Jumat, 15 Januari 2010

Anak


Oleh: Naguib Mahfouz


"Bapak!"
"Ya?"
"Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama."
"Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu."
"Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang."
"Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan."
"Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain."

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:
"Itu hanya pada pelajaran agama saja."
"Kenapa, Pak?"
"Karena kau punya agama sendiri dan ia punya agama lain."
"Bagaimana sih, Pak?"
"Kau Islam dan ia Kristen."
"Kenapa?"
"Kau masih kecil, nanti akan mengerti."
"Saya sudah besar sekarang."
"Masih kecil, Sayangku."
"Kenapa saya seorang Islam?"

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:
"Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam."
"Dan Nadia?"
"Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen."
"Apa karena bapaknya berkacamata?"
"Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen."

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:
"Siapa yang lebih baik?"

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:
"Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik."
"Tentu salah satu ada yang lebih baik."
"Ini baik dan itu juga baik."
"Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?"
"Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya."
"Tapi kenapa?"

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:
"Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?"
"Tidak."
"Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam."
"Jadi, Nadia itu mode lama?"

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:
"Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya."
"Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?"

Segera ia memotong:
"Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga."
"Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?"
"Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain."
"Apa bedanya, Pak?"
"Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah."
"Siapa sih Allah, Pak?"

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:
"Apa kata Bu Guru di sekolah?"
"Ia membaca surat-surat dari Al-Qur'an dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu."

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:
"Ia yang menciptakan dunia seluruhnya."
"Seluruhnya?"
"Ya, seluruhnya."
"Apa artinya mencipta?"
"Yang membuat segala sesuatu."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan kekuasaan yang agung sekali."
"Dimana Ia tinggal?"
"Di dunia seluruhnya."
"Dan sebelum ada dunia?"
"Di atas."
"Di langit?"
"Ya."
"Saya ingin melihat-Nya."
"Tidak bisa."
"Meskipun melalui televisi?"
"Ya, tidak bisa juga."
"Tak seorang pun bisa melihat-Nya?"
"Tak seorang pun."
"Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?"
"Begitulah."
"Siapa yang kasih tahu Ia di atas?"
"Para nabi."
"Para nabi?"
"Ya, seperti nabi kita Muhammad."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan kesanggupan yang khas ada padanya."
"Kedua matanya tajam sekali?"
"Ya."
"Kenapa begitu?"
"Allah menciptakannya begitu."
"Kenapa?"

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:
"Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki."
"Dan bagaimana nabi melihat-Nya?"
"Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu."
"Seperti Bapak?"

Ia menjawab sambil menahan tawanya:
"Ia tak ada bandingannya."
"Kenapa Ia tinggal di atas?"
"Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi ia bisa melihat segala sesuatu."

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:
"Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi."
"Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana."
"Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya."
"Tapi Ia hidup dan tidak mati."
"Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya."
"Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi ia hidup dan tidak mati."
"Dan kakekku masih hidup juga?"
"Kakekmu sudah meninggal."
"Apa orang-orang juga telah membunuhnya?"
"Tidak, ia meninggal sendiri."
"Bagaimana?"
"Ia sakit, dan kemudian meninggal."
"Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?"
Keningnya mengerenyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

"Tidak. Insya Allah ia akan sembuh."
"Dan kenapa Kakek meninggal?"
"Sakit dalam ketuaannya."
"Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?"

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:
"Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya."
"Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?"
"Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki."
"Apa mati itu menyenangkan?"
"Tidak, Sayang."
"Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?"
"Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan."
"Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan."
"Hmm, Bapak keliru tadi."
"Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?"
"Karena Tuhan belum menghendaki begitu."
"Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?"
"Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi."
"Kenapa?"
"Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi."
"Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?"
"Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal."
"Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?"
"Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi."
"Di mana?"
"Di atas."
"Di sisi Tuhan?"
"Ya."
"Dan kita bisa melihat-Nya?"
"Ya."
"Tentunya itu bagus kan?"
"Tentu."
"Kalau begitu, kita harus pergi."
"Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik."
"Dan Kakek sudah melakukannya?"
"Ya."
"Apa yang ia lakukan?"
"Ia telah membangun rumah dan menanam kebun."
"Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?"

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

"Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi."
"Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik."
"Ia anak nakal."
"Tapi ia tidak akan mati."
"Kecuali kalau Tuhan menghendakinya."
"Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?"
"Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka."

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata- katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya.

Namun si kecil tiba-tiba berseru:
"Saya ingin selalu bersama Nadia!"

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:
"Meski pada pelajaran agama sekalipun!"

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:
"Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!"

Istrinya menyahut:
"Nanti ia akan besar, dan akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya."

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.

*Diterjemahkan oleh M. Fudoli Zaini, dalam "Antologi Cerpen Nobel"
(Penerbit Bentang, Mei 2004).

NAGUIB MAHFOUZ lahir di Kairo, Mesir, pada 1911. Ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad. Sebagai pengarang, Mahfouz mula-mula menulis dengan gaya romantis, lalu realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis.

NAGUIB MAHFOUZ terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen. Dari tangannya sudah lahir 32 novel, 14 kumcer, dan 30 naskah film. Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan 1988 pada Mahfouz, sebagai pengakuan untuk: "... ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan."

Senin, 11 Mei 2009

Universitas yg sebenarnya

Suatu siang di kompleks kampus UGM Bulak Sumur, Yogyakarta. Saya duduk lemas dan lelah di depan sebuah warung pinggir jalan. Lemas, karena saya baru saja ditolak untuk ikut kost oleh seorang ibu pemilik rumah kontrakan di kompleks itu. Alasannya hanya karena saya bukan mahasiswa dan tak punya pekerjaan tetap. Lelah, setelah berjalan kaki menjajakan koran di sekitar universitas terkenal tersebut.

Pikiran saya melayang ke beberapa waktu sebelum ini. Merantau ke Ibukota Jakarta, saya tidak bisa tahan lama seperti teman-teman yang lain. Padahal rencana dari rumah, kalau sudah mendapat pekerjaan, saya akan mencoba untuk kuliah. Gagal di Jakarta saya pergi ke daerah Bogor. Mengadu nasib di sekitar pabrik semen milik konglomerat Liem Sio Liong. Tapi, di sini pun saya tak punya nasib baik. Dalam satu tahun hanya pindah dari pabrik yang satu ke pabrik yang lain. Jangankan untuk kuliah, untuk makan dan membayar kontrakan pun harus bertindak hemat sekali.

Akhirnya saya lari dari Bogor dan pergi ke Yogya. Dengan harapan di kota Pelajar ini saya dapat bekerja sambil kuliah. Walaupun di awal kedatangan saya, saya mendapat tamparan yang begitu menyakitkan dari seorang ibu pemilik sebuah kontrakan mahasiswa.

Saya melanjutkan kembali berjualan koran. Ditolak di kampus Bulak Sumur, saya pindah ke jalan Malioboro. Saya tidak lagi mencari tempat kost. Stasiun kereta api Tugu, sudah cukup bagi saya untuk melepaskan lelah baik siang maupun malam. Siang saya menjajakan koran. Malam hari, sebelum tidur, saya banyak menghabiskan waktu untuk begadang. Sebab komunitas Malioboro memang sangat heterogen. Ada pengangguran, penjual koran, pedagang kaki lima, tukang semir, seniman, mahasiswa dan masih banyak bentuk manusia yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Di sini, saya juga banyak menimba ilmu.

Agak lama saya jadi warga Malioboro. Namun hasil berdagang koran saya tak menunjukan ada peningkatan. Hanya bisa untuk makan harian saja. Dan yang tidak bisa saya sangka-sangka sebelumnya adalah, sering sekali saya sakit perut. Barangkali karena terlalu sering tidur di tempat terbuka, akhirnya masuk angin. Sehingga harus berkali-kali saya ke WC. Padahal, pergi ke WC tidak gratis. Maka rencana kuliah saya pun gagal lagi. Uang hasil menjaja koran ludes untuk biaya memasukan makan ke perut dan mengeluarkan kotoran dari perut. Itu saja.

Saya pasrah. Hanya itu yang bisa saya kerjakan. Niat bekerja sambil kuliah, ternyata sampai Yogya pun gagal. Saya memutuskan untuk pulang saja ke kampung. Sebelum pulang, karena saya kekurangan ongkos, saya mampir ke kontrakan seorang budayawan asal Jombang. Dari dia saya diberi uang. Dan tiba-tiba naluri 'bisnis' saya muncul lagi setelah memegang uang pemberian tersebut. Akhirnya uang itu tak langsung saya belikan tiket kereta api. Namun, suatu pagi sebelum pulang, saya pergi ke sebuah penerbit surat kabar. Dan uang tersebut saya gunakan untuk membeli koran untuk saya jual selama perjalanan dalam kereta.

Dengan semangat 45 saya naik kereta ekonomi jurusan Jakarta tanpa membeli tiket. Koran saya jual di situ. Karena masih pagi, dagangan saya laris manis. Saya mendapat untung banyak, tiket gratis, dapat membeli nasi bungkus, dan masih sisa uang. Rasanya gembira sekali hati saya hari itu.

Namun, kegembiraan itu tidak berumur lama. Menjelang stasiun kereta api Kutoarjo, saya ditemui tiga lelaki muda. Wajahnya menampakkah kekerasan. Di tangan-tangan mereka ada sebungkus koran dan majalah. Rupanya mereka adalah penjual koran juga. Mereka mengajak saya ke sebuah ruang kecil di antara gandengan dua gerbong. Dengan kata-kata kasar, salah seorang dari mereka berkata, "Kalau kamu mau hidup, hentikan jualan koranmu di sini. Atau kamu mau saya lempar keluar dari gerbong ini?"

Saya menatap muka ketiga laki-laki muda itu. Sorot mata mereka sudah tidak bisa saya ajak kompromi. Mereka sudah memperlihatkan mimik permusuhan. Saya hanya bisa menyerah dan mencoba mempertahankan diri. "Maaf, saya tidak tahu aturan berjualan disini. Saya kira siapapun boleh mencari makan di gerbong ini. Sekali lagi maaf. Saya hanya kali ini saja. Sekedar untuk ongkos pulang."

Dengan berbagai argumentasi, akhirnya mereka memaklumi saya, walaupun masih nampak kekecewaan mereka. Karena mereka menganggap ladang usahanya telah diserobot oleh saya. Ternyata di antara pedagang kecil seperti saya pun ada pertarungan maha hebat di dalamnya.

Saya berpikir sambil duduk di antara dua gerbong kereta ekonomi itu, di tengah gesekan kuat antara roda kereta api dan rel. Rupanya seperti inilah kuliah yang diberikan Allah kepada saya. Saya tidak bisa kuliah di dalam dinding-dinding kampus formal, saya tidak bisa berguru kepada guru besar yang bergelar profesor doktor, tapi Allah sendirilah yang memberi kuliah kepada saya. Bukan di UGM, UI, Unpad, Undip, ITB, IPB atau universitas formal lain, tapi di sebuah universitas yang sebenarnya. Yaitu kehidupan ini.

Setelah peristiwa itu saya makin menyadari, bahwa kuliah itu sama dengan sekolah. Sekolah itu sama dengan mencari ilmu. Dan mencari ilmu tidak harus di universitas yang berhadapan langsung dengan dosen. Kata orang-orang bijak: Debu yang beterbangan, rumput yang saya injak sehari-hari, setetes embun yang menempel di sehelai daun, adalah ilmu Allah yang tersirat.

Jadi, seandainya sampai akhir hayat saya tidak bisa kuliah di universitas yang saya sebut di atas, saya sudah tidak lagi menyesal dalam-dalam. Karena saat saya menulis ini pun hakekatnya adalah kuliah. Kuliah untuk mendekatkan diri saya pada-Nya.

Dan dengan lapang dada disertai keikhlasan, tentunya saya harus siap kembali menerima 'mata kuliah-mata kuliah' lain dari Allah SWT berupa cucuran keringat, deraian air mata, kesedihan, kekalahan, kegagalan, caci maki dan lain sebagainya. Agar ketika selesai dari kuliah di universitas kehidupan ini mendapat 'ijazah' dan 'toga' kemuliaan di hadapan-Nya.

Brunei, Juni 2005

ini pundaku mana bebanmu

Kemarin sore bus patas reguler jurusan Blok M-Tangerang yang saya tumpangi mendadak mogok. Sudah dicoba berkali-kali, namun sopir tetap gagal menghidupkan mesin bus yang sudah sarat penumpang itu. Sebagian besar penumpang berkesah, peluh pun menjadi hiasan seragam semua penumpang. Sepuluh menit sudah kendaraan itu mogok, hingga akhirnya kondektur berteriak minta tolong kepada penumpang laki-laki untuk membantu mendorong bus besar itu.

Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.

Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.

Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?

Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.

***

Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.

Sebuah pelajaran di sore hari

memulai pekerjaan besar

Siapa sih orang yang dalam hidup ini tidak punya cita-cita, keinginan, harapan dan impian yang ingin di raih? Apakah ada dalam kehidupan ini orang yang tidak punya harapan tentang suatu hal?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hidup di dunia ini setiap orang pastilah mempunyai cita-cita, impian dan harapan akan terkabulnya suatu keinginan. Keinginan individu yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, karena banyak faktor personal yang mempengaruhinya. Seringkali tujuan hidup kita diarahkan oleh seperangkat keinginan tersebut. Beberapa aktivitas yang kita lakukan selalu berkaitan dan dalam rangka mewujudkan keinginan yang melekat erat dalam benak setiap manusia.

Tapi jangan dikira keinginan tersebut tidak berkembang. Keinginan kita ketika masih TK mungkin hanya berkisar pada terbelinya beberapa ‘mainan’ yang dapat memuaskan aktivitas bermain. Tetapi lihatlah, ketika kita duduk di bangku SMA, apakah keinginan kita tetap pada ‘sekadar’ terbelinya beberapa ‘mainan’ tersebut? Tentu saja tidak. Keinginan kita tentu saja sudah berkembang, misalnya menjadi siswa yang berprestasi, masuk dalam sekolah favorit, menjadi ‘bunga’ sekolah, dan masih banyak keinginan yang lain. Seiring dengan perjalanan waktu, keinginan tersebut terlewati, ada yang tercapai dan ada yang tidak. Dan apakah ketika kita sudah memasuki dunia kerja, keinginan kita masih sama?

Adakah di dunia ini orang yang berjalan tanpa ada tujuan yang jelas? Tanpa ada keinginan yang ingin dicapai? Tanpa ada harapan akan terkabulnya suatu hal? Jawabnya, ada. Kalau boleh saya perinci, pertama jelas orang yang sakit jiwa alias tidak normal. Kedua, orang yang putus asa. Ketiga, orang yang masih bingung ke mana akan diarahkan diri dan kehidupannya, yaitu orang yang tidak tahu alasan keberadaannya di dunia ini.

Saya pernah berada dalam suatu kondisi di mana terdapat perbedaan kontras aktivitas yang dilakukan dalam satu komunitas. Sebagian dari komunitas tersebut sangat aktif dan selalu berkreasi, singkatnya tidak pernah diam. Namun ada juga sebagian orang dalam satu komunitas tersebut yang hanya menggunakan waktunya untuk sesuatu yang mubah seperti berbicara panjang lebar tanpa manfaat yang jelas.

Pada awalnya saya sempat bingung. Terus terang memang saya tergolong orang yang tidak bisa diam. Maka akhirnya tergabunglah saya dalam satu bagian komunitas tersebut. Melakukan berbagai pekerjaan yang insyaAllah bisa menambah ilmu. Bahkan di saat saya merasa kebingungan mengatur waktu, masih ada sebagian orang yang tiap hari luntang-lantung hanya mengobrol ke sana ke mari tanpa ada hasil nyata dari aktivitas kesehariannya tersebut.

Saya termenung.

Ya Allah betapa Engkau melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira kepadaku. Bahkan suatu saat di mana saya sedang ‘bete’, seorang teman menasehati, “Jadikan semua aktivitas ini sebagai ibadah. Jangan terbebani dengan hal-hal besar. Cobalah jalani dan kerjakan dengan maksimal apa yang ada sekarang ini.”

Dalam Adz-Dzariyat 56 Allah berfirman, "Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun" "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Sehingga sudah jelas bahwa kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.

Jadi, bagaimanakah wujud ibadah kita? Apakah ‘cukup’ hanya dengan melaksanakan ibadah mahdhoh semata? Apakah kita menutup mata pada ibadah yang sifatnya muamalah? Setiap aktivitas yang kita niatkan lurus untuk Allah, dengan jalan yang benar maka bisa termasuk dalam ibadah. Kemudian apa kaitannya dengan keinginan dan harapan? Ternyata tujuan hidup manusia sangat terkait erat dengan keinginan dan harapan.

Jika dikembalikan pada ad dzariyat 56, maka sudah selayaknya kita melakukan ‘seleksi’ pada keinginan dan harapan kita. Kembali kita kaitkan dengan tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini. Sekali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Apakah kemudian keinginan dan harapan kita akan terkukung dalam satu batasan maya? Apakah masih mungkin bagi kita untuk mempunyai keinginan besar?

Sangat mungkin. Karena dalam pencapaian suatu keinginan terkandung 2 hal : ikhtiar dan doa. Jadi, tidak ada alasan bagi kita ragu untuk mempunyai suatu keinginan besar. Hanya masalahnya, sudahkah kita mengukur diri, mencoba mengaitkan antara keinginan ‘besar’ kita dengan usaha yang telah dan ‘sedang’ kita lakukan? Termasuk di dalamnya apakah aktivitas (maupun pekerjaan) yang sedang kita lakukan sekarang ini dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ‘besar’ tersebut? Satu hal yang perlu diingat. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha dan berdoa. Tetapi hasil akhir ada di tangan Allah. Kita harus ber-tawakkal pada semua ketentuan Allah.

Saya pikir memang benar, penyebab utama ‘bete’ yang saya alami adalah karena saya terlalu memaksakan diri dan kurang menikmati aktivitas keseharian. Sejak saat itulah ada yang berubah dalam paradigma berpikir saya. Bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut harus kita wujudkan mulai dari pekerjaan yang kecil. Bukankah pekerjaan kecil jika dikumpulkan akan menjadi suatu pekerjaan besar? Dan secara logis dapat diterima bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar kita harus mulai dari pekerjaan yang kecil.

Dan tahukah apa pekerjaan besar yang saya rencanakan dalam hidup ini? Menjadikan setiap aktivitas keseharian dalam rangka beribadah kepada Allah. Baik aktivitas di tempat kerja, di rumah, dan dalam lingkungan keseharian. Saya ingin menjadi dosen yang baik, yang bisa memberikan ilmu yang tidak seberapa ini kepada mahasiswa sehingga mereka bisa mengambil manfaat daripadanya, dan tentu saja saya harus selalu meng-up date pengetahuan yang saya miliki. Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua sebagai bakti pada mereka berdua atas segala kasih sayang yang telah mereka berikan. Dan saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain serta menjadikan rumah tangga yang insyaAllah kelak saya bangun sebagai sarana beribadah kepada Allah.

Jadi, memang belum terlambat kan bagi kita untuk memulainya

Ilustrasi manajemen waktu

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Senin, 13 April 2009

Si Pencuri Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Ia terbenam dalam bukunya, tetapi kebetulan ia melihat, bahwa lelaki disebelahnya, dengan begitu berani, mengambil satu kue dari kantong yang terletak di antara mereka, ia mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam, sementara si "Pencuri Kue" yang pemberani menghabiskan persediaannya.Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu . Berpikir," kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia!". Setiap kali ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.

Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, "Ya ampun, Orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah, ia tidak kelihatan berterima kasih !". Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang, menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantung kuenya, di depan matanya! "Kok milikku ada di sini," erangnya dengan patah hati, "Jadi Kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi!" terlambat untuk minta maaf, ia tersandar dengan sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah si pencuri kue itu!

Lalu saya teringat dalam hidup ini kisah pencuri kue ini sering terjadi. Kita selalu sering berprasangka. Dan kita selalu terlalu sering melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Dan tak jarang kita sering berprasangka buruk. Oranglah yang kasar, oranglah yang tak tahu diri, oranglah yang berdosa, oranglah yang salah, oranglah yang kurang beriman, oranglah yang munafik, oranglah yang mencuri. Padahal kita yang mencuri.

Dan betapa seringnya kita mengatakan sesuatu itu adalah milik kita, padahal kalau di renungkan semua yang diatas bumi ini adalah milik Allah. Dan betapa seringnya kita mencuri Milik Allah? Maka Tuhan memberi peringatan pada kita melalui Al-Quran.

"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga." (QS. 10:66)

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. 49:12)

Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu, "Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..., kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, "Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

***

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita menjadi manusia yang berguna. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, "Ini hamba-Mu ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki. Hamba siap menjalaninya."

Batu Kecil

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

***

Allah SWT kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Allah SWT melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Allah SWT sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Anak Anjing

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menaik bagi anak- anak kecil, "Dijual Anak Anjing".

Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya "Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu menjawab, "Harganya berkisar antara 30 - 50 Dollar."

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing- anjingnya.

Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang. Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu.

Tanyanya, "Kenapa dengan anak anjing itu?"

Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing yang cacat itu."

Pemilik toko itu menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu."

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu."

Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya."

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya."

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, "Aku akan berdoa setiap hari agar anak- anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau."

Semangkuk Bakmi

Pada malam itu, Sue bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Sue segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Sue berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu ia berkata "Nona, apakah engkau ingin semangkuk bakmi ?"

"Tetapi, aku tidak membawa uang", jawab Sue dengan malu-malu.

"Tidak apa-apa. Aku akan mentraktirmu", jawab sang pemilik kedai. "Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untuk mu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi dengan sepiring sayuran. Sue segera makan beberapa suap dan kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak ?" tanya si pemilik kedai.

"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya terharu" jawab Sue sambil mengeringkan air matanya. "Bahkan, seorang yang baru aku kenal pun mau memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi, Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, langsung mengusir aku dari rumah. Ibu mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Sebaliknya, engkau, orang yang baru aku kenal ternyata begitu peduli dengan keadaanku. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" ujar Sue yang ternyata tidak mampu membendung gejolak isi hatinya.

Pemiliki kedai itu, setelah mendengar perkataan Sue, tampak menarik nafas panjang dan kemudian berkata "Nona, mengapa engkau berpikir seperti itu ? Renungkanlah hal ini. Aku hanya memberimu semangkuk bakmi, dan untuk itu engkau pun menjadi sangat terharu. Coba bayangkan, Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu semenjak engkau masih kecil hingga akhirnya beranjak dewasa. Mengapa engkau tidak berterima kasih kepadanya? Malah, engkau bertengkar dengan beliau".

Sue terhenyak mendengar perkataan tadi. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut ? Untuk semangkuk bakmi dari seseorang yang baru aku kenal, aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada Ibuku yang telah memasak selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengan Ibu", renung Sue dalam hati.

Sue pun segera menghabiskan bakmi tersebut dengan cepat. Lalu, ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus dia ucapkan kepada Ibunya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan "Ibu, aku minta maaf, aku tahu bahwa aku memang bersalah. Maafkan aku."

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ternyata sang Ibu telah mencari Sue ke semua tempat. Ketika ia bertemu dengan Sue, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Sue, cepatlah masuk. Ibu telah menyiapkan makan malam. Segeralah kamu makan makanan itu, akan menjadi dingin jika kamu tidak memakannya sekarang", ujar sang Ibu sambil tersenyum.

Pada saat itu, Sue tidak dapat menahan air matanya dan ia pun menangis sejadi-jadinya di pangkuan sang Ibu. "Ibu, maafkan aku" kata Sue sambil terisak.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk sebuah pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi, kepada orang yang sangat dekat kepada kita, khususnya orangtua kita, kita harus ingat bahwa kita hendaknya berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Renungan :

Kita tidak boleh melupakan jasa orangtua kita. Sering kali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami. Tetapi, kasih dan kepedulian orangtua kita adalah sebuah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir. Mereka membesarkan kita tanpa mengharapkan balasan dari kita. Renungkan dan pikirkanlah mengenai hal ini. Apakah kita sudah menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orangtua kita ?

LENTERA

Keemosian yang membahana terlebih kepada orangtua, tak ada guna dan bahkan bisa berakibat fatal. Penyesalan tiada artinya, akibat dari keputusan yang diambil dari balutan rasa emosi. Orangtua ataupun keluarga adalah bagian dari jiwa yang tak mungkin kita rela untuk menyakiti mereka. Cintai dan curahkan kasih dan sayang untuk mereka, seperti kita takkan bertemu mereka esok.

1 tamparan untuk 3 pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air.

Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.

Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:

1. Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?

Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.

Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!

Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda : Saya tidak bisa.

Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

Jumat, 10 April 2009

10 kiat mjd sahabat baik

1.Bersikaplah terbuka.

Keterbukaan tidak saja akan membuat sahabat Anda lebih mengenal Anda, tetapi Anda juga akan lebih mengenal diri sendiri. Ungkapkanlah perasaan2, keinginan dan harapan-harapan Anda. Hanya dengan keterbukaan, Anda bisa bicara dari hati kehati, dan itu sangat penting bagi keintiman persahabatan.
2.Ciptakanlah keseimbangan antara memberi dan menerima.

Anda tidak cukup hanya berperan sebagai pemberi tanpa menerima atau hanya sebagai penerima tanpa memberi. Hal ini menyangkut aspek yang luas, termasuk berbagi kegembiraan dan kesedihan.
3.Terimalah sahabat Anda sebagaimana adanya.

Jadilah sahabatnya tanpa menuntutnya berubah sesuai keinginan Anda. Mungkin dia terlalu cerewet, agak cuek, sangat sensitif atau matre. Dia memang tidak sempurna dan mungkin sering melakukan hal-hal yang Anda tidak sukai. Namun jangan lupa, Andapun tidak luput dari kelemahan dan kekurangan.
4.Bila sahabat Anda mempunyai sifat atau kebiasaan yang umumnya tidak disukai orang lain dan bisa menghambat pergaulannya, ingatkanlah dia pada waktu yang tepat.

Barangkali selama ini dia tidak menyadari atau belum pernah ada seorangpun yang mengkritiknya. Kalau diperlukan, berilah saran dan biarkan dia berubah sedikit demi sedikit. Supaya fair, boleh juga Anda memintanya mengkritik Anda.
5.Bermurahhatilah.

Ulurkanlah tangan ketika ia memerlukan bantuan, hiburlah ketika dia sedang sedih, dengarkanlah ketika dia mencurahkan isi hatinya, temanilah ketika dia mengalami masa-masa sulit, doronglah semangatnya dll.
6.Berikanlah perhatian.

Meskipun ia tampak tidak membutuhkannya, namun dia akan senang menerimanya. Jangan melupakan hari-hari istimewanya, bawakan oleh-oleh ketika Anda Pulang dari kota, pujilah potongan rambutnya yg bagus, tanyakan khabar keluarganya, dsb.
7.Bersikaplah penuh toleransi.

Tidak ada masalah bila Anda berbeda dengan sahabat Anda, baik agama, suku, prinsip atau kebiasaan. Semua itu bisa memperkaya suatu persahabatan bila kedua belah pihak mau saling mengahargai. Dan semakin baik toleransi Anda, maka akan semakin matang kemampuan Anda bersosialisasi.
8.Hargailah sahabat Anda sebagai seorang pribadi yang punya harga diri.

Meskipun hubungan sudah sangat akrab, dia masih bisa tersingung dengan sikap dan ucapan Anda. Hatinya bisa terluka bila dihina, dikecam atau dipermalukan, meskipun dalam konteks bercanda.
9.Hormatilah privasi sahabat Anda.

Bila dia menceritakan sesuatu rahasia, jangan membocorkannya karena itu berarti mengkhianati perasaannya. Ketika dia sedang ingin sendiri, jangan mengganggunya. Jangan tergoda untuk membuka buku hariannya, tas atau dompet miliknya tanpa ijin, dsb.
10.Bila terjadi konflik, selesaikanlah segera.

Mulailah mengambil inisiatifuntuk menyelesaikannya. Jangan menunda-nunda apalagi bersikap seakan-akan tidak ada masalah. Meskipun konflik bisa mengganggu hubungan persahabatan, namun bila diselesaikan dengan baik bisa membuat hubungan menjadi lebih intim.
Orang yang mempunyai sahabat akan lebih sehat dan bahagia daripada mereka yang tidak punya seorangpun. Seorang sahabat lebih berharga dari emas atau permata. Kekayaan tidak bisa membelikan Anda seorang sahabat atau membayar kerugian akibat kehilangan seorang sahabat. –C.D. Prestice

Senin, 16 Maret 2009

tangis rasulullah

Setiap orang pasti pernah menangis, baik kaum pria maupun wanita. Akan tetapi tahukah Anda, mengapa dan karena siapa mereka menangis? Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam juga menangis, padahal dunia berada dalam genggamannya jika beliau menghendaki. Dan Surga ada di hadapan beliau, sementara beliau berada di tempat yang paling tinggi di dalamnya. Benar, beliau memang sering menangis, sebagaimana tangisan seorang hamba ahli ibadah. Beliau menangis di dalam shalat tatkala bermunajat kepada Rabb Subhannahu wa Ta'ala. Beliau juga menangis ketika mendengarkan tilawah Al-Quran. Tangisan yang bersumber dari kelembutan hati dan ketulusan nurani serta dari ma’rifat keagungan Allah Subhannahu wa Ta'ala.

–Yakni bin Abdillah bin Asy-Syikhkhir- dari bapaknya –yakni Abdullah bin Asy-Syikhkhir Radhiallaahu anhu- ia berkata: "Aku datang menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ketika beliau sedang shalat. Dari rongga dada beliau keluar suara seperti bunyi air yang tengah mendidih di dalam kuali, disebabkan tangis beliau." (HR. Abu Daud).

Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah berkata kepadaku: “Bacalah Al-Qur’an untukku”

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku yang harus membacanya, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?”

Beliau menimpali: “Aku lebih suka mendengarkannya dari orang lain.”

Akupun membacakan surat An-Nisaa’ untuk beliau. Hingga telah sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. An-Nisa: 41). Aku lihat air mata beliau menetes.” (HR. Al-Bukhari).

Cobalah perhatikan uban yang menghiasi rambut beliau. Jumlahnya lebih kurang delapan belas helai di kepala dan janggut beliau. Camkanlah dengan mata hatimu, dengarkanlah kisah uban putih tersebut dari penuturan beliau. Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah bertanya: “Wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, sungguh Anda telah beruban.” Beliau menjawab: “Surat Hud, surat Al-Waqi’ah, surat Al-Mursalat, surat ‘Amma yatasaa‘aluun dan surat Idzasy Syamsu kuwwirat telah menyebabkan aku beruban.” (HR. At-Tirmdzi).

semut,laba-laba dan lebah

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an. An Naml [semut], Al 'Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi uraian Al-Qur'an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.

Entah berapa banyak juga tipe 'laba-laba' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa".

Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : "Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

dear diary

03 Februari 2003

Dear diary…


04 Februari 2003

Hari ini aku bahagiaaa baget, ry. Pagi-pagi sekali Dad ‘n Mom bangunin aku. Mereka mencium pipiku dan ngucapin happy b' day. Tapi setelah itu aku langsung disuruh bangun buat shalat shubuh. Yee, kirain mau kasih hadiah. Tunggu dulu. Pas sarapan, Mom kasih kado berpita merah jambu. Katanya dari Dad ‘n Mom. Langsung dech aku buka. Kamu tahu isinya apa? Jilbab, lagi? Ya, ini adalah jilbab kelima yang dihadiahkan oleh Dad ‘n Mom sejak ultahku yang ke dua belas. Dan seperti biasa ada secarik kertas bertuliskan ‘SEMOGA TETAP ISTIQOMAH'. Hm… Dad ‘n Mom ini, kayaknya gak percaya dech kalau aku sudah bisa beristiqomah berjilbab semenjak masuk SMP dulu. Oh iya hampir lupa, bang Aldi kasih aku sebuah novel dan tiga buah buku kumpulan cerpen remaja islami. Wah senangnya. Nggak biasanya lho abangku yang satu ini ngasih aku hadiah buku banyak begini. I love you all.

Di sekolah aku habis-habisan dikerjain temen-temen sekelas. Mulai dari dicuekin sejak jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah, pas mau pulang dibanjur air beraneka rupa, dilemparin telor, ditaburin tepung terigu. Pokoknya jail abis. Tapi aku seneng mereka ingat hari ulang tahunku. Thanks dude.


06 Februari 2003

Dear diary…
Aku bosan dengan novel dan kumpulan cerpen yang sering dihadiakan bang Aldi. Isinya monoton. Tema-tema yang diangkat pasti tidak jauh dari tokoh utamanya yang anak Rohis, cewek-cewek, eh akhwat yang mencoba istiqomah berbusana muslimah, kesedihan sang tokoh utama karena orang tuanya meninggal dan dia terpaksa menjadi gelandangan atau gembel, orang-orang yang segera insyaf dari dosa dan maksiat yang dilakukannya setelah mendengar adzan atau orang mengaji, dan masih banyak lagi tema-tema membosankan lainnya.

Mengapa yach para pengarang novel dan cerpen itu selalu menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang tampan atau cantik, pintar di sekolah, aktiv di organisasi – utamanya Rohis –, jago basket atau karate, gape ngomong English and so on and so on. Sungguh, they are too good to be true. Atau aku aja yang ngiri kali yach? He he he ….


08 Februari 2003

Dear diary…
Aku sayang Dad ‘n Mom, namun kadang-kadang aku nggak suka sama sikap mereka yang sok tahu. Gimana nggak sebel coba. Tadi pagi pas sarapan aku minta ijin buat datang ke pestanya Sherly, teman sekelasku. Kakaknya – Dani – baru menyelesaikan studinya di Aussie, jadi Sherly and Dani kompakan mengadakan syukuran yang nanti diadakan bertepatan dengan hari Valentine. Biar seru katanya.

Kamu tahu reaksi mereka, Ry? Aku diberondong banyak banget pertanyaan. Mulai dari Pestanya siang atau malem? Yang dateng siapa aja? Acaranya ngapain aja? Pulangnya jam berapa? Entar dateng dan pulang sama siapa? dan banyak lagi. Kenapa sich mereka kok heboh banget, apalagi Bang Aldi. Abangku yang satu ini kayaknya nggak suka dech ngeliat adiknya ini seneng dikit ajah.

Mati-matian aku meyakinkan mereka. Aku bilang pestanya jam delapan malem, yach paling-paling sempe jam sebelasan gitu. Emang agak malem sich. Khan biasanya aku harus sudah ada di rumah paling malem jam sembilanan gitu, kasian yach. Aku bilangin juga bahwa aku nggak dateng sendirian kok nantinya. Ada si Erin, Wiwi, Evelyn, Siska dan Doni, pacarnya Siska yang nanti jadi sopir dan siap antar jemput. Mengenai acaranya, ya apalagi? Namanya juga pesta syukuran. Pasti ada acara makan-makan, ngumpul-ngumpul bareng temen-temennya Sherly dan kakanya, ngobrol banyak hal. Itu ajah kok.

Kata Mom gimana besok dech dan itu sudah cukup membuat kesan bahwa aku tidak akan diizinkan.


12 Februari 2003

Dear diary…
Kadang-kadang kepikiran lho buat sesekali ngelanggar apa yang dilarang Dad ‘n Mom. Kayak apa yach rasanya?

Bukankah selama ini aku sebagai seorang anak tergolong penurut. Aku nggak pernah bertingkah yang macem-macem, sebagai seorang perempaun aku turuti perintah Mom untuk menutup aurat sejak masuk SMP, nilai rapotku tidak terlalu jelek, walaupun belum dapat dikatakan memuaskan. Tapi aku selalu berusaha lho untuk memenuhi semua kriteria anak baik di mata Dad ‘n Mom.


13 Februari 2003

Jadi rencananya gini ry…
Besok siang – mungkin sampai sore, I hope so – ada rapat untuk acara pelantikan anak-anak PMR yang baru (gini gini aku memiliki jiwa sosial yang tinggi lho). Terus aku bilangin aja ke Mom minta izin pulang agak terlambat, mungkin agak malem. Baju buat ke pesta akan aku bawa pas paginya. Berat dikit nggak pa pa, yang penting Mom nggak curiga. Nah, pas sorenya Siska and the gang suruh jemput aku disekolah. Dengan begitu aku bisa bolos rapat, bilang aja ada keperluan mendadak.

Gimana? Rencanaku oke khan.


14 Februari 2003 ultahnya Sherly

Dear diary…
This is the day. Waktu berangkat tadi pagi, aku ngelihat sorot mata Mom mencurigai sesuatu. Aduh aku jadi gemeteran waktu itu. Tapi bukan Adella namanya kalau enggak bisa merayu Mom sedemikian rupa. Namun bagaimanapun juga, sorot mata Mom menyiratkan sesuatu. Apa yach?

Siang sampe sorenya aku rapat PMR. Sebenarnya aku nggak konsen, tapi mau gimana lagi. Namanya juga demi memenuhi undangan teman.

And then, let the party started. Tepat jam enam sore Siska and the gang datang. Langsung aku cabut dari rapat setelah sebelumnya ganti kostum (cie…) di ruang OSIS. Kulihat Siska, Erin, Wiwi dan Evelyn nampak cantik dengan pakaian yang serba pink, seperti juga jilbab dan pakaian yang aku kenakan. Emang malam ini khan dress coat-nya serba pink, namanya juga hari valentine.

Tiba di rumah Sherly yang berada di kawasan elit kota ini, kami langsung masuk. Sherly menyambut kami di ruang tengah. Ia memperkenalkan Dani kepada kami. Lucu juga… Aku, Erin, Wiwi, dan Evelyn sepakat. Setelah itu kami dipersilahkan menuju ruangan pesta akan berlangsung.

Tempat pesta itu terletak di pinggir kolam, di sayap kanan rumah mewah itu. Tempat itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga atmosfir valentinenya begitu terasa. Balon-balon berbentuk hati, pita-pita yang dibentangkan dari sudut ke sudut, serta lampu-lampu hias semuanya berwarna pink. Di salah satu sudut – food court – tertata rapih aneka hidangan yang mengundang selera sementara di sudut lainnya ada sebuah panggung kecil yang menjadi sentra acara. Dentuman house music membuat suasana pesta kian meriah.

Undangan yang datang sudah cukup banyak. Kebanyakan teman-teman Dani sewaktu SMU dulu, sesisanya adalah teman-teman Sherly yang sudah kukenal. Kami pun asyik ngobrol ke sana ke mari sebelum acara dimulai. Dalam keramaian itu aku merasa ada sepasang mata yang sejak aku datang tadi selalu memperhatikan aku. Aku mencari-cari kesekeliling. Ah, nggak ada yang…. Tunggu dulu, kayaknya Dani ngeliatin aku terus dech. Gimana nggak diperhatiin coba, aku khan eye catching banget. Aku satu-satunya gadis berjilbab di pesta itu, atau… Ah aku aja yang kege-eran kali yach.

Aku menikmati acara demi acara dalam pesta itu, sampai akhirnya acara blind date itu membuat perasaanku tak menentu. Saat itu semua undangan dipasang-pasangkan dan mereka di beri waktu satu jam untuk saling mengenal untuk selanjutnya tiap-tiap pasangan akan disuruh tampil keatas panggung menyatakan perasaan mereka. Waktu itu entah disengaja atau tidak aku berpasangan dengan Dani. Semula aku tidak memiliki perasaan curiga apa pun juga walaupun aku tahu tujuan acara ini agar tiap undangan yang jomblo bisa mendapatkan pasangan. Aku tahu reputasi Dani sebagai play boy dari Sherly. Malam ini Dani tidak bertingkah macam-macam, kok. Kami hanya ngobrol tentang pengalaman dia di Aussie. Aku merasa cukup aman dengan pakaianku sehingga cowok play boy macam Dani nggak akan berani macam-macam. Namun dugaanku salah.

Di sela-sela obrolan kami saring aku dapati mata Dani liar memperhatikan sekujur tubuhku. Dari ujung jilbab sampai ujung kaos kaki yang aku kenakan. Dari bau nafasnya aku tahu jenis minuman apa yang berada di gelas yang ia pegang, walaupun ia tidak – atau mungkin belum – nampak mabuk. Dan satu hal yang membuat keputusanku bulat adalah saat ia berusaha memegang tanganku, bahkan akan merangkulku.

STOP. Dengan tergesa dan tanpa permisi aku berlari pulang. Meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapku heran, meninggalkan Dani dengan kegagalannya menyentuhku, meninggalkan hingar bingar pesta yang kian menggila, serta meninggalkan kebodohanku datang ke pesta semacam itu. Aku biarkan air mataku menganak sungai. Aku menyesal dan merasa berdosa telah melakukan ini semua.

Sampai di rumah sudah pukul sepuluh lebih dua belas menit. Kulihat Mom menungguku di teras. Aku langsung menghambur ke pelukan Mom dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada kata yang terucap. Mom membimbingku ke kamar dan menyuruhku istirahat.


15 Februari 2003

Diary….
Aku malu sekali atas kejadian kemarin. Ketika sarapan, kulihat Dad, Mom dan bang Aldi saling diam. Aku sudah siap apabila nanti aku akan disidang habis-habisan. Aku harus mempertanggungjawabkan kesalahanku. Namun tidak ada yang berkomentar. Semua orang asik dengan sarapannya masing-masing. Kuberanikan diri berkata Adella minta maaf atas kejadian semalem. Semua saling pandang. Dad angkat bicara. Katanya Semoga kamu dapat mengambil pelajaran atas kekhilafan kemarin. Oh Dad, kenapa Daddy tidak marah atau menghakimi aku? Mom? Mom menarik nafas sebelum berkata Sekarang kamu tahu khan alasan kami melarangmu? Ya, lebih dari mengerti, Mom. Bang Aldi diam saja.

Satu hal lagi Mom, tentang rapat itu Adella tidak bohong. Mama hanya tersenyum dan berkata Tentu saja sayang, Mom tidak pernah mengajarkan anak Mom berbohong khan? Terima kasih Mom atas kepercayaannya. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi, Mom.


17 Februari 2003

Dear Diary…
Tiga hari setelah kejadian di pesta itu Sherly minta maaf. Aku bilang itu bukan kesalahannya. Tapi tetap saja dia merasa berdosa karena telah mengundang aku. Sudahlah kita lupakan saja kejadian 14 Februari yang kelabu itu.


20 Februari 2003

Diary…
Hari ini Evelyn curhat. Katanya, semua cowok itu brengsek. Evelyn ingat kejadian di pesta Sherly. Ketika ia melihat aku lari keluar dari pesta itu, ia sedang bersama sorang laki-laki yang baru ia kenal malam itu. Laki-laki itu berkata Wah Dani lagi apes hari ini. Nggak biasanya ada cewek yang nolak dia. Baru pemanasan ajah udah lari. Gimana kalau… Evelyn tidak harus melanjutkan kisahnya, aku sudah tahu apa yang direncanakan Dani dan teman-temannya dalam pesta itu. Syukurlah keputusanku meninggalkan pesta itu menyadarkan Evelyn, Wiwi, Erin serta teman-teman sekelasku – terutama yang wanita – untuk menyadari ada apa di balik pesta itu sekaligus menggagalkan rencana Dani cs.

Aku tidak habis pikir, seorang wanita berjilbab saja masih menjadi sasaran mata jalang laki-laki yang haus syahwat, apalagi mereka yang pada saat pesta itu menggunakan pakaian serba terbuka.


24 Februari 2003

Dear diary…
Hari ini aku pinjam majalah remaja edisi Valentine yang di beli Wiwi kemarin. Tentu saja isinya semua tentang Valentine. Dari acara valentine yang paling romantis, pernak-pernik valentine, pakaian yang asik buat nge-date di malam valentine, serta rencana artis-artis – baik lokal maupun internasional – dalam merayakan valentine. Kayaknya semua itu nggak cocok dech sama aku. Terlalu menyeramkan dan membuat bulu kudukku berdiri, apalagi bila ingat kejadian di pestanya Sherly itu. Hii…..


28 Februari 2003

Diary…
Malam ini hujan turun cukup deras memberikan sensasi kesejukan di hati ini. Hilang sudah kekeringan yang selama beberapa bulan terakhir mencengeram bumi. Entahlah, aku ingin agar bulan Februari ini segera berakhir agar dapat kugoreskan lembar kisah baru di lembaranmu ini. Biarlah semua kenangan buruk di bulan yang mereka sebut ‘Bulan Cinta' larut bersama tetes-tetes airu hujan yang terserap bumi.

Have a nice sleep, Adella. Semoga mimpi indah.

nice story

Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia,karena dia bisa memilih untuk menjadi "setan atau malaikat" (John Scheffer)
----------------------
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.

Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

* * *

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

--------------------------------------
"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.

Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita. Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
--------------------------------------

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya. Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu.

Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya. Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali.

Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

icried for my brother six time

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

akhlak rasul

Perilaku seseorang merupakan barometer akal dan kunci untuk mengenal hati nuraninya. ‘Aisyah Ummul Mukminin putri Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma seorang hamba terbaik yang mengenal akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan yang dapat menceritakan secara detail keadaan beliau shallallahu 'alaihi wasallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik saat tidur maupun terjaga, pada saat sakit maupun sehat, pada saat marah maupun ridha.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan." (HR. Ahmad).

Demikianlah akhlak beliau shallallahu 'alaihi wasallam selaku nabi umat ini yang penuh kasih sayang dan selalu memberi petunjuk, yang penuh anugrah serta selalu memberi nasihat. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau.

Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan:

“Beliau shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.”

Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.”

Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah.

Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.”

Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi).

Cobalah perhatikan satu persatu akhlak dan budi pekerti nabi umat ini shallallahu 'alaihi wasallam. Pegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguhlah dalam meneladaninya, sebab ia adalah kunci seluruh kebaikan.

Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah: “Barangsiapa yang wafat sedangkan ia memohon kepada selain Allah, ia pasti masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhari).

Di antaranya juga: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (Muttafaq ‘alaih).

Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di malam kelam, berupa cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Demikian pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: “Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kamu.” (HR. Abu Daud).

Diriwayatkan juga dari beliau: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).

Selasa, 24 Februari 2009

Valentine Die

Tanggal 14 Pebruari sudah identik dengan kata valentine. Valentine’s Day (VD). Tua, muda, membanjiri toko-toko souvenir yang menjajakan pernak-pernik perayaan valentine yang notabene diartikan hari kasih sayang. Bahkan ada toko di Samarinda ini yang mewajibkan karyawannya membawa kado untuk acara tuker-tukeran kado di tanggal tersebut. Bener gak sih valentine itu artinya kasih sayang ? Apa sih sebenarnya yang melatarbelakangi kehebohan masyarakat dunia ini terhadap tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya ? Kenapa juga muslimah kita latah berpink ria tanda suka cita menyambut tanggal tersebut ?

Salah Kaprah

Banyak orang salah kaprah, mengartikan kata valentine sebagai “Kasih sayang”. Idih PD banget yang bilang begitu. Emang di kamus ada artinya ? Kamus apa coba ? Kamus latin ? Hayo bisa jawab nggak ?! Makanya jangan sok ikut-ikutan sebelum tahu asal-usulnya.

Sebenarnya kata valentine itu diambil dari nama seorang birhop di Terni, suatu tempat kira-kira 60 mil dari Roma, yang hidup diakhir abad ke 3 M di zaman raja Claudius II. Tepat tanggal 14 Pebruari 270 M St. Valentine dihukum mati oleh rajanya. Kenapa ? Kabarnya ia mengajak manusia memeluk agama nasrani. Dalam versi lain dijelaskan bahwa Claudius II menganggap bahwa para bujangan lebih tabah dalam berperang dibandingkan yang telah menikah sampai akhirnya timbul larangan pernikahan. Valentine menentang pelarangan tersebut dengan mengadakan pernikahan di gereja secara diam-diam, namun naas akhirnya ketauan juga. Dipenjara deh. Dalam penjara Valentine “mucil” (=bandel, -red), pake jatuh hati sama anak sipir yang sedang sakit, tentu setelah dia berhasil menyembuhkannya. Walhasil ketangkap basah lagi, jadi juga doi dihukum mati.

Dalam versi lain diceritakan bahwa pada awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang bertitel Lupercalia setiap tanggal 15 Pebruari, sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita < perkawinan) serta Pan (Tuhan di alam ini). Di acara itu ngumpul laki-laki dan perempuan, saling memilih pasangan lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya, lantas tuker-tukeran. Lalu ? hura-hura sampai pagi. Alamak sebegitunya ! Seiring dengan perkembangan, pihak gereja berinisiatif memindahkan upacara penghormatan terhadap berhala itu jadi tanggal14 Pebruari. Tujuannya pun banting stir, bukan lagi menyembah berhala tapi menghormati seorang pendeta kristen yang tewas dihukum mati. Nama Lupercalia pun diganti jadi Saint Valentine’s Day.

Nah lho.. kamu-kamu yang ikutan hajatan VD ternyata merayakan peringatan yang bukan dari Islam.

Imbasnya Terhadap Masyarakat Muslim

Indonesia pun nggak luput dari biasnya, bahkan nggak sedikit masyarakat muslim yang latah ikut-ikutan. Aduh.. koq bisa begitu ya ? Apa karena tertarik dengan warna pink yang ditawarkan ? Atau gemerlapnya VD ? Mungkin juga hanya berkeyakinan “Hari Kasih Sayang”. Jangan mudah tertipu kawan. Itu adalah rangkaian dari peringatan mengenang kembali seorang pendeta, bagian ritual mereka. Itu mah bukan produk peradaban Islam.

Tahu nggak sobat, dengan melibatkan diri pada acara begituan sama aja sudah mengingkari keyakinan kita pada Islam. Sebagaimana Rasul telah melarang umatnya untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, seperti termaktub dalam Hadits Riwayat At-Tirmidzi, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” Terlebih-lebih dalam Al-Qur’an sendiri, Alloh SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra : 36).

Mengekornya umat kita terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang, lagi pula menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Alloh SWT berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 51).

Diantar dampak buruk menyerupai mereka adalah ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah.

Lantas bagaimana dengan maksud hati tidak untuk mengenang kembali Valentine, tapi lebih tertuju pada hari kasih sayangnya ? Pertanyaan ini yang kadang terucap oleh mereka yang sudah gandrung dengan perayaan tersebut, hingga mencari-cari alasan agar tetap mempunyai hari khusus untuk mengungkapkan rasa sayangnya terhadap orang yang dicintainya yaitu tanggal 14 Pebruari.

Jawabnya seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya !” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Jauhi VD

Jadi jelas sudah bahwa perayaan VD adalah budaya Barat yang merambat di relung hati mereka yang alpa terhadap pengetahuan tentang Islam. Mereka merayakannya berdasarkan “kelatahan”. Mematri kata “Kasih Sayang” sebagai alasan menghindari / mengganti kata-kata Valentine. Padahal mempunyai arti yang sama. Yang paling menyedihkan adalah mereka tahu kalau Valentine adalah nama seorang pendeta, tapi mengapa juga tetap menutup mata dan telinga. Seolah-olah tidak mengetahui kebenaran tersebut, mencoba mendustakan hati. Hati-hati kalau sudah begitu, pintu hati bisa ditutup oleh Pembuat Hati, Alloh SWT. Nauzubillah.

Valentine merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam, dan dapat disimpulkan bahwa hukumnya adalah haram.

Valentine sudah memakan banyak korban, khususnya remaja kita. Banyak yang tertipu oleh gemerlap yang ditawarkannya, hingga menikam perasaan dan pikiran sehat mereka.

Dampak buruk lainnya, dengan mengekor mereka berati memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengakui agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Faatihah ; 6-7).

Hmm.. renungin deh, gimana bisa kita memohon kepada Penguasa Kehidupan, Alloh SWT untuk ditunjukkan jalan yang lurus, sementara sendirinya ber-VD-ria.

Sobat Shahirah, perayaan VD lebih terarah pada pengumbaran hawa nafsu. Cinta yang tak terbelenggu. Ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Apalagi lebih terarah pada lain jenis. Adakah manfaat didalamnya ? Cuma mudhorat yang menyertainya. Ingat pada ancaman Alloh SWT : “Dan jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah : 120).

Kasih Sayang yang Sesungguhnya

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membanggakan diri.” (An-Nisaa’ : 36)

Kasih sayang (silaturahmi) merupakan kebutuhan bagi setiap umat. Pengungkapan rasa sayang tersebut tidak berpatok pada satu hari saja (14 Pebruari), tapi sepanjang masa hidup kita. Sentuhan kasih sayang jangan dikonotasikan pada satu obyek saja yaitu lain jenis. Cakupan kasih sayang (silaturahmi) sangatlah luas, terhadap teman, keluarga, saudara seiman, dll. Dimana makna kasih sayang yang sebenarnya adalah kelembutan perasaan yang mampu melahirkan sikap saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan kemanfaatan, menutupi aib saudara, bermurah hati, bermuka cerah dan tersenyum bila bertemu, hingga hati menjadi lapang dan menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama insan.

Kasih sayang yang terwujud dalam bentuk silaturahmi, tentu memberikan manfaat yang sangat besar bagi hidup. Trus.. gimana sih sebenarnya cara menumbuhkan rasa kasih dan sayang itu ?

Bersilaturahmi, dengan saling menyayangi dan mengunjungi, semata-mata karena mengharap ridho Alloh SWT. Tersenyum bila berjumpa, dengan senyum bisa melapangkan hati orang lain dan bernilai shodaqoh lho. Saling jabat tangan, tentu aja harus dengan sesama jenis. Kalaupun dengan lain jenis, haruslah dari golongan mahramnya. Bila melanggar syariat, bukan kasih sayang lagi hasilnya, tapi maksiat dan dosa. Abu Daud meriwayatkan “Tidak ada orang muslim yang apabila berjumpa (saudaranya) kemudian berjabat tangan, kecuali keduanya akan mendapat ampunan dosa sebelum mereka berpisah”. Memberi ucapan selamat, hal yang sepele bagi kita, tapi akan memberikan kesan khusus bagi penerima ucapan tersebut, terciptanya suasana senang dan hati yang lapang padanya. Memberi hadiah (oleh-oleh), seperti yg diriwayatkan Iman Jailani bahwa dengan hadiah akan mewariskna rasa cinta kasih dan menghilangkan kedengkian (kekotoran hati). Tentu semuanya diiringi dengan keikhlasan, tanpa mengharap balasan. Kalo niatnya mengharap balasan yg lebih wah, sama aja boong. Saling mendoakan, hal ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan ketenangan bagi keduanya. Bersikap lemah lembut.

So.. sobat Shahirah, gitu deh kasih sayang yang sesungguhnya. Insya Alloh ukhuwah kita akan tetap langgeng, kalo kita berpatok pada ke-8 hal di atas, hingga pahala dari Alloh tetap mengalir dan kebahagiaan serta ketenangan pun senantiasa mendampingi perjalanan hidup kita. Untuk itu.. yuk.. masing-masing kita senantiasa mendekatkan diri dengan orang-orang yang benar, orang-orang yang saling berkasih sayang semata-mata karena Alloh SWT.

***

Makanya jangan salah langkah lagi, selama ruh masih dikandung badan, tidak ada kata lambat untuk memperbaiki diri dan merenovasi hati. Yuk.. kembali ke jalan yang telah digariskan Alloh SWT buat kita, hingga kita bisa melangkah bersama dalam alunan nuansa Islam yang indah. Semoga Alloh melindungi kaum muslimin dari segala fitnah yang tampak ataupun yang tersembunyi dan membimbing langkah kita ke dalam Ridho-Nya. Amien. Amien Ya Robbal Alamin.

(Rojab Umar A)
dakwatuna-dakwah.blogspot.com