Senin, 11 Mei 2009

Universitas yg sebenarnya

Suatu siang di kompleks kampus UGM Bulak Sumur, Yogyakarta. Saya duduk lemas dan lelah di depan sebuah warung pinggir jalan. Lemas, karena saya baru saja ditolak untuk ikut kost oleh seorang ibu pemilik rumah kontrakan di kompleks itu. Alasannya hanya karena saya bukan mahasiswa dan tak punya pekerjaan tetap. Lelah, setelah berjalan kaki menjajakan koran di sekitar universitas terkenal tersebut.

Pikiran saya melayang ke beberapa waktu sebelum ini. Merantau ke Ibukota Jakarta, saya tidak bisa tahan lama seperti teman-teman yang lain. Padahal rencana dari rumah, kalau sudah mendapat pekerjaan, saya akan mencoba untuk kuliah. Gagal di Jakarta saya pergi ke daerah Bogor. Mengadu nasib di sekitar pabrik semen milik konglomerat Liem Sio Liong. Tapi, di sini pun saya tak punya nasib baik. Dalam satu tahun hanya pindah dari pabrik yang satu ke pabrik yang lain. Jangankan untuk kuliah, untuk makan dan membayar kontrakan pun harus bertindak hemat sekali.

Akhirnya saya lari dari Bogor dan pergi ke Yogya. Dengan harapan di kota Pelajar ini saya dapat bekerja sambil kuliah. Walaupun di awal kedatangan saya, saya mendapat tamparan yang begitu menyakitkan dari seorang ibu pemilik sebuah kontrakan mahasiswa.

Saya melanjutkan kembali berjualan koran. Ditolak di kampus Bulak Sumur, saya pindah ke jalan Malioboro. Saya tidak lagi mencari tempat kost. Stasiun kereta api Tugu, sudah cukup bagi saya untuk melepaskan lelah baik siang maupun malam. Siang saya menjajakan koran. Malam hari, sebelum tidur, saya banyak menghabiskan waktu untuk begadang. Sebab komunitas Malioboro memang sangat heterogen. Ada pengangguran, penjual koran, pedagang kaki lima, tukang semir, seniman, mahasiswa dan masih banyak bentuk manusia yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Di sini, saya juga banyak menimba ilmu.

Agak lama saya jadi warga Malioboro. Namun hasil berdagang koran saya tak menunjukan ada peningkatan. Hanya bisa untuk makan harian saja. Dan yang tidak bisa saya sangka-sangka sebelumnya adalah, sering sekali saya sakit perut. Barangkali karena terlalu sering tidur di tempat terbuka, akhirnya masuk angin. Sehingga harus berkali-kali saya ke WC. Padahal, pergi ke WC tidak gratis. Maka rencana kuliah saya pun gagal lagi. Uang hasil menjaja koran ludes untuk biaya memasukan makan ke perut dan mengeluarkan kotoran dari perut. Itu saja.

Saya pasrah. Hanya itu yang bisa saya kerjakan. Niat bekerja sambil kuliah, ternyata sampai Yogya pun gagal. Saya memutuskan untuk pulang saja ke kampung. Sebelum pulang, karena saya kekurangan ongkos, saya mampir ke kontrakan seorang budayawan asal Jombang. Dari dia saya diberi uang. Dan tiba-tiba naluri 'bisnis' saya muncul lagi setelah memegang uang pemberian tersebut. Akhirnya uang itu tak langsung saya belikan tiket kereta api. Namun, suatu pagi sebelum pulang, saya pergi ke sebuah penerbit surat kabar. Dan uang tersebut saya gunakan untuk membeli koran untuk saya jual selama perjalanan dalam kereta.

Dengan semangat 45 saya naik kereta ekonomi jurusan Jakarta tanpa membeli tiket. Koran saya jual di situ. Karena masih pagi, dagangan saya laris manis. Saya mendapat untung banyak, tiket gratis, dapat membeli nasi bungkus, dan masih sisa uang. Rasanya gembira sekali hati saya hari itu.

Namun, kegembiraan itu tidak berumur lama. Menjelang stasiun kereta api Kutoarjo, saya ditemui tiga lelaki muda. Wajahnya menampakkah kekerasan. Di tangan-tangan mereka ada sebungkus koran dan majalah. Rupanya mereka adalah penjual koran juga. Mereka mengajak saya ke sebuah ruang kecil di antara gandengan dua gerbong. Dengan kata-kata kasar, salah seorang dari mereka berkata, "Kalau kamu mau hidup, hentikan jualan koranmu di sini. Atau kamu mau saya lempar keluar dari gerbong ini?"

Saya menatap muka ketiga laki-laki muda itu. Sorot mata mereka sudah tidak bisa saya ajak kompromi. Mereka sudah memperlihatkan mimik permusuhan. Saya hanya bisa menyerah dan mencoba mempertahankan diri. "Maaf, saya tidak tahu aturan berjualan disini. Saya kira siapapun boleh mencari makan di gerbong ini. Sekali lagi maaf. Saya hanya kali ini saja. Sekedar untuk ongkos pulang."

Dengan berbagai argumentasi, akhirnya mereka memaklumi saya, walaupun masih nampak kekecewaan mereka. Karena mereka menganggap ladang usahanya telah diserobot oleh saya. Ternyata di antara pedagang kecil seperti saya pun ada pertarungan maha hebat di dalamnya.

Saya berpikir sambil duduk di antara dua gerbong kereta ekonomi itu, di tengah gesekan kuat antara roda kereta api dan rel. Rupanya seperti inilah kuliah yang diberikan Allah kepada saya. Saya tidak bisa kuliah di dalam dinding-dinding kampus formal, saya tidak bisa berguru kepada guru besar yang bergelar profesor doktor, tapi Allah sendirilah yang memberi kuliah kepada saya. Bukan di UGM, UI, Unpad, Undip, ITB, IPB atau universitas formal lain, tapi di sebuah universitas yang sebenarnya. Yaitu kehidupan ini.

Setelah peristiwa itu saya makin menyadari, bahwa kuliah itu sama dengan sekolah. Sekolah itu sama dengan mencari ilmu. Dan mencari ilmu tidak harus di universitas yang berhadapan langsung dengan dosen. Kata orang-orang bijak: Debu yang beterbangan, rumput yang saya injak sehari-hari, setetes embun yang menempel di sehelai daun, adalah ilmu Allah yang tersirat.

Jadi, seandainya sampai akhir hayat saya tidak bisa kuliah di universitas yang saya sebut di atas, saya sudah tidak lagi menyesal dalam-dalam. Karena saat saya menulis ini pun hakekatnya adalah kuliah. Kuliah untuk mendekatkan diri saya pada-Nya.

Dan dengan lapang dada disertai keikhlasan, tentunya saya harus siap kembali menerima 'mata kuliah-mata kuliah' lain dari Allah SWT berupa cucuran keringat, deraian air mata, kesedihan, kekalahan, kegagalan, caci maki dan lain sebagainya. Agar ketika selesai dari kuliah di universitas kehidupan ini mendapat 'ijazah' dan 'toga' kemuliaan di hadapan-Nya.

Brunei, Juni 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar