita akan lahir jundullah? Betapa kubutuh dirimu dinda, marilah bersama mengayuh bahtera.


*****


'Mama pulang...!!!' teriak si kecil sambil berlari memeluk tubuh mamanya. Tampak binar kerinduan yang membuncah di mata, sambil tak lupa menagih oleh-oleh yang entah keberapa kali selalu diterimanya. Tak lama boneka Winnie The Pooh-pun dipeluknya, 'Ma kasih ma...' hanya sesaat, dan dengan langkah kecilnya kencang berlari ke dapur dengan raut wajah gembira.

'Bibik, dibeliin mama boneka!!!' teriaknya, sambil bergelayut manja. Tak lama bibir mungil itu bercerita dengan logat cadelnya tentang beruang madu dan sahabat-sahabatnya, berceloteh penuh semangat diselingi tawa kecilnya. Begitu mesra.

Deg!!!

Dari balik pintu sepasang mata memandang dengan sedih, tanpa sadar mata yang selalu penuh semangat saat memimpin rapat itu pun berkaca-kaca. Hatinya perih setiap kali adegan itu terjadi. Kelebat jeritan rintih menyeruak dari relung jiwa wanita muda tersebut, 'Ia anakku, bukan anak perempuan itu!!!' Pedih, batinnya menjerit.

Tubuh yang selalu bergelora mengejar impian itu mendadak ringkih, jiwa goncang, dan berbalik menatapku yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan. Wajah penuh airmata, melunturkan make-up yang selalu setia menghiasinya. Kupapah istriku tanpa berkata apa-apa. Mungkinkah do'a yang selama ini terhatur kepada-Nya akan segera terjawab?


*****


Uwaaa... uwaaa... Lho, dinda di mana? Aaah... ternyata ia belum juga berubah, buruk sangka. Apakah aku lupa kalau ia kembali ada rapat kerja?

Uwaaa... uwaaa... lebih kencang. Duh dinda, dimanakah kau berada?

Terdengar langkah tergopoh-gopoh menghampiri, 'Cup... cup sayang. Ini mama nih, maaf ya tadi lagi sholat malam.' Ia membungkuk, lalu mengangkat si kecil yang tadi terbangun karena mimpi ke dalam dekapannya, memeluk dengan selimut kasih sayang, menepuk-nepuk lembut punggungnya hingga si kecil pun kembali terlelap.

Aku menatapnya dengan bahagia, ia pun tersenyum di balik mukena, dan kulihat wajahnya begitu bercahaya.


*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*

Al-Hubb FiLLAH wa LiLLAH,

Apakah Mereka Tak Memperhatikan Unta?

Lima puluh lima derajat celcius adalah suhu yang membakar. Itulah cuaca panas di gurun pasir, daerah yang tampak tak bertepi dan terhampar luas hingga di kejauhan. Di sini terdapat badai pasir yang menelan apa saja yang dilaluinya, dan yang sangat mengganggu pernafasan.

Padang pasir berarti kematian yang tak terelakkan bagi seseorang tanpa pelindung yang terperangkap di dalamnya. Hanya kendaraan yang secara khusus dibuat untuk tujuan ini saja yang dapat bertahan dalam kondisi gurun ini.

Kendaraan apapun yang berjalan di kondisi yang panas menyengat di gurun pasir, harus didesain untuk mampu menahan panas dan terpaan badai pasir. Selain itu, ia harus mampu berjalan jauh, dengan sedikit bahan bakar dan sedikit air. Mesin yang paling mampu menahan kondisi sulit ini bukanlah kendaraan bermesin, melainkan seekor binatang, yakni unta.

Unta telah membantu manusia yang hidup di gurun pasir sepanjang sejarah, dan telah menjadi simbol bagi kehidupan di gurun pasir. Panas gurun pasir sungguh mematikan bagi makhluk lain. Selain sejumlah kecil serangga, reptil dan beberapa binatang kecil lainnya, tak ada binatang yang mampu hidup di sana. Unta adalah satu-satunya binatang besar yang dapat hidup di sana. Allah telah menciptakannya secara khusus untuk hidup di padang pasir, dan untuk melayani kehidupan manusia. Allah mengarahkan perhatian kita pada penciptaan unta dalam ayat berikut: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan. (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17)

Jika kita amati bagaimana unta diciptakan, kita akan menyaksikan bahwa setiap bagian terkecil darinya adalah keajaiban penciptaan. Yang sangat dibutuhkan pada kondisi panas membakar di gurun adalah minum, tapi sulit untuk menemukan air di sini. Menemukan sesuatu yang dapat dimakan di hamparan pasir tak bertepi juga tampak mustahil. Jadi, binatang yang hidup di sini harus mampu menahan lapar dan haus, dan unta telah diciptakan dengan kemampuan ini.

Unta dapat bertahan hidup hingga delapan hari pada suhu lima puluh derajat tanpa makan atau minum. Ketika unta yang mampu berjalan tanpa minum dalam waktu lama ini menemukan sumber air, ia akan menyimpannya. Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum; dan tempat penyimpanannya adalah punuk. Sekitar empat puluh kilogram lemak tersimpan di sini. Hal ini menjadikan unta mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makan apapun.

Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun sistem pencernaan pada unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit. Gigi dan mulut binatang ini telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah. Perutnya memiliki desain khusus sehingga cukup kuat mencerna hampir semua tumbuhan di gurun pasir.

Angin gurun yang muncul tiba-tiba biasanya menjadi pertanda kedatangan badai pasir. Butiran pasir menyesakkan napas dan membutakan mata. Tapi Allah telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada unta sehingga ia mampu bertahan terhadap kondisi sulit ini. Kelopak mata unta melindungi matanya dari dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga transparan atau tembus cahaya, sehingga unta tetap dapat melihat meskipun dengan mata tertutup. Bulu matanya yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam mata. Terdapat pula desain khusus pada hidung unta. Ketika badai pasir menerpa, ia menutup hidungnya dengan penutup khusus.

Salah satu bahaya terbesar bagi kendaraan yang berjalan di gurun pasir adalah terperosok ke dalam pasir. Tapi ini tidak terjadi pada unta, sekalipun ia membawa muatan seberat ratusan kilogram, karena kakinya diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya. Tubuh unta tertutupi rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam.

Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan; tapi unta memang terlahir demikian. Desain khusus ini memperlihatkan kesempurnaan penciptaan unta.

Marilah kita renungkan semua ciri unta yang telah kita saksikan. Sistem khusus yang memungkinkannya menahan haus, punuk yang memungkinkannya bepergian tanpa makan, struktur kaki yang menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, kelopak mata yang tembus cahaya, bulu mata yang melindungi matanya dari pasir, hidung yang dilengkapi desain khusus antibadai pasir, struktur mulut, bibir dan gigi yang memungkinkannya memakan duri dan tumbuhan gurun pasir, sistem pencernaan yang dapat mencerna hampir semua benda apapun, lapisan tebal khusus yang melindungi kulitnya dari pasir panas membakar, serta rambut permukaan kulit yang khusus dirancang untuk melindunginya dari panas dan dingin.

Tak satupun dari ini semua dapat dijelaskan oleh logika teori evolusi, dan kesemuanya ini menyatakan satu kebenaran yang nyata: Unta telah diciptakan secara khusus oleh Allah untuk hidup di padang pasir, dan untuk membantu kehidupan manusia di tempat ini.

Begitulah, kebesaran Allah dan keagungan ciptaan-Nya tampak nyata di segenap penjuru alam ini, dan Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Allah menyatakan hal ini dalam ayat Alquran: Sesungguhnya, Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. PengetahuanNya meliputi segala sesuatu. (QS. Thaahaa, 20:98)

Kematian yang Indah

Oleh : EH Kartanegara


Khalid bin Walid, panglima perang Islam semasa Rasulullah SAW, bercita-cita mati syahid di medan perang. Allah ternyata berkehendak lain. Pahlawan legendaris yang digelari Saifullah (pedang Allah) itu justru meninggal dalam kesendirian di kamarnya. Bagi kaum Muslimin, mati syahid dalam pertempuran melawan musuh-musuh Islam, memang, terasa gagah. Heroik dan dramatis. Mati syahid, mati saat berjihad membela kebenaran di jalan Allah dan demi memperoleh ridha Allah, bukan hanya kematian yang indah, tapi juga mulia; memenuhi janji Allah untuk hidup abadi di sisi-Nya.

Allah berfirman, ''Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.'' (Ali 'Imran ayat 169-170).

Itulah salah satu sebab mengapa banyak orang terpanggil untuk berjihad di jalan Allah dan bercita-cita mati syahid. Persoalannya, jihad itu bukan hanya berperang melawan musuh-musuh Islam seperti di zaman Khalid bin Walid dulu. Istilah jihad, tulis Dr M Quraish Shihab dalam Wawasan Alquran, sering disalahpahami atau dipersempit artinya.

Alquran mengisyaratkan jihad sebagai perjuangan melawan kebatilan. Sepanjang hayat manusia, bahkan sampai kiamat kelak, dituntut untuk berjuang melawan segala bentuk kebatilan. ''Al-jihad madhin ila yaum al-qiyamah.'' (jihad, perjuangan, terus berlanjut sampai hari kiamat). Jihad itu banyak bentuk dan macamnya. Begitu pula kebatilan. Jihad di jalan-Nya juga bukan hanya perang secara fisik melawan kebatilan yang berada di luar, tapi juga di dalam diri kita sendiri.

Dalam surat At-Taubah ayat 24, Allah berfirman, ''Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'.''

Ayat tersebut menunjukkan keutamaan berjihad di jalan Allah, seperti keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tak ada kata pedang, senjata, atau bau darah di dalamnya. Setiap Muslim, apa pun profesi dan pekerjaannya, yang menegakkan kebenaran demi Allah, punya kesempatan yang sama untuk berjihad.

Para pemberani yang kukuh dan teguh melawan kebatilan, kezaliman, dan kebiadaban seperti Munir (almarhum), misalnya, insya Allah, termasuk orang-orang yang lulus menempuh ujian, dengan segala kemampuan, kesabaran, dan ketabahannya. Jihad adalah cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Orang yang tahan uji seperti itu, kalaupun gugur di jalan Allah, ia menempuh kematian yang indah. Seperti kata Allah, ia tidak mati, bahkan hidup di sisi Allah dengan mendapat rezeki-Nya. Wallahu a'lam.

Orang Pilihan

Orang Pilihan



Allah dan rasul-Nya telah memberikan petunjuk yang tidak hanya menerangkan bagaimana kita harus beribadah, tetapi juga mencakup bagaimana kita semestinya bersikap dan hidup dalam kaitannya dengan hubungan antarsesama atau dalam bermuamalah, dan bahkan dengan lingkungan alam sekitarnya. Ini bukti kebenaran bahwa Islam merupakan ajaran agama dan sistem yang lengkap dan sempurna. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk melaksanakan Islam secara keseluruhan, tidak parsial. Allah berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.'' (QS 2: 208).

Salah satu ajaran tersebut adalah petunjuk bagaimana kita agar dapat menjadi orang-orang pilihan yang dapat membawa perbaikan dan manfaat bagi masyarakat dan umat Islam pada umumnya. Rasulullah menjelaskan petunjuk tersebut dalam sabdanya, ''Orang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang-orang yang mengingatkan kalian kepada Allah jika melihatnya, perkataannya menambah giat kalian untuk beramal, dan amalnya membuat kalian semakin mencintai akhirat.'' (HR Hakim dari Ibnu Umar).

Hadis tersebut secara gamblang menjelaskan kriteria orang-orang pilihan, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingatkan orang lain untuk beribadah dan memberikan contoh dalam kebaikan. Pendek kata, orang-orang pilihan adalah orang-orang yang senantiasa melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Dalam kaitan ini Allah berfirman, ''Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.'' (QS 3: 104).

Dalam ayat berikutnya Allah mempertegas, ''Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.'' (QS 3: 110).

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa setiap Muslim bisa menjadi orang-orang pilihan. Karena, tugas amar ma'ruf nahi munkar ini merupakan fitrah bagi umat Islam. Dan, dalam pelaksanaannya tidak hanya bisa dilakukan oleh setiap individu, tetapi tugas ini bisa dilaksanakan secara kolektif atau kelembagaan.

Contoh sederhana orang-orang Islam yang bekerja di lembaga sensor film, misalnya. Amar ma'ruf nahi munkar yang bisa mereka lakukan adalah dengan tidak meloloskan film-film yang tidak sesuai tuntunan dan nilai-nilai agama maupun norma masyarakat. Sabda Rasulullah SAW, ''Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak sanggup, maka dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.'' (HR Muslim). Wallahu a'lam bishawab.

Bahaya Kemunafikan

Bahaya Kemunafikan



Dalam surat al-Baqarah dikisahkan tentang tiga golongan manusia. Pertama, suatu golongan yang menerima ajaran Allah secara kaffah yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa. Kedua, golongan yang menolak ajaran Allah secara mutlak yang dikenal sebagai orang-orang kafir. Golongan ini tidak saja menolak tapi juga memusuhi Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Ketiga ialah golongan yang memiliki dua kepribadian, yakni berkepribadian Islam jika berada di tengah-tengah kaum muslimin, dan berkepribadian ingkar ketika sedang di antara orang-orang yang memusuhi Islam. Kelompok ini dinyatakan sebagai golongan orang-orang munafik. Meskipun ketiga jenis golongan tersebut selalu ada dalam setiap perkembangan sejarah kehidupan manusia, namun Al-Qur'an lebih banyak menceritakan golongan orang-orang munafik karena keberadaan mereka di dunia dianggap sangat berbahaya.

Ciri-ciri orang munafik tentu sangat bertentangan dengan sifat-sifat orang yang bertakwa. Fudhail bin 'Iyadh mengumpamakan orang yang bertakwa seperti orang yang menanam pohon kurma dan merasa takut akan tumbuh duri. Namun sebaliknya, orang munafik bagaikan orang yang menanam duri tapi mengharapkan tumbuh kurma. Orang yang bertakwa selalu beramal sembari merenungi dirinya dan merasa cemas jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Sedangkan orang munafik, sedikit beramal tetapi membanggakan amalnya yang sedikit itu.

Sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW, bahwa orang munafik mempunyai tiga ciri-ciri, yakni kalau berbicara berbohong, bila berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat. Apabila tiga ciri-ciri ini terdapat pada diri seseorang, maka dia itulah orang munafik. Sesungguhnya, tidak ada penyakit yang lebih berbahaya dari pada kemunafikan. Sebab kemunafikan adalah ibarat debu yang sangat lembut. Terbangnya tidak terlihat, namun tiba-tiba tampak menebal di atas benda yang ia hinggapi. Kemunafikan akan menutupi hati manusia, membuat titik-titik noda di dalamnya, sehingga ruang hati menjadi gelap. Pada gilirannya, hati menjadi sarang berbagai penyakit seperti sikap sombing, riya', ujub, dengki yang menyebabkan anugerah Allah menjadi sulit untuk diraih.

Kemunafikan merupakan puncak perbuatan dosa. Karenanya, membersihkan diri dari sifat kemunafikan menjadi suatu keniscayaan. Sebab ia dapat merusak, menjatuhkan dan menghancurkan agama. Seorang sufi mengatakan: seandainya dosa orang-orang munafik bisa tumbuh seperti tanaman di muka bumi, maka tidak ada tempat bagi seorang mukmin untuk berjalan oleh karena banyaknya dosa mereka. Maka itu, tidak ada tempat yang layak bagi orang-orang munafik kecuali neraka yang paling dasar. Na'udzubillah min dzalik!

Enterpreneur Berdoa

Penulis: Zidni T. Dinan

Pernahkah saudara mendengar sebuah hadist bagaimana cara melantunkan sebuah doa versi tiga orang yang terkurung dalam sebuah gua, saya ingin ceritakan kembali versi singkatnya.

Rasulullah pernah mengabarkan mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, mereka semua berada dalam keputusasaan hingga salah seorang dari mereka berkata, "Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dalam bahaya ini, kecuali bila kalian berdoa kepada Allah swt dengan menyebut amal-amal saleh yang pernah kalian perbuat. Kemudian salah seorang berdoa dengan menyebutkan amalan utamanya berupa memuliakan orang tuanya dibanding keperluan anak-anaknya sendiri, kemudian setelah dia uraikan amalannya dia berkata, "Ya Allah, jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa juga keluar. Kemudian orang kedua pun melanjutkan doanya yang berkaitan dengan amalan utamanya berupa menghindari diri dari perbuatan zina karena takut kepada Allah, dan dia berdoa, "Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu. Tapi mereka belum juga bisa keluar, maka orang ketiga pun melanjutkan doanya mengenai amalan utamanya berupa menjaga amanat harta orang lain yang dikelolanya, dan dia berdoa, "Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari gua itu. (HR Bukhari dan Muslim).

Dan pernahkah juga saudara mendengar ataupun membaca bagaimana Rasulullah melantunkan doa di kala sangat kritis sewaktu berkecamuknya perang Badar? Saya akan coba menguraikan kembali kisahnya secara singkat.

Kala itu setelah meluruskan barisan pasukan kaum muslimin, Rasulullah kembali ke tendanya dengan ditemani oleh Abu Bakar, dan tidak ada seorang pun kecuali keduanya. Lalu Rasulullah bermunajat kepada Rabb-Nya, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan-Nya, begitu dalam ia hanyut dalam doa.

Dalam permohonannya ia berkata, "Allahumma Ya Allah, ini bangsa quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha untuk mendustakan rasul-Mu. Ya Allah, berilah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kaum kami pada hari ini, tiada lagi yang akan menyembah-Mu."

Sementara ia hanyut dalam doa sambil merentangkan tangan menghadap kiblat, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar menyaksikannya lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah, sambil ia berkata, "Wahai Nabi Allah, dengan doamu itu, sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu."

Tetapi sungguh pun begitu, Muhammad semakin dalam terbawa dalam aliran doa, dengan penuh ke-tawadhu-an dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan pertolongan Tuhan-Nya dalam menghadapi peristiwa yang genting, yang oleh kaum muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk pertempuran itu pula mereka tidak memiliki persiapan.

Hingga karena letihnya dalam berdoa membuat Rasul tertidur, beberapa saat kemudian beliau terbangun dengan rasa gembira, dan bersabda, "Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dan gigi di depannya terdapat kematian."

Kemudian ia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dikerahkannya semangat sambil berkata:

"Demi Dia yang memegang jiwa Muhammad, setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di surga."

Beberapa waktu lalu saya bertemu rekan lama, dia seorang pengusaha, kulihat sekarang kondisinya lumayan lah, mungkin bisnis yang dikelolanya cukup berhasil.

"Alhamdulillah", gumamku.

Saya ingat beberapa tahun silam dia pernah mengalami suatu ujian yang berat atas perusahaan yang dikelolanya, saat itu sering beliau mencurahkan isi hatinya kepadaku dan menceritakan beratnya ujian yang dialaminya, setelah setumpuk ikhtiar dilakukan, bisnisnya tak kunjung mendapatkan tanda-tanda akan selamat dari kebangkrutan, dan bukan saja bangkrut, bahkan akan terjerat hutang usaha yang sangat besar, dia katakan sekitar puluhan milyar siap untuk menjerat lehernya.

Bukan saja sisi nominal yang membuatnya sesak, tak kalah beratnya yang menjadi beban adalah tanggungan puluhan karyawan yang berada di perusahaannya, intinya menurut beliau pada saat itu adalah masa yang sangat mengguncang jiwanya, makan tak enak, tidur tak lelap, dan segala yang tak enak lainnya menghampiri beliau.

Yang kutahu, di sisi yang lain usaha beliau bukan saja terkait pada sektor bisnis, tetapi beliau juga aktif dalam melakukan pembinaan usaha berupa pesantren di suatu desa terpencil, pesantren tersebut tumbuh secara sehat, santrinya sekitar lima ratusan, tetapi jenis usahanya adalah nirlaba, atau tidak dikenakan biaya apa pun terhadap santri yang sekolah di pesantren tersebut.

"Usaha pesantren ini untuk cash flow langit", begitu ujarnya setiap kali saya tanyakan kenapa dia serius sekali mengelola usaha nirlaba ini.

Saya menjadi penasaran dan tercetus keingintahuan bagaimana caranya dia menyelesaikan masalah usahanya pada tahun-tahun silam. Karena saya melihat kondisi saat ini jauh berubah, lebih sukses bila dibandingkan pada saat itu.

Beberapa kali kupancing serentetan pertanyaan dari ketidaksabaranku, barulah ia bersedia untuk menceritakan kisahnya ...

Ya kawan karibku, tiada satu kekuatan yang dapat membantuku saat itu kecuali kekuatan Allah, tiada yang maha pengasih kecuali Allah pula, Dialah yang memberikan jawaban dan jalan keluar kepadaku. Kami ini makhluk yang sangat lemah dan hina, dan Dia lah Maha Kuat dan Maha Kaya. Tiadalah kejadian itu terjadi kecuali menambah kualitas keimanan kami, kami merasakan kasih sayang dan cinta-Nya.

Engkaupun tahu masalah yang kami hadapi saat itu, penuh dengan kesukaran, hati terasa sempit, kami ditinggalkan pula oleh kawan-kawan, tiada pihak yang ingin meringankan masalah kami saat itu, semua pihak menekan, menekan dan menekan setiap waktu.

Pada saat usaha kami jatuh, tiada akal lagi untuk mencari apa peluang pengganti usaha kami ini agar bisa melunasi hutang usaha yang berjumlah milyaran itu, sama sekali tidak ada ide, tertutup. Walaupun demikian kami tetap melakukan berbagai ikhtiar mencari solusinya, hingga sampai pada suatu waktu kami pasrah terhadap apapun keputusan-Nya.

Sering kali kami lantunkan doa untuk diberikan jalan keluar atau yang terbaik bagi kami, bahkan ribuan kali kami berdoa, bukan saja di saat sholat, bahkan dalam perjalanan pun tak lupa kami berdoa kepadanya, intinya lidah dan bibir kami basah dengan doa dan pujian.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan sekian bulan berlalu dalam kondisi tak menentu. Lalu sampailah pada satu saat aku berdoa di malam hari di tengah semua orang tertidur lelap, bersimpuh dan berdoa kepada-Nya, aku hanya ingat beberapa hadist dan kisah Kekasihku dalam melantunkan doa-doanya. Kemudian dia bercerita mengenai dua kisah di atas.

Aku coba ikuti cara Kekasihku, Muhammad, dalam berdoa pada saat-saat yang genting, dan kusesuaikan redaksi doanya dengan kondisiku.

"Ya Allah, Engkau Maha Tahu kondisi kami ini, kami sedang dibebani masalah, dan Engkau tahu pula bahwa dari hasil usaha yang kami upayakan kami kelola pula sebuah usaha pesantren, Engkau tahu kami tidak memungut biaya apapun pada mereka."

Jika memang amal ibadah tersebut kami lakukan hanya untuk meraih keridhoan-Mu, mohon Ya Allah berilah jalan keluar untuk kami.

Ya Allah, kami khawatir jika engkau tidak membantu hamba-Mu ini, kami khawatir keberlangsungan pesantren kami terhenti, akan ke mana perginya santri-santri tersebut.

Ya Allah, aku sayang mereka, kami iba dengan wajah mereka, curahkan kasih sayang-Mu pada mereka, dengan menolong usaha kami Ya Allah.

Engkaulah yang Maha Mengetahui hati hati kami, ikhlaskanlah hati kami, dan lapangkan hati kami apapun yang engkau putuskan, dan kami yakin apapun keputusan-Mu adalah yang terbaik bagi kami.

Tak kusangka doanya tersebut membuat jiwaku bergetar dan tak kuasa emosiku terlibat, nyaris kupeluk sahabatku itu, luar biasa makna dari doa tersebut.

Kemudian dia lanjutkan kembali, "Setelah kulantunkan doa tersebut, tak kusangka dalam waktu yang sangat singkat kasih sayang-Nya telah membuka sebuah jalan keluar yang tidak terduga, ibarat pintu gua yang tidak mungkin terbuka dalam kisah yang kuceritakan itu dengan izin-Nya menjadi terbuka".

Sambil menahan emosi, ia melanjutkan, "Tiba-tiba seorang relasi kami menawarkan suatu bisnis yang terbilang besar yang tidak pernah tersentuh oleh perusahaanku, bahkan bisnis tersebut di luar kapasitas secara materi maupun keahlian yang kami punya. Kala itu kami pikir bahwa peluang bisnis tersebut pastilah sudah diatur pemenangnya, paling-paling kalau ikut partisipasi juga, ya paling tidak hanyalah mengarak pemenangnya saja.

Saat itu, benar-benar aku tidak tertarik untuk memprosesnya. Kudiamkan saja. Tapi peluang itu datang lagi, datang lagi dan hadir kembali. Karena sering kali peluang yang sama itu selalu hadir, kucoba beranikan diri untuk memprosesnya.

Apa yang terjadi selanjutnya sungguh ku tak pernah menduganya. Kami mendapati ribuan kemudahan, kami memperoleh proyek tersebut dengan mudah, karena hanya perusahaan kami yang mengajukan proposal tender tersebut dan tidak ada pesaing sama sekali!

Ke mana para competitor yang besar? Ke mana mereka semuanya? Muncul keanehanku saat itu.

Bila Dia memutuskan sesuatu, tidak ada pihak pun yang akan mampu menghambat-Nya! Ini semuanya kemudahan dari-Nya, Dia permudah seluruh proses tersebut. Dan dalam jangka waktu yang singkat kami mendapati keuntungan tiga kali dari jumlah hutang kami! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Begitulah dia menceritakannya dengan penuh keharuan.

Selanjutnya kutahu, temanku itu menjadi orang yang selalu bersyukur dan dia yakin sekali bahwa pesantren tersebut telah menjadi amal andalan yang telah menjadi perantara doanya.

Kabar terakhir yang kuterima, pesantren tersebut menjadi semakin besar dan megah walaupun para santrinya tidak pernah terbebani oleh biaya apapun.

Nah, bagi para enterpreneur, tidak selamanya masa-masa menyenangkan hadir dari kehidupan seorang pengusaha, adakalanya masalah yang banyak terjadi justru sebuah ujian yang tidaklah ringan. Keberhasilan itu hadir setelah melewati masa masa sulit. Bukankah layangan akan terbang tinggi bilamana ada angin yang menerpanya?

Atau mungkin, bagi seorang pengusaha, janganlah berpikir hanya mengembangkan usaha untuk meraih keuntungan materi saja, tetapi cobalah mulai dipikirkan sebuah usaha alternatif yang bermanfaat buat orang banyak, yang akan dijadikan cash flow langitnya. Bisa saja usaha-usaha tersebut akan dan telah menjadi amalan andalan, yang bilamana kita terhimpit suatu masalah ataupun ujian yang berat, bisa dijadikan perantara atau tawasul untuk permohonan doa kita kepada Allah.

Terakhir, selamat berdoa. Allah Maha Mendengar rintihan hamba-hamba-Nya

Mengejar Kebahagiaan Hakiki*

Penulis: Diana Mardihayati (dianam@softhome.net)


“Kamu serius mau berhenti kerja? Suamimu sudah kaya ya?”

Degg! Kaget, heran, sedih, terhenyak, semua perasaanku bercampur baur. Tak menyangka ucapan kasar itu muncul dari mulut kolega kerjaku, mbak X (sebut saja demikian) yang selama ini boleh dikata merupakan dosen yang khusus kubantu dalam penanganan tes massal di kampusku. Kata tak santun dari mulut seseorang yang berpendidikan tinggi, kaum terpelajar!

Dengan muka ungu menahan amarah yang coba kupendam, kutelusuri wajah ayunya. Sama sekali tak bergeming dari rautnya yang tegang. Kami sama-sama membara. Sedetik berlalu, kutinggalkan ia. 'Time-out' sekaligus menurunkan ketegangan emosi yang memenuhi dada masing-masing.

Hari ini seolah memang bukan hari indahku. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja segala problema yang selama ini berusaha sekuat tenaga aku pendam, termuntahkan, dan ditambah dengan ucapan spontanku untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai dosen fakultas psikologi. Aku lelah, lelah mental terutama. Ibarat aku menetap di dalam rumah tanpa jendela dan cahaya, pemberontakanku mencapai titik klimaks. Aku ingin bebas dari situasi ini. Bebas, BEBAS! Biarlah orang bicara apa saja, asalkan aku bebas....


*******


Menjadi dosen adalah pilihan karirku, cita-citaku. Mungkin karena aku dibesarkan dalam keluarga guru, dan budaya membaca demikian kental dan mengasyikkan. Dedikasi tinggi dari bapak dan ibu terhadap pekerjaannya, begitu memukau pesona. Bahwa ilmu yang diajarkan insya Allah takkan berhenti di satu terminal, namun akan terus mengalir dan mengalir beserta pahalanya. Jadilah aku menggapai asaku, memenuhi harapan orang tuaku, sekaligus menobatkan predikat psikolog di bahuku.

Semula segalanya berjalan baik-baik saja. Menikah, dan kemudian lahirlah putri sulungku, Kuni. Kami pindah ke daerah Cimanggis, dengan memboyong serta Yu Ri'ah. Masalah mulai muncul ketika ia ternyata tidak kembali lagi dari kampungnya setelah lebaran usai. Aku tak kunjung mendapatkan penggantinya yang memadai. Jujur saja, mungkin standar dan tuntutan terhadap calon khadimat terlalu tinggi dan ideal. Bagaimana tidak, dia haruslah seorang yang sabar dan ngemong terhadap anakku. Terus-terang, agaknya ini dipicu oleh pengalaman mengamati anak-anak tetangga baruku di perumahan itu yang kebanyakan nakal dan diasuh oleh pembantu, sementara sang ibu bekerja seharian penuh di kantor. Tentu sulit mencari khadimat yang sempurna sesuai gambaranku kala itu. Beberapa kali aku mendapat khadimat baru, hanya bertahan sebentar, dengan beraneka ragam kendala dan hambatan.

Begitulah, akhirnya aku tidak punya pilihan lain kecuali selalu membawa anakku ke kampus. Kuni yang saat itu baru berusia satu tahun selama hampir setahun lamanya kubawa-bawa selama aku mengajar. Ia ikut ke kelas, ikut membaca di perpustakaan bagian, atau bahkan ikut rapat rutin seminggu sekali setiap hari Kamis. Yang sering terjadi adalah ia kelelahan menanti mamanya bekerja, hingga kadang-kadang tertidur di bilik shalat. Sementara aku terpaksa tidak dapat lagi ikut terlibat dalam kegiatan pelatihan siswa SMU/STM yang rutin diadakan Bagianku.

Kucoba menutup telinga atas komentar teman-teman dosenku, namun lama-kelamaan aku menyadari bahwa itu sangatlah tidak adil buat mereka. Perlahan-lahan keadaan ini membuka celah mata hatiku. Meresahkanku, mengusik hati nuraniku. Ya Rabb, apa yang sebenarnya kucari selama ini? Mencari materi alias uang sebanyak-banyaknya? Mempertahankan gengsi karena berhasil menjadi dosen di kampus negeri yang ternama seantero Indonesia dalam usia muda? Setimpalkah semua itu dengan pengorbanan anakku yang masih belia? Bukankah seharusnya terbalik, akulah yang semestinya berkorban untuknya, untuk kehidupannya, demi kebahagiannnya? Bukankah itu esensi terindah dari seorang ibu? Bukan, atau iya? Bagaimana dengan sabda Rasulullah SAW bahwa surga di bawah telapak kaki ibu? Namun telapak kaki ibu yang bagaimana? Rasanya aku bukan kategori ibu demikian. Astaghfirullah, astaghfirullah....

Sejuta pertanyaan bertalu-talu, sama layaknya sejuta jawab beterbangan di isi kepalaku. Pusing, bingung, frustrasi, seolah kaki tak tahu harus melangkah ke mana. Sungguh suatu ironi seorang psikolog tak mampu mencari jawab atas problema hidupnya sendiri. Setiap bertanya kepada teman sejawat, fokus mereka selalu berlabuh pada karir dan karir. Anak bisa dititipkan kepada ibu atau mertua, carilah pembantu dari yayasan, kalau perlu dua orang, kamu harus bisa menyiasati keadaan, dan bla bla, bla.... Semua itu bagiku tidak memberi jalan keluar karena bertentangan dengan prinsip hidupku dan suamiku. Bagi kami, anak identik dengan amanah yang perlu dan harus dipertanggungjawabkan. Lalu di mana tanggung jawab kami bila amanah itu dengan seenaknya dititipkan, terlebih pada ibu dan ibu mertua yang kebetulan masih aktif bekerja? Apakah itu justru bukan saat yang tepat untuk beristirahat bagi ibu-ibu kami yang sudah berusia paruh baya?

Saat itu kuteringat dengan firman-Nya dalam Al Qur'an surat Al Baqarah : 286, ”Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya...”. Apakah ini menyiratkan agar aku bersegera bertindak atas lingkaran setan problemku? Namun jauh di permukaan, entah mengapa, aku masih saja terjebak dalam dilema, hati ini masih berbolak-balik, antara keinginan untuk mencoba bertahan atas karirku yang susah payah kubangun semenjak masih kuliah, berhasil menjadi lulusan terbaik, bahkan menjadi wakil teman-teman saat menerima ucapan selamat dari Bapak Rektor, kesadaran akan potensi diri yang begitu besar, dengan beratnya hati untuk berkonsentrasi penuh menjadi ibu rumah tangga. Keraguan itu masih saja mendera-dera kalbu dan menjebak dalam situasi tak pasti.

Ketika hati ini masih digayuti pertanyaan-pertanyaan itu, seorang teman datang menghampiri. Ia dosen muda dari Bagian/Jurusan yang berbeda. Kebetulan ia beragama nasrani. Meski begitu, selama ini kami cukup dekat berkawan. Setelah mendengar keluh-kesahku, tuturannya yang bernas masih segar terngiang-ngiang di telingaku.

“Din, aku ikut prihatin dengan problemmu. Tapi cobalah tanya pada hati nuranimu sendiri, apa yang menjadi kebahagiaan hakikimu? Kebahagiaanmu yang sebenar-benarnya? Orang tentu boleh bicara atau berpendapat apa saja, itu hak mereka. Tapi kamulah yang mengambil keputusan, bukan mereka.”

Saat itu, ucapannya benar-benar meruapkan pencerahan bagiku. Tak peduli ia seorang nasrani, tapi tutur katanya seolah air dingin yang menyejukkan hati dan menyadarkanku bahwa selama ini aku buta, dibutakan oleh segala sesuatu yang maya dan hanya fatamorgana semata. Alangkah nista, cita-citaku begitu duniawi, sementara aku, seorang wanita yang telah menikah, berkeluarga, dan mempunyai anak, telah nyata-nyata menyisihkan kebahagiaan hakiki itu. Aku lupa menyandarkan dan memasrahkan segala yang kumiliki pada-Nya. Tentu saja Dia tidak meridhoi jalanku, karena aku telah buta arah.

Ketika kemudian di rumah aku merenung dalam malam yang tenang seusai shalat istikharah, fragmen-fragmen kehidupanku seolah berputar ulang. Saat aku tergopoh-gopoh pergi bersiap ke kampus, sementara anakku justru dibuai kantuk; saat hujan meluluhlantakkan jemuran bajuku; saat aku tergesa memasak dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan bahkan sering marah kepada putri kecilku; atau tatkala aku setengah memaksa mengerjakan tugas mengoreksi laporan tes mahasiswa di malam buta, sementara mata dan tubuhku ingin sekali terpejam dan berbaring. Ah, semua sama sekali tidak terfokus, tidak maksimal. Tak satupun yang 100% bisa dipenuhi dengan gemilang. Benar-benar mengecewakan! Dan akhirnya, shalat dan ibadah kepada-Nya hanyalah sebatas ritual saja. Entah sudah berapa lama kuabaikan hak-hak Sang Khalik, hak-hak orang tercinta di sekelilingku. Oh Gusti, aku sudah menzhalimi mereka. Aku menangis dan terus beristighfar menyebut asma-Nya.

Kusadari sepenuhnya, aku tidak bisa bertahan pada situasi buruk ini. Dan kuyakin sudah digariskan oleh Allah SWT pada tahun berikutnya kami (aku dan suami) pergi haji. Kelihatannya Dia ingin memberi waktu lapang untukku merenungkan kembali dan introspeksi atas segala perbuatanku, komitmenku terhadap-Nya. Alhamdulillah, meski sempat dibujukrayu dengan iming-iming dari pihak fakultas, sepulang dari perjalanan ibadah itu, justru tekadku untuk mengundurkan diri dan total berkarir di rumah sebagai ibu rumah tangga semakin bulat dan mantap. Meski hingga detik ini aku masih belajar dan terus belajar menjadi ibu dan istri yang baik dan jauh dari sempurna, kesempatan itu selalu terbuka luas untukku. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan peluang yang mungkin hanya sekali terbentang seumur hidupku.


Cimanggis, 16 April 2003


Demi masa
Sesungguhnya manusia kerugian...
Ingat lima perkara sebelum lima perkara...
Hidup sebelum mati

(petikan syair lagu Raihan, 'DEMI MASA')

Multilevel Kebaikan

Penulis: Bayu Gautama

Ada teman yang pernah bertanya, "apa sih yang membuat kamu senang membantu orang lain?"

Saya berikan dia dua jawaban, pertama, karena Allah senang dengan orang-orang yang suka membantu saudaranya. Allah akan memberikan kemudahan bagi orang yang memudahkan orang lain. Kedua, saya berjanji kepada seseorang untuk terus berbuat baik membantu orang lain.

"Seseorang ...?" teman saya makin bingung.

Baiklah, saya akan perjelas. Beberapa tahun lalu saya pernah berada dalam kesulitan keuangan. Kuliah saya terancam berantakan karena saya tak mampu mengumpulkan uang kuliah dari sisa-sisa gaji saya yang memang kecil. Saya nyaris putus asa dan berpikir akan mengakhiri kuliah saya dan berhenti di tingkat dua saja. Biarlah tinggal mimpi, pikir saya.

Disaat kebingungan dan putus asa melanda itulah, ada seorang sahabat yang datang menanyakan kabar saya dan juga studi saya. Karena kami biasa berterus terang tentang segala hal, saya katakan kondisi saya baik-baik saja. Tapi kuliah saya yang terancam gagal. Mendengar pengakuan saya, sahabat tersebut kemudian menawarkan bantuan sejumlah uang untuk membayar uang kuliah saya yang tertunggak.

Tanpa basa-basi, saya langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir terlebih dulu bagaimana nanti menggantinya.

Di akhir semester empat, saya sempat bertanya kepadanya perihal bantuan yang diberikan kepada saya. Ada yang membuat saya heran dengan jawabannya, "Saya hanya berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain"

Kemudian ia memperjelas, Ia pernah mendapati ibunya yang sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Namun tak sepeser pun uang yang ia dan anggota keluarga lainnya miliki saat itu. demi kesembuhan ibunya, ia nekat menghubungi satu persatu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa membantu biaya pengobatan. Hingga akhirnya, ada seorang sahabat lamanya yang dengan cuma-cuma membiayai seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan sang ibu.

Terheran sahabat itu bertanya, "Kenapa kamu mau membantu saya?"

Jawabnya, "Karena saya telah berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain"

Menurut cerita sahabat saya, sahabat lamanya itu pernah pula mendapati kesulitan dalam hidupnya. Ia hampir tak tahu kemana lagi meminta bantuan hingga ia bertemu dengan seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Setelah berterus terang, orang tak dikenal itu pun memberikan apa yang dibutuhkan sahabat lama itu. kepada orang itu ia bertanya, "Anda sebelumnya tidak mengenal saya, kenapa Anda mau membantu saya?"

Anda sudah bisa menduga jawabnya bukan? Tapi ada pertanyaan kedua dari sahabat lama sahabat saya itu, "Bagaimana saya mengganti kebaikan Anda ini?"

Orang tak dikenal itu menjawab, "Berjanjilah untuk melakukan banyak hal untuk membantu kesulitan orang lain. Itu lebih baik nilainya daripada mengganti apa yang telah saya berikan"

Begitulah seterusnya hingga saya tak pernah tahu siapa yang pertama kali menyulam jaringan amal kebaikan ini. Sungguh, saya tak pernah tahu. Hanya saja yang pasti akan saya lakukan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain, saya akan berkata, "Berjanjilah untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap orang lain yang membutuhkan".

Sang Khalifah

Penulis: Ihdina Sukma Dewi

Puluhan abad yang lalu, ada sebuah ekspedisi yang melibatkan belasan kapal layar dan ratusan orang. Ekspedisi ini bertujuan untuk mencari daratan baru yang subur dan menjanjikan karena tempat yang mereka huni sekarang sudah tidak menjanjikan apa-apa lagi untuk membangun sebuah kehidupan. Ekspedisi ini dipimpin oleh seseorang diantara mereka yang mereka percayai, karena selain handal, ia juga arif bijaksana.

Setelah belasan bulan mengarungi lautan, akhirnya mereka tiba di sebuah daratan yang subur serta menjanjikan, tepat seperti apa yang selama ini mereka impikan. Hanya saja, daratan baru tersebut masih terlalu liar karena belum pernah dihuni sebelumnya. Hal ini menimbulkan keragu-raguan di hati para peserta ekspedisi tersebut apakah mereka mampu untuk menaklukkan daratan baru tersebut dan membangun sebuah kehidupan seperti apa yang selama ini telah mereka impikan. Keraguan tersebut semakin kuat mengingat betapa berat perjuangan yang harus mereka lakukan karena segala sesuatunya harus dimulai dari awal kembali.

Pada suatu malam, ketika para peserta ekspedisi tersebut tengah terlelap tidur di tenda-tenda mereka, pemimpin ekspedisi itu membakar habis seluruh kapal yang mereka gunakan untuk berlayar. Para peserta ekspedisi tersebut terjaga dari tidurnya dan terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Dengan perasaan marah, mereka menghampiri pemimpin ekspedisi tersebut. Mereka bukan hanya marah, tetapi juga kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh sang pemimpin yang mereka percayai tersebut. Mereka bertanya mengapa sang pemimpin tersebut begitu tega membakar musnah kapal-kapal mereka. Dengan penuh kearifan pemimpin ekspedisi itu menjawab, "Keragu-raguan di hati kalianlah yang membuat aku melakukan hal ini. Bukankah inilah daratan yang kita impi-impikan yang membuat kita tegar dan mampu bertahan selama belasan bulan terhadap hantaman ombak dan rasa lapar? Lalu kenapa hanya dengan setitik keragu-raguan saja kalian rela menggadaikan segala apa yang telah kalian impikan? Aku sengaja membakar musnah kapal-kapal tersebut agar kita tidak dapat keluar dari pulau ini, sehingga kita mampu berkomitmen dan bertekad di dalam hati kita masing-masing untuk bersama-sama berjuang dan membangun sebuah kehidupan baru yang kita impikan. Jangan biarkan keragu-raguan di hati kalian menghancurkan impian kalian. Kita sudah melangkah terlalu jauh untuk menyerah sekarang!"

Coba perhatikan dan resapi hikmah yang dapat kita petik dari penggalan kisah nyata di atas. Betapa ternyata, secara manusiawi, selalu saja ada keragu-raguan di dalam hati setiap manusia dalam memulai sebuah kehidupan yang baru, bahkan meskipun hal tersebut adalah sesuatu yang diimpi-impikan sekalipun. Rasa ragu tersebut berkembang bagaikan sebuah tumor ganas yang menggerogoti kemampuan manusia untuk berpikir secara jernih.

Keragu-raguan tersebut tidak dapat menghasilkan apa-apa selain membunuh semua yang telah diimpikan dan dicita-citakan. Jangan lupa bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri dan untuk mampu melakukan suatu perubahan, tantangan terberat pertama adalah menghapuskan keragu-raguan yang timbul di hati manusia. Sebuah komitmen terhadap sebuah perjuangan dalam mencapai apa yang menjadi impian dan cita-cita sangat diperlukan untuk memusnahkan rasa ragu tersebut karena dengan izin-Nya, apabila rasa ragu tersebut telah musnah maka dengan sendirinya pintu pertolongan-Nya akan terbuka dan 'tangan-tangan' ilahiyah pun akan dikirimkan untuk membantu menuntun langkah manusia.

Dalam membangun sebuah komitmen untuk berjuang di jalan-Nya diperlukan kesadaran bahwa kita sebagai seorang manusia diutus pleh Allah SWT sebagai seorang khalifah. Ingatlah ketika Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Lalu para malaikat yang merasa pesimis terhadap tingkah laku manusia berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" Allah SWT menjawab, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dalam konteks ini, Allah tidak menyalahkan apa yang diucapkan oleh para malaikat, tetapi hanya Allah saja yang mengetahui hakikat keberadaan manusia tersebut.

Kita dihadirkan di permukaan bumi ini sebagai seorang khalifah untuk suatu tujuan, bukan suatu kebetulan. Segala sesuatu, sekecil apa pun itu, terjadi dengan izin-Nya. Banyak di antara kita yang sudah sering membaca dan mendengar kata-kata klise tersebut tanpa pernah meresapi dengan seksama akan arti yang terkandung di baliknya. Mungkin sebuah kisah unik yang terjadi pada dua orang mantan presiden Amerika berikut ini mampu menyadarkan kita bahwa Allah maha Berkehendak dan betapa banyak kejadian di dunia ini yang mampu mementahkan konsep manusia akan teori kausalitas.

Dua orang diantara mantan-mantan presiden Amerika yaitu Abraham Lincoln dan John F. Kennedy. Yang pertama lahir tahun 1860 dan yang kedua lahir tahun 1960. Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808 dan pengganti Kennedy bernama Johnson (Lindon) lahir tahun 1908. Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy, tewas terbunuh dalam masa jabatannya dan keduanya tertembak di kepala pada hari yang sama, yaitu Jumat. Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839 dan pembunuh Kennedy lahir tahun 1939. Kedua pembunuh tersebut terbunuh sebelum sempat diadili. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy dan sekretaris Kennedy bernama Lincoln. Kedua sekretaris menyarankan untuk tidak pergi ke tempat terjadinya pembunuhan, namun kedua presiden itu menolak. Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan dari teater dan bersembunyi di gudang sebuah pasar swalayan dan pembunuh Kennedy melakukan pembunuhan dari sebuah gudang pasar swalayan dan bersembunyi di teater!

Subhanallah! Betapa Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Bukankah kisah nyata di atas terlalu absurd untuk dapat dijelaskan dengan hanya mengandalkan teori kausalitas karena keterbatasan yang dimiliki oleh manusia? Tidakkah contoh di atas cukup untuk menyadarkan kita betapa Allah itu Maha Berkehendak? Orang Prancis boleh saja berkata bahwa L'histoire c'est repete-sejarah itu pasti berulang-, tapi tidak semua misteri-Nya dapat diterangkan dengan keterbatasan logika yang kita miliki, untuk itulah diperlukan iman untuk menjembatani 'gap' antara kenyataan yang terjadi karena kehendak-Nya dan keterbatasan logika yang dimiliki manusia.

Seorang ulama terkenal Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab berkata bahwa tidak semua kejadian di alam ini dapat diterangkan dengan teori kausalitas. Disamping sunatullah, ada juga yang dinamakan dengan inayatullah (uluran tangan Allah) dan inayatullah tersebut hanya akan menghampiri orang-orang yang memiliki komitmen dan kesungguhan terhadap apa yang ia perjuangakan.

Sebagai seorang calon almarhum dan almarhumah, cobalah kita sedikit meluangkan waktu untuk menghayati pesan sang Rasul teladan kita berikut ini ,"I'mal li dunyaka kaanaka ta'isyu abadan wa'mal li akhiratika kaanaka tamuttu ghadan ... Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok." Hidup ini terlalu singkat untuk terus menerus menyia-nyiakan kesempatan demi kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita. Apabila hari ini adalah hari terakhir kita berada di dunia, jangan biarkan kita terus menerus diliputi keraguan untuk memulai sebuah kehidupan baru yang membuat kita semakin dekat pada-Nya. Tanamkanlah komitmen untuk berjuang di jalan-Nya di dalam hati dan benak kita yang akan mengikis keragu-raguan tersebut. Ingatlah bahwa Islam membutuhkan tangan-tangan kita untuk menegakkan kembali bendera kejayaan Islam. Semoga Allah swt selalu menyertai setiap langkah kita. Wallahu a'lam bishawaab.