Setiap orang pasti pernah menangis, baik kaum pria maupun wanita. Akan tetapi tahukah Anda, mengapa dan karena siapa mereka menangis? Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam juga menangis, padahal dunia berada dalam genggamannya jika beliau menghendaki. Dan Surga ada di hadapan beliau, sementara beliau berada di tempat yang paling tinggi di dalamnya. Benar, beliau memang sering menangis, sebagaimana tangisan seorang hamba ahli ibadah. Beliau menangis di dalam shalat tatkala bermunajat kepada Rabb Subhannahu wa Ta'ala. Beliau juga menangis ketika mendengarkan tilawah Al-Quran. Tangisan yang bersumber dari kelembutan hati dan ketulusan nurani serta dari ma’rifat keagungan Allah Subhannahu wa Ta'ala.
–Yakni bin Abdillah bin Asy-Syikhkhir- dari bapaknya –yakni Abdullah bin Asy-Syikhkhir Radhiallaahu anhu- ia berkata: "Aku datang menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ketika beliau sedang shalat. Dari rongga dada beliau keluar suara seperti bunyi air yang tengah mendidih di dalam kuali, disebabkan tangis beliau." (HR. Abu Daud).
Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah berkata kepadaku: “Bacalah Al-Qur’an untukku”
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku yang harus membacanya, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?”
Beliau menimpali: “Aku lebih suka mendengarkannya dari orang lain.”
Akupun membacakan surat An-Nisaa’ untuk beliau. Hingga telah sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. An-Nisa: 41). Aku lihat air mata beliau menetes.” (HR. Al-Bukhari).
Cobalah perhatikan uban yang menghiasi rambut beliau. Jumlahnya lebih kurang delapan belas helai di kepala dan janggut beliau. Camkanlah dengan mata hatimu, dengarkanlah kisah uban putih tersebut dari penuturan beliau. Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah bertanya: “Wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, sungguh Anda telah beruban.” Beliau menjawab: “Surat Hud, surat Al-Waqi’ah, surat Al-Mursalat, surat ‘Amma yatasaa‘aluun dan surat Idzasy Syamsu kuwwirat telah menyebabkan aku beruban.” (HR. At-Tirmdzi).
Senin, 16 Maret 2009
semut,laba-laba dan lebah
Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an. An Naml [semut], Al 'Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].
Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.
Lain lagi uraian Al-Qur'an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.
Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.
Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.
Entah berapa banyak juga tipe 'laba-laba' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa".
Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : "Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"
Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!
Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.
Lain lagi uraian Al-Qur'an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.
Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.
Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.
Entah berapa banyak juga tipe 'laba-laba' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa".
Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : "Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"
Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!
dear diary
03 Februari 2003
Dear diary…
04 Februari 2003
Hari ini aku bahagiaaa baget, ry. Pagi-pagi sekali Dad ‘n Mom bangunin aku. Mereka mencium pipiku dan ngucapin happy b' day. Tapi setelah itu aku langsung disuruh bangun buat shalat shubuh. Yee, kirain mau kasih hadiah. Tunggu dulu. Pas sarapan, Mom kasih kado berpita merah jambu. Katanya dari Dad ‘n Mom. Langsung dech aku buka. Kamu tahu isinya apa? Jilbab, lagi? Ya, ini adalah jilbab kelima yang dihadiahkan oleh Dad ‘n Mom sejak ultahku yang ke dua belas. Dan seperti biasa ada secarik kertas bertuliskan ‘SEMOGA TETAP ISTIQOMAH'. Hm… Dad ‘n Mom ini, kayaknya gak percaya dech kalau aku sudah bisa beristiqomah berjilbab semenjak masuk SMP dulu. Oh iya hampir lupa, bang Aldi kasih aku sebuah novel dan tiga buah buku kumpulan cerpen remaja islami. Wah senangnya. Nggak biasanya lho abangku yang satu ini ngasih aku hadiah buku banyak begini. I love you all.
Di sekolah aku habis-habisan dikerjain temen-temen sekelas. Mulai dari dicuekin sejak jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah, pas mau pulang dibanjur air beraneka rupa, dilemparin telor, ditaburin tepung terigu. Pokoknya jail abis. Tapi aku seneng mereka ingat hari ulang tahunku. Thanks dude.
06 Februari 2003
Dear diary…
Aku bosan dengan novel dan kumpulan cerpen yang sering dihadiakan bang Aldi. Isinya monoton. Tema-tema yang diangkat pasti tidak jauh dari tokoh utamanya yang anak Rohis, cewek-cewek, eh akhwat yang mencoba istiqomah berbusana muslimah, kesedihan sang tokoh utama karena orang tuanya meninggal dan dia terpaksa menjadi gelandangan atau gembel, orang-orang yang segera insyaf dari dosa dan maksiat yang dilakukannya setelah mendengar adzan atau orang mengaji, dan masih banyak lagi tema-tema membosankan lainnya.
Mengapa yach para pengarang novel dan cerpen itu selalu menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang tampan atau cantik, pintar di sekolah, aktiv di organisasi – utamanya Rohis –, jago basket atau karate, gape ngomong English and so on and so on. Sungguh, they are too good to be true. Atau aku aja yang ngiri kali yach? He he he ….
08 Februari 2003
Dear diary…
Aku sayang Dad ‘n Mom, namun kadang-kadang aku nggak suka sama sikap mereka yang sok tahu. Gimana nggak sebel coba. Tadi pagi pas sarapan aku minta ijin buat datang ke pestanya Sherly, teman sekelasku. Kakaknya – Dani – baru menyelesaikan studinya di Aussie, jadi Sherly and Dani kompakan mengadakan syukuran yang nanti diadakan bertepatan dengan hari Valentine. Biar seru katanya.
Kamu tahu reaksi mereka, Ry? Aku diberondong banyak banget pertanyaan. Mulai dari Pestanya siang atau malem? Yang dateng siapa aja? Acaranya ngapain aja? Pulangnya jam berapa? Entar dateng dan pulang sama siapa? dan banyak lagi. Kenapa sich mereka kok heboh banget, apalagi Bang Aldi. Abangku yang satu ini kayaknya nggak suka dech ngeliat adiknya ini seneng dikit ajah.
Mati-matian aku meyakinkan mereka. Aku bilang pestanya jam delapan malem, yach paling-paling sempe jam sebelasan gitu. Emang agak malem sich. Khan biasanya aku harus sudah ada di rumah paling malem jam sembilanan gitu, kasian yach. Aku bilangin juga bahwa aku nggak dateng sendirian kok nantinya. Ada si Erin, Wiwi, Evelyn, Siska dan Doni, pacarnya Siska yang nanti jadi sopir dan siap antar jemput. Mengenai acaranya, ya apalagi? Namanya juga pesta syukuran. Pasti ada acara makan-makan, ngumpul-ngumpul bareng temen-temennya Sherly dan kakanya, ngobrol banyak hal. Itu ajah kok.
Kata Mom gimana besok dech dan itu sudah cukup membuat kesan bahwa aku tidak akan diizinkan.
12 Februari 2003
Dear diary…
Kadang-kadang kepikiran lho buat sesekali ngelanggar apa yang dilarang Dad ‘n Mom. Kayak apa yach rasanya?
Bukankah selama ini aku sebagai seorang anak tergolong penurut. Aku nggak pernah bertingkah yang macem-macem, sebagai seorang perempaun aku turuti perintah Mom untuk menutup aurat sejak masuk SMP, nilai rapotku tidak terlalu jelek, walaupun belum dapat dikatakan memuaskan. Tapi aku selalu berusaha lho untuk memenuhi semua kriteria anak baik di mata Dad ‘n Mom.
13 Februari 2003
Jadi rencananya gini ry…
Besok siang – mungkin sampai sore, I hope so – ada rapat untuk acara pelantikan anak-anak PMR yang baru (gini gini aku memiliki jiwa sosial yang tinggi lho). Terus aku bilangin aja ke Mom minta izin pulang agak terlambat, mungkin agak malem. Baju buat ke pesta akan aku bawa pas paginya. Berat dikit nggak pa pa, yang penting Mom nggak curiga. Nah, pas sorenya Siska and the gang suruh jemput aku disekolah. Dengan begitu aku bisa bolos rapat, bilang aja ada keperluan mendadak.
Gimana? Rencanaku oke khan.
14 Februari 2003 ultahnya Sherly
Dear diary…
This is the day. Waktu berangkat tadi pagi, aku ngelihat sorot mata Mom mencurigai sesuatu. Aduh aku jadi gemeteran waktu itu. Tapi bukan Adella namanya kalau enggak bisa merayu Mom sedemikian rupa. Namun bagaimanapun juga, sorot mata Mom menyiratkan sesuatu. Apa yach?
Siang sampe sorenya aku rapat PMR. Sebenarnya aku nggak konsen, tapi mau gimana lagi. Namanya juga demi memenuhi undangan teman.
And then, let the party started. Tepat jam enam sore Siska and the gang datang. Langsung aku cabut dari rapat setelah sebelumnya ganti kostum (cie…) di ruang OSIS. Kulihat Siska, Erin, Wiwi dan Evelyn nampak cantik dengan pakaian yang serba pink, seperti juga jilbab dan pakaian yang aku kenakan. Emang malam ini khan dress coat-nya serba pink, namanya juga hari valentine.
Tiba di rumah Sherly yang berada di kawasan elit kota ini, kami langsung masuk. Sherly menyambut kami di ruang tengah. Ia memperkenalkan Dani kepada kami. Lucu juga… Aku, Erin, Wiwi, dan Evelyn sepakat. Setelah itu kami dipersilahkan menuju ruangan pesta akan berlangsung.
Tempat pesta itu terletak di pinggir kolam, di sayap kanan rumah mewah itu. Tempat itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga atmosfir valentinenya begitu terasa. Balon-balon berbentuk hati, pita-pita yang dibentangkan dari sudut ke sudut, serta lampu-lampu hias semuanya berwarna pink. Di salah satu sudut – food court – tertata rapih aneka hidangan yang mengundang selera sementara di sudut lainnya ada sebuah panggung kecil yang menjadi sentra acara. Dentuman house music membuat suasana pesta kian meriah.
Undangan yang datang sudah cukup banyak. Kebanyakan teman-teman Dani sewaktu SMU dulu, sesisanya adalah teman-teman Sherly yang sudah kukenal. Kami pun asyik ngobrol ke sana ke mari sebelum acara dimulai. Dalam keramaian itu aku merasa ada sepasang mata yang sejak aku datang tadi selalu memperhatikan aku. Aku mencari-cari kesekeliling. Ah, nggak ada yang…. Tunggu dulu, kayaknya Dani ngeliatin aku terus dech. Gimana nggak diperhatiin coba, aku khan eye catching banget. Aku satu-satunya gadis berjilbab di pesta itu, atau… Ah aku aja yang kege-eran kali yach.
Aku menikmati acara demi acara dalam pesta itu, sampai akhirnya acara blind date itu membuat perasaanku tak menentu. Saat itu semua undangan dipasang-pasangkan dan mereka di beri waktu satu jam untuk saling mengenal untuk selanjutnya tiap-tiap pasangan akan disuruh tampil keatas panggung menyatakan perasaan mereka. Waktu itu entah disengaja atau tidak aku berpasangan dengan Dani. Semula aku tidak memiliki perasaan curiga apa pun juga walaupun aku tahu tujuan acara ini agar tiap undangan yang jomblo bisa mendapatkan pasangan. Aku tahu reputasi Dani sebagai play boy dari Sherly. Malam ini Dani tidak bertingkah macam-macam, kok. Kami hanya ngobrol tentang pengalaman dia di Aussie. Aku merasa cukup aman dengan pakaianku sehingga cowok play boy macam Dani nggak akan berani macam-macam. Namun dugaanku salah.
Di sela-sela obrolan kami saring aku dapati mata Dani liar memperhatikan sekujur tubuhku. Dari ujung jilbab sampai ujung kaos kaki yang aku kenakan. Dari bau nafasnya aku tahu jenis minuman apa yang berada di gelas yang ia pegang, walaupun ia tidak – atau mungkin belum – nampak mabuk. Dan satu hal yang membuat keputusanku bulat adalah saat ia berusaha memegang tanganku, bahkan akan merangkulku.
STOP. Dengan tergesa dan tanpa permisi aku berlari pulang. Meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapku heran, meninggalkan Dani dengan kegagalannya menyentuhku, meninggalkan hingar bingar pesta yang kian menggila, serta meninggalkan kebodohanku datang ke pesta semacam itu. Aku biarkan air mataku menganak sungai. Aku menyesal dan merasa berdosa telah melakukan ini semua.
Sampai di rumah sudah pukul sepuluh lebih dua belas menit. Kulihat Mom menungguku di teras. Aku langsung menghambur ke pelukan Mom dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada kata yang terucap. Mom membimbingku ke kamar dan menyuruhku istirahat.
15 Februari 2003
Diary….
Aku malu sekali atas kejadian kemarin. Ketika sarapan, kulihat Dad, Mom dan bang Aldi saling diam. Aku sudah siap apabila nanti aku akan disidang habis-habisan. Aku harus mempertanggungjawabkan kesalahanku. Namun tidak ada yang berkomentar. Semua orang asik dengan sarapannya masing-masing. Kuberanikan diri berkata Adella minta maaf atas kejadian semalem. Semua saling pandang. Dad angkat bicara. Katanya Semoga kamu dapat mengambil pelajaran atas kekhilafan kemarin. Oh Dad, kenapa Daddy tidak marah atau menghakimi aku? Mom? Mom menarik nafas sebelum berkata Sekarang kamu tahu khan alasan kami melarangmu? Ya, lebih dari mengerti, Mom. Bang Aldi diam saja.
Satu hal lagi Mom, tentang rapat itu Adella tidak bohong. Mama hanya tersenyum dan berkata Tentu saja sayang, Mom tidak pernah mengajarkan anak Mom berbohong khan? Terima kasih Mom atas kepercayaannya. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi, Mom.
17 Februari 2003
Dear Diary…
Tiga hari setelah kejadian di pesta itu Sherly minta maaf. Aku bilang itu bukan kesalahannya. Tapi tetap saja dia merasa berdosa karena telah mengundang aku. Sudahlah kita lupakan saja kejadian 14 Februari yang kelabu itu.
20 Februari 2003
Diary…
Hari ini Evelyn curhat. Katanya, semua cowok itu brengsek. Evelyn ingat kejadian di pesta Sherly. Ketika ia melihat aku lari keluar dari pesta itu, ia sedang bersama sorang laki-laki yang baru ia kenal malam itu. Laki-laki itu berkata Wah Dani lagi apes hari ini. Nggak biasanya ada cewek yang nolak dia. Baru pemanasan ajah udah lari. Gimana kalau… Evelyn tidak harus melanjutkan kisahnya, aku sudah tahu apa yang direncanakan Dani dan teman-temannya dalam pesta itu. Syukurlah keputusanku meninggalkan pesta itu menyadarkan Evelyn, Wiwi, Erin serta teman-teman sekelasku – terutama yang wanita – untuk menyadari ada apa di balik pesta itu sekaligus menggagalkan rencana Dani cs.
Aku tidak habis pikir, seorang wanita berjilbab saja masih menjadi sasaran mata jalang laki-laki yang haus syahwat, apalagi mereka yang pada saat pesta itu menggunakan pakaian serba terbuka.
24 Februari 2003
Dear diary…
Hari ini aku pinjam majalah remaja edisi Valentine yang di beli Wiwi kemarin. Tentu saja isinya semua tentang Valentine. Dari acara valentine yang paling romantis, pernak-pernik valentine, pakaian yang asik buat nge-date di malam valentine, serta rencana artis-artis – baik lokal maupun internasional – dalam merayakan valentine. Kayaknya semua itu nggak cocok dech sama aku. Terlalu menyeramkan dan membuat bulu kudukku berdiri, apalagi bila ingat kejadian di pestanya Sherly itu. Hii…..
28 Februari 2003
Diary…
Malam ini hujan turun cukup deras memberikan sensasi kesejukan di hati ini. Hilang sudah kekeringan yang selama beberapa bulan terakhir mencengeram bumi. Entahlah, aku ingin agar bulan Februari ini segera berakhir agar dapat kugoreskan lembar kisah baru di lembaranmu ini. Biarlah semua kenangan buruk di bulan yang mereka sebut ‘Bulan Cinta' larut bersama tetes-tetes airu hujan yang terserap bumi.
Have a nice sleep, Adella. Semoga mimpi indah.
Dear diary…
04 Februari 2003
Hari ini aku bahagiaaa baget, ry. Pagi-pagi sekali Dad ‘n Mom bangunin aku. Mereka mencium pipiku dan ngucapin happy b' day. Tapi setelah itu aku langsung disuruh bangun buat shalat shubuh. Yee, kirain mau kasih hadiah. Tunggu dulu. Pas sarapan, Mom kasih kado berpita merah jambu. Katanya dari Dad ‘n Mom. Langsung dech aku buka. Kamu tahu isinya apa? Jilbab, lagi? Ya, ini adalah jilbab kelima yang dihadiahkan oleh Dad ‘n Mom sejak ultahku yang ke dua belas. Dan seperti biasa ada secarik kertas bertuliskan ‘SEMOGA TETAP ISTIQOMAH'. Hm… Dad ‘n Mom ini, kayaknya gak percaya dech kalau aku sudah bisa beristiqomah berjilbab semenjak masuk SMP dulu. Oh iya hampir lupa, bang Aldi kasih aku sebuah novel dan tiga buah buku kumpulan cerpen remaja islami. Wah senangnya. Nggak biasanya lho abangku yang satu ini ngasih aku hadiah buku banyak begini. I love you all.
Di sekolah aku habis-habisan dikerjain temen-temen sekelas. Mulai dari dicuekin sejak jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah, pas mau pulang dibanjur air beraneka rupa, dilemparin telor, ditaburin tepung terigu. Pokoknya jail abis. Tapi aku seneng mereka ingat hari ulang tahunku. Thanks dude.
06 Februari 2003
Dear diary…
Aku bosan dengan novel dan kumpulan cerpen yang sering dihadiakan bang Aldi. Isinya monoton. Tema-tema yang diangkat pasti tidak jauh dari tokoh utamanya yang anak Rohis, cewek-cewek, eh akhwat yang mencoba istiqomah berbusana muslimah, kesedihan sang tokoh utama karena orang tuanya meninggal dan dia terpaksa menjadi gelandangan atau gembel, orang-orang yang segera insyaf dari dosa dan maksiat yang dilakukannya setelah mendengar adzan atau orang mengaji, dan masih banyak lagi tema-tema membosankan lainnya.
Mengapa yach para pengarang novel dan cerpen itu selalu menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang tampan atau cantik, pintar di sekolah, aktiv di organisasi – utamanya Rohis –, jago basket atau karate, gape ngomong English and so on and so on. Sungguh, they are too good to be true. Atau aku aja yang ngiri kali yach? He he he ….
08 Februari 2003
Dear diary…
Aku sayang Dad ‘n Mom, namun kadang-kadang aku nggak suka sama sikap mereka yang sok tahu. Gimana nggak sebel coba. Tadi pagi pas sarapan aku minta ijin buat datang ke pestanya Sherly, teman sekelasku. Kakaknya – Dani – baru menyelesaikan studinya di Aussie, jadi Sherly and Dani kompakan mengadakan syukuran yang nanti diadakan bertepatan dengan hari Valentine. Biar seru katanya.
Kamu tahu reaksi mereka, Ry? Aku diberondong banyak banget pertanyaan. Mulai dari Pestanya siang atau malem? Yang dateng siapa aja? Acaranya ngapain aja? Pulangnya jam berapa? Entar dateng dan pulang sama siapa? dan banyak lagi. Kenapa sich mereka kok heboh banget, apalagi Bang Aldi. Abangku yang satu ini kayaknya nggak suka dech ngeliat adiknya ini seneng dikit ajah.
Mati-matian aku meyakinkan mereka. Aku bilang pestanya jam delapan malem, yach paling-paling sempe jam sebelasan gitu. Emang agak malem sich. Khan biasanya aku harus sudah ada di rumah paling malem jam sembilanan gitu, kasian yach. Aku bilangin juga bahwa aku nggak dateng sendirian kok nantinya. Ada si Erin, Wiwi, Evelyn, Siska dan Doni, pacarnya Siska yang nanti jadi sopir dan siap antar jemput. Mengenai acaranya, ya apalagi? Namanya juga pesta syukuran. Pasti ada acara makan-makan, ngumpul-ngumpul bareng temen-temennya Sherly dan kakanya, ngobrol banyak hal. Itu ajah kok.
Kata Mom gimana besok dech dan itu sudah cukup membuat kesan bahwa aku tidak akan diizinkan.
12 Februari 2003
Dear diary…
Kadang-kadang kepikiran lho buat sesekali ngelanggar apa yang dilarang Dad ‘n Mom. Kayak apa yach rasanya?
Bukankah selama ini aku sebagai seorang anak tergolong penurut. Aku nggak pernah bertingkah yang macem-macem, sebagai seorang perempaun aku turuti perintah Mom untuk menutup aurat sejak masuk SMP, nilai rapotku tidak terlalu jelek, walaupun belum dapat dikatakan memuaskan. Tapi aku selalu berusaha lho untuk memenuhi semua kriteria anak baik di mata Dad ‘n Mom.
13 Februari 2003
Jadi rencananya gini ry…
Besok siang – mungkin sampai sore, I hope so – ada rapat untuk acara pelantikan anak-anak PMR yang baru (gini gini aku memiliki jiwa sosial yang tinggi lho). Terus aku bilangin aja ke Mom minta izin pulang agak terlambat, mungkin agak malem. Baju buat ke pesta akan aku bawa pas paginya. Berat dikit nggak pa pa, yang penting Mom nggak curiga. Nah, pas sorenya Siska and the gang suruh jemput aku disekolah. Dengan begitu aku bisa bolos rapat, bilang aja ada keperluan mendadak.
Gimana? Rencanaku oke khan.
14 Februari 2003 ultahnya Sherly
Dear diary…
This is the day. Waktu berangkat tadi pagi, aku ngelihat sorot mata Mom mencurigai sesuatu. Aduh aku jadi gemeteran waktu itu. Tapi bukan Adella namanya kalau enggak bisa merayu Mom sedemikian rupa. Namun bagaimanapun juga, sorot mata Mom menyiratkan sesuatu. Apa yach?
Siang sampe sorenya aku rapat PMR. Sebenarnya aku nggak konsen, tapi mau gimana lagi. Namanya juga demi memenuhi undangan teman.
And then, let the party started. Tepat jam enam sore Siska and the gang datang. Langsung aku cabut dari rapat setelah sebelumnya ganti kostum (cie…) di ruang OSIS. Kulihat Siska, Erin, Wiwi dan Evelyn nampak cantik dengan pakaian yang serba pink, seperti juga jilbab dan pakaian yang aku kenakan. Emang malam ini khan dress coat-nya serba pink, namanya juga hari valentine.
Tiba di rumah Sherly yang berada di kawasan elit kota ini, kami langsung masuk. Sherly menyambut kami di ruang tengah. Ia memperkenalkan Dani kepada kami. Lucu juga… Aku, Erin, Wiwi, dan Evelyn sepakat. Setelah itu kami dipersilahkan menuju ruangan pesta akan berlangsung.
Tempat pesta itu terletak di pinggir kolam, di sayap kanan rumah mewah itu. Tempat itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga atmosfir valentinenya begitu terasa. Balon-balon berbentuk hati, pita-pita yang dibentangkan dari sudut ke sudut, serta lampu-lampu hias semuanya berwarna pink. Di salah satu sudut – food court – tertata rapih aneka hidangan yang mengundang selera sementara di sudut lainnya ada sebuah panggung kecil yang menjadi sentra acara. Dentuman house music membuat suasana pesta kian meriah.
Undangan yang datang sudah cukup banyak. Kebanyakan teman-teman Dani sewaktu SMU dulu, sesisanya adalah teman-teman Sherly yang sudah kukenal. Kami pun asyik ngobrol ke sana ke mari sebelum acara dimulai. Dalam keramaian itu aku merasa ada sepasang mata yang sejak aku datang tadi selalu memperhatikan aku. Aku mencari-cari kesekeliling. Ah, nggak ada yang…. Tunggu dulu, kayaknya Dani ngeliatin aku terus dech. Gimana nggak diperhatiin coba, aku khan eye catching banget. Aku satu-satunya gadis berjilbab di pesta itu, atau… Ah aku aja yang kege-eran kali yach.
Aku menikmati acara demi acara dalam pesta itu, sampai akhirnya acara blind date itu membuat perasaanku tak menentu. Saat itu semua undangan dipasang-pasangkan dan mereka di beri waktu satu jam untuk saling mengenal untuk selanjutnya tiap-tiap pasangan akan disuruh tampil keatas panggung menyatakan perasaan mereka. Waktu itu entah disengaja atau tidak aku berpasangan dengan Dani. Semula aku tidak memiliki perasaan curiga apa pun juga walaupun aku tahu tujuan acara ini agar tiap undangan yang jomblo bisa mendapatkan pasangan. Aku tahu reputasi Dani sebagai play boy dari Sherly. Malam ini Dani tidak bertingkah macam-macam, kok. Kami hanya ngobrol tentang pengalaman dia di Aussie. Aku merasa cukup aman dengan pakaianku sehingga cowok play boy macam Dani nggak akan berani macam-macam. Namun dugaanku salah.
Di sela-sela obrolan kami saring aku dapati mata Dani liar memperhatikan sekujur tubuhku. Dari ujung jilbab sampai ujung kaos kaki yang aku kenakan. Dari bau nafasnya aku tahu jenis minuman apa yang berada di gelas yang ia pegang, walaupun ia tidak – atau mungkin belum – nampak mabuk. Dan satu hal yang membuat keputusanku bulat adalah saat ia berusaha memegang tanganku, bahkan akan merangkulku.
STOP. Dengan tergesa dan tanpa permisi aku berlari pulang. Meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapku heran, meninggalkan Dani dengan kegagalannya menyentuhku, meninggalkan hingar bingar pesta yang kian menggila, serta meninggalkan kebodohanku datang ke pesta semacam itu. Aku biarkan air mataku menganak sungai. Aku menyesal dan merasa berdosa telah melakukan ini semua.
Sampai di rumah sudah pukul sepuluh lebih dua belas menit. Kulihat Mom menungguku di teras. Aku langsung menghambur ke pelukan Mom dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada kata yang terucap. Mom membimbingku ke kamar dan menyuruhku istirahat.
15 Februari 2003
Diary….
Aku malu sekali atas kejadian kemarin. Ketika sarapan, kulihat Dad, Mom dan bang Aldi saling diam. Aku sudah siap apabila nanti aku akan disidang habis-habisan. Aku harus mempertanggungjawabkan kesalahanku. Namun tidak ada yang berkomentar. Semua orang asik dengan sarapannya masing-masing. Kuberanikan diri berkata Adella minta maaf atas kejadian semalem. Semua saling pandang. Dad angkat bicara. Katanya Semoga kamu dapat mengambil pelajaran atas kekhilafan kemarin. Oh Dad, kenapa Daddy tidak marah atau menghakimi aku? Mom? Mom menarik nafas sebelum berkata Sekarang kamu tahu khan alasan kami melarangmu? Ya, lebih dari mengerti, Mom. Bang Aldi diam saja.
Satu hal lagi Mom, tentang rapat itu Adella tidak bohong. Mama hanya tersenyum dan berkata Tentu saja sayang, Mom tidak pernah mengajarkan anak Mom berbohong khan? Terima kasih Mom atas kepercayaannya. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi, Mom.
17 Februari 2003
Dear Diary…
Tiga hari setelah kejadian di pesta itu Sherly minta maaf. Aku bilang itu bukan kesalahannya. Tapi tetap saja dia merasa berdosa karena telah mengundang aku. Sudahlah kita lupakan saja kejadian 14 Februari yang kelabu itu.
20 Februari 2003
Diary…
Hari ini Evelyn curhat. Katanya, semua cowok itu brengsek. Evelyn ingat kejadian di pesta Sherly. Ketika ia melihat aku lari keluar dari pesta itu, ia sedang bersama sorang laki-laki yang baru ia kenal malam itu. Laki-laki itu berkata Wah Dani lagi apes hari ini. Nggak biasanya ada cewek yang nolak dia. Baru pemanasan ajah udah lari. Gimana kalau… Evelyn tidak harus melanjutkan kisahnya, aku sudah tahu apa yang direncanakan Dani dan teman-temannya dalam pesta itu. Syukurlah keputusanku meninggalkan pesta itu menyadarkan Evelyn, Wiwi, Erin serta teman-teman sekelasku – terutama yang wanita – untuk menyadari ada apa di balik pesta itu sekaligus menggagalkan rencana Dani cs.
Aku tidak habis pikir, seorang wanita berjilbab saja masih menjadi sasaran mata jalang laki-laki yang haus syahwat, apalagi mereka yang pada saat pesta itu menggunakan pakaian serba terbuka.
24 Februari 2003
Dear diary…
Hari ini aku pinjam majalah remaja edisi Valentine yang di beli Wiwi kemarin. Tentu saja isinya semua tentang Valentine. Dari acara valentine yang paling romantis, pernak-pernik valentine, pakaian yang asik buat nge-date di malam valentine, serta rencana artis-artis – baik lokal maupun internasional – dalam merayakan valentine. Kayaknya semua itu nggak cocok dech sama aku. Terlalu menyeramkan dan membuat bulu kudukku berdiri, apalagi bila ingat kejadian di pestanya Sherly itu. Hii…..
28 Februari 2003
Diary…
Malam ini hujan turun cukup deras memberikan sensasi kesejukan di hati ini. Hilang sudah kekeringan yang selama beberapa bulan terakhir mencengeram bumi. Entahlah, aku ingin agar bulan Februari ini segera berakhir agar dapat kugoreskan lembar kisah baru di lembaranmu ini. Biarlah semua kenangan buruk di bulan yang mereka sebut ‘Bulan Cinta' larut bersama tetes-tetes airu hujan yang terserap bumi.
Have a nice sleep, Adella. Semoga mimpi indah.
nice story
Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia,karena dia bisa memilih untuk menjadi "setan atau malaikat" (John Scheffer)
----------------------
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.
Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
* * *
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
--------------------------------------
"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita. Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
--------------------------------------
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya. Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu.
Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya. Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali.
Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
----------------------
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.
Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
* * *
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
--------------------------------------
"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita. Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
--------------------------------------
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya. Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu.
Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya. Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali.
Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
icried for my brother six time
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
akhlak rasul
Perilaku seseorang merupakan barometer akal dan kunci untuk mengenal hati nuraninya. ‘Aisyah Ummul Mukminin putri Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma seorang hamba terbaik yang mengenal akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan yang dapat menceritakan secara detail keadaan beliau shallallahu 'alaihi wasallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik saat tidur maupun terjaga, pada saat sakit maupun sehat, pada saat marah maupun ridha.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan." (HR. Ahmad).
Demikianlah akhlak beliau shallallahu 'alaihi wasallam selaku nabi umat ini yang penuh kasih sayang dan selalu memberi petunjuk, yang penuh anugrah serta selalu memberi nasihat. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau.
Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan:
“Beliau shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.”
Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.”
Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah.
Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.”
Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi).
Cobalah perhatikan satu persatu akhlak dan budi pekerti nabi umat ini shallallahu 'alaihi wasallam. Pegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguhlah dalam meneladaninya, sebab ia adalah kunci seluruh kebaikan.
Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah: “Barangsiapa yang wafat sedangkan ia memohon kepada selain Allah, ia pasti masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhari).
Di antaranya juga: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (Muttafaq ‘alaih).
Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di malam kelam, berupa cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud).
Demikian pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kamu.” (HR. Abu Daud).
Diriwayatkan juga dari beliau: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).
Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan." (HR. Ahmad).
Demikianlah akhlak beliau shallallahu 'alaihi wasallam selaku nabi umat ini yang penuh kasih sayang dan selalu memberi petunjuk, yang penuh anugrah serta selalu memberi nasihat. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau.
Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan:
“Beliau shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.”
Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.”
Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah.
Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.”
Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi).
Cobalah perhatikan satu persatu akhlak dan budi pekerti nabi umat ini shallallahu 'alaihi wasallam. Pegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguhlah dalam meneladaninya, sebab ia adalah kunci seluruh kebaikan.
Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah: “Barangsiapa yang wafat sedangkan ia memohon kepada selain Allah, ia pasti masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhari).
Di antaranya juga: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (Muttafaq ‘alaih).
Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di malam kelam, berupa cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud).
Demikian pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kamu.” (HR. Abu Daud).
Diriwayatkan juga dari beliau: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).
Langganan:
Postingan (Atom)



