Selasa, 10 Februari 2009

Pada Kemana Mereka?

Penulis: Fuad A

Malam itu di sebuah masjid ada pengajian dalam rangka memperingati Isra Mi'raj nabi Muhammad SAW.Cukup ramai jamaah yang datang pada pengajian itu, seratusan orang lebih. Salah satu sebabnya adalah penceramahnya seorang ulama kondang yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Disamping cara penyampaiannya bagus, masuk akal, juga kadang diselingi 'guyonan' ringan yang membuat mata jadi tidak cepat mengantuk.

Materi ceramah Isra Mi'raj yang intinya adalah diterimanya perintah sholat dari Allah SWT kepada Muhammad SAW diangkat amat menarik oleh sang ulama. Begitu pula ketika membahas masalah sholat wajib, sholat sunnah, khususnya tahajjud, apalagi ketika membahas tentang keutamaan sholat bila dilakukan secara berjamaah di masjid.

Begitu piawai sang ulama, sangat simpatik dalam berdakwah, sehingga jamaah banyak yang terpukau dan menyimak (mendengar secara serius) tentang kehebatan peristiwa Isra Mi'raj tersebut, banyak jamaah yang manggut-manggut karena banyak yang menjadi sadar akan kealpaan atau kelalaiannya selama ini, dan terkadang jamaah bisa dibuat 'geeerrrrr' pada ketawa ngakak karena 'guyonan' sang ulama.

Jamaah seperti tersihir oleh daya tarik sang ulama, tak ingin meninggalkan masjid meski hari sudah cukup larut. Hampir semua jamaah ingin menuntaskan dalam mengikuti ceramah tersebut sampai selesai. 'Sayang rasanya kalau ditinggalkan, ceramahnya bagus, banyak ilmu kita peroleh, ceramahnya tidak membuat ngantuk. Apalagi suasana ukhuwah seperti ini....wah, sulit bisa kita dapatkan dihari-hari yang lain', begitu komentar salah seorang jamaah.

Tak terasa telah lewat jam 24.00......

Namun sang ulama masih cukup fit dan bersemangat, jamaah pun masih tetap terpukau. Beberapa orang tua terpaksa tetap mendengar ceramah sembari menggendong anaknya yang tertidur, daripada harus pulang untuk menidurkan anak terlebih dulu.'Tangguh ah, toh besok kan hari libur, sekali-sekali pulang malam tak apa kan?', kata seorang ibu. Rata-rata seperti itulah pendapat yang ada dalam benak para jamaah. Baik para bapak, para ibu maupun para remaja juga anak-anak.

Mendekati pukul 01.00 .......

Akhirnya tuntaslah materi Isra' Mi'raj yang disampaikan oleh ulama yang amat mempesona tersebut. Setelah ditutup dengan kalimat permohonan maaf bila dalam ceramah ada terselip kalimat atau kata yang salah, kemudian pembacaan sholawat dan do'a, maka sang ulama pun mohon pamit. Para jamaah pun satu per satu mulai meninggalkan tempat untuk pulang ke rumah masing-masing. Umumnya para jamaah pulang sambil berbincang-bincang tentang keterkaguman pada sang ulama, juga materi yang disampaikan benar-benar telah membuka wawasan mereka.

Pukul 02.00 lewat....

Para panitia masih sibuk membereskan kursi-kursi, meja, tenda, sampah-sampah, lampu penerangan, sound system, dan lain sebagainya.

Pukul 03.00 .....

Selesailah pekerjaan beres-beres yang dilakukan oleh panitia. Sebagian besar panitia terus pulang untuk istirahat, hanya satu-dua yang memilih istirahat di masjid sembari menjaga sound system dan peralatan lain yang memerlukan penjagaan.

Ini adalah waktu yang terbaik untuk melakukan doa . Abu Hurairah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad bersabda," pada sepertiga malam, Tuhan turunke langit dunia dan mengumumkan, bahwa barang siapa yang berdoa mendekatkan diri kepadaKu, maka Aku akan penuhi keinginannya, barang siapa yang memohon akan Aku kabulkan permohonannya, barang siapa yang mencari pengampunan, akan Aku ampuni dosanya.(Bukhari, Muslim).

Para jamaah yang tadi begitu terpukau, manggut-manggut, merasa mendapat ilmu, merasa ingat dari kelalaian selama ini, ternyata sudah pada tertidur lelap. Tak mampu membuka mata yang tadi malam telah digunakan untuk 'begadang'. Berat nian rasanya membuka mata, menarik selimut, apalagi untuk turun dan mengambil air wudlu untuk bertahajjud.

Pukul 04.00 lebih.........

Terdengarlah kumandang adzan dari masjid tersebut untuk memangggil para jamaah nya agar melaksanakan sholat shubuh. "Asholatu Khoirum Minan Nauum........... Asholatu Khoirum Minan Nauum". Namun ditunggu sampai selesai sholat sunnat fajar, selesai iqomah, ternyata jamaah yang terkumpul, yang merasa terpanggil untuk datang ke masjid tidak lebih dari 5 ( lima ) orang.

Kemana jamaah yang tadi malam jumlahnya ratusan ?
Kemana jamaah yang tadi malam bilang betapa pentingnya ukhuwah ?
Kemana jamaah yang tadi malam telah sadar akan pentingnya sholat wajib ?
Kemana jamaah yang tadi malam terbuka hatinya untuk mulai melaksanakan sholat berjamaah di masjid ?
Kemana yang tadi malam tertawa ngakak ?

Sudah lupakah pada ayat yang semalam juga disitir oleh sang ulama ini ? Dirikanlah shalat mulai dari matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat fajar. Sesungguhnya shalat fajar itu disaksikan (oleh malaikat). (QS. 17:78)

Pada kemana mereka ?

Astaghfirullah al adziiim...........


Penilaian

nuryati yati: yati_yati17@yahoo.com

Asslamu'alaikum..artikel ini berisi keseharian di lingkungan sekitar kita dan mungkin di lingkungan semua org sering terjadi, karena memang diri ini masih disebut taubat sambel yang artinya taubat yang hanya sadar saat teguran datang tapi terlupa saat teguran hilang ..Ya Alloh ternyata masih banyak yg harus kita benahi setelah ini..mudah2an artikel ini berguna untuk jadi ketukan bagi kita semua terutama diri hamba yang masih sering terlupa..amin ..wassalam


salam djaelanis alam: djaelanis@yahoo.com

mungkin itulah cerminan sikap sebagian masyarakat kita pada saat ini,kita merasa paling benar hanya pada saat event2 seperti itu saja, tapi jika kita kembali kerutinitas kita sehari hari kita lalai untuk melaksanakannya, kita lebih senang bangun pada malam hari hanya untuk melihat suatu pertandingan sepak bola ditv dibandingkan untuk mengingat Allah, jangan2 kita termasuk orang2 yg disebut Allah dalam golongan orang2 yg mendustakan agama!!! Nauzubillah min dzalik!

Memulai dari Nol

Memulai dari Nol
Penulis: MZ Omar

Sikap menentukan sukses atau tidaknya kita. Menurut manajemen IBM kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Artinya, kesuksesan itu seringkali diawali dari sikap hidup yang benar dan tepat dalam menghadapi suatu peristiwa.

Bukan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Bukan karena kita ditakdirkan bernasib jelek, tapi bagaimana kita menggunakan segala potensi terbaik yang dimiliki untuk merespon suatu kondisi yang buruk menjadi lebih baik.

Jadi jika saat ini kita masih dalam keadaan kekurangan harta, ilmu, atau apapun, maka tidak cukup dengan hanya meratapi dan menyesalinya, selamanya hal itu tidak akan mengubah nasib. Namun, ketika kita menyikapinya dengan terus menerus memikirkan peluang yang bisa dikerjakan dan terus menerus sekuat tenaga memperbaiki diri, maka kita akan mampu mengubah keadaannya. Jika nasi sudah jadi bubur, ya kita tambahkan kacang, kerupuk, bawang goreng dan ayam goreng. Maka bubur nasi bisa kita ubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Jika terlanjur basah, ya sudah ambil sabun, sampo lalu kita mandi, biar bersih sekalian. Jadi sekali lagi bukan keadaan yang buruk yang harus disesali, tetapi bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi keadaan yang baik.

Lantas timbul pertanyaan bagaimana seharusnya mulai membangun attitude? Kebanyakan orang adalah produk zaman alias cuma jadi pengekor apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Mereka memilih menjadi orang yang tidak melahirkan sikap yang asli. Apapun yang mereka pilih, pakaian, pekerjaan, makanan, pikiran, semuanya hanya mengikuti apa yang sudah lebih dahulu ada. Jadi mereka kehilangan diri yang sebenarnya.

Handphone yang dipakai, sepatu yang dibeli, gaya hidup yang dipilih bahkan sampai agama yang dianut bukan merupakan pilihan yang kontemplatif, tapi lebih dikarenakan orang lain telah memakainya terlebih dahulu. Singkatnya mereka menjadi orang-orang yang dipenjara oleh masa lalu, dan memilih menjadi manusia-manusia pengekor.

Akibatnya jika ada penilaian dengan kacamata lain terhadap nilai-nilai yang sudah dianut maka yang terjadi adalah penolakan. Pada saat seorang direktur eksekutif mengajukan suatu langkah yang tidak populer dalam menentukan kebijakan perusahaan, maka yang terjadi adalah penolakan bukan apresiasi terhadap langkahnya. Ini akibat mereka terbiasa membenarkan sesuatu yang sudah lazim.

Sikap penolakan yang timbul disebabkan orang tidak memandang sesuatu itu dengan bersih dan jernih. Sikap memandang sesuatu dengan bersih dan jernih hanya dimiliki oleh orang yang berhati bersih dan berpikiran jernih. Atau dengan kata lain dirinya terbebas dari nilai yang sudah umum dan dia memiliki cara pandang, berpikir, bertindak dan membuat pilihan dengan melihatnya dari akar dan dasar permasalahan. Dia memulainya dengan menempatkan dirinya pada titik nol sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan baginya segala sesuatu menjadi mungkin.

Dan Ramadhan adalah bulan yang dipersiapkan oleh sang Khalik untuk membina kita umat-Nya agar bisa kembali ke titik nol. Nol bisa juga berarti kosong. Bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. We have nothing, zero, nol, kosong, nggak ada apa-apanya. Perut kita diperintahkan untuk dikosongkan selama bulan ini, maksudnya agar kita jadi lebih mampu mengosongkan juga otak kita dari pikiran-pikiran kotor dan menahan keinginan duniawi kita sehingga makin mendekatkan diri kepada Allah. Kosong juga berarti khusyu, terbebas dari ikatan materi keduniaan, yang ada hanya Allah sang Maha.

Allah telah mempersiapkan kita semua umat Islam yang beriman untuk menjadi sukses melalui puasa Ramadhan sehingga dengannya kita menjadi bersih hati, jernih pikiran dan mampu mengubah keadaan kita menjadi lebih baik. Mari kita manfaatkan momentum Ramadhan sebagai media kontemplatif kita dan meraih kesuksesan dunia akhirat.

Enterpreneur Langit

Penulis: Zidni. T. Dinan

Apakah Anda Sungguh Ingin Menjadi Pengusaha dan Kaya Raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan, ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya, dan ribuan kesedihan jika kehilangan - Thomas Draxe

Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku.

"Mmm ... pengusaha dan kaya raya, sebuah dua sisi mata uang, selalu berhubungan," pikirku.

Sejak kecil impian untuk menjadi seorang pengusaha selalu terngiang. Aku masih teringat sewaktu di sekolah dasar di era 80-an, seringkali aku membawa sebuah kartu nama ayahku yang tertulis sebagai President Director di salah satu perusahaan. Sering kubawa kartu nama itu, sesekali kupamerkan kepada rekan-rekanku di sekolah. Dulu, aku begitu bangga dengan kartu nama tersebut.

Atau kadangkala aku buat sendiri sebuah kartu nama dari guntingan kertas karton yang kuberi logo dan warna sesuka hatiku, dan tak lupa menuliskan jabatan president director di bawah namaku dengan spidolku. Ehm ... senang hatiku melihatnya, dan sering pula kutunjukan pada kedua orang tuaku, atau siapa pun yang ingin aku pamerkan. Kartu itu kerap menghiasi dompet mungilku, dan aku berharap mudah-mudahan dewasa kelak bisa menjadi pengusaha sungguhan. Mimpiku.

Itu masa kecilku ...

Ya, pengusaha. Yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, menjadi pengusaha tentulah selalu dikelilingi oleh berbagai kekayaan dan kesenangan. Mudah untuk meraup uang, kepuasan materil tercukupi, dikelilingi kemewahan dan kenyamanan. Menjadi pengusaha yang kaya menjadi impian banyak orang. Kekayaan selalu menjadi tujuan utamanya. Ya, sekali lagi, kaya telah menjadi sesembahan baru di zaman ini.

Sungguh mengagetkan pendapat Robert T. Kiyosaki dalam menanggapi definisi "bagaimana mencapai level kaya". Dia mengatakan bahwa alasan kenapa banyak orang tidak bisa kaya adalah karena mereka tidak cukup atau kurang memberi kepada sesamanya. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana adalah seseorang yang mempunyai manfaat atau nilai tambah bagi orang banyak, maka orang tersebut akan menjadi kaya raya. Aku pikir itu adalah prinsip yang sungguh Islami.

Aku teringat sebuah dialog dengan rekan seorang pengusaha yang sungguh menarik sekaligus memperkuat penjelasan di atas. Pada saat kutanya bagaimana caranya membangun bisnisnya, beliau mengatakan, "Yang terpenting dalam targetku adalah aku berbuat bisnis seperti ini bukan karena ingin memupuk kekayaan, sungguh sekali-kali tidak! Yang kuingin adalah aku punya sekumpulan pegawai layaknya kumpulan umat di bawah wilayah perusahaanku. Aku berharap dengan di bawah kepemimpinanku, tidak ada teriakan kata lapar lagi dari para pegawai maupun anak-anak mereka. Aku ingin menjadikan kantorku sebagai tempat perlindungan sekumpulan umat kecilku itu, aku sayang mereka, dan semakin sayang kepada mereka, dan juga kepada anak-anak mereka. Tidak pernah terpikir olehku berapa besar biaya yang akan dikeluarkan untuk merealisasikan hal ini. Aku bina perusahaan tersebut dengan landasan cinta dan kasih sayang layaknya seorang ayah. Aku berusaha keras sekuat tenagaku untuk menahkodai kapal bisnis ini untuk sampai di pantai kebahagiaan kelak secara bersama-sama. Dan selalu kulibatkan kehadiran Allah dalam setiap langkah kami. Kuingin suasana perjuangan selalu hadir, agar hati kami selalu hidup dan umatku merasa bahagia, dan aku berkeyakinan hal itu akan menjadi persembahan kami dalam meraih keberkahan dan akan menjadi bekal di akhirat kelak ...! Kami yakin pasti Allah akan selalu menolong kami."

Tak terasa mataku berkaca kaca dan keharuanku mengalir bersama dengan uraiannya.

Lain lagi Bob Galvin, bercerita tentang ayahnya, pendiri Motorola. Sewaktu dia mengamati deretan pekerja wanita dan dia termenung, "Mereka semua mirip dengan ibuku, mereka semua punya anak yang harus dicukupkan, rumah yang harus dirawat, dan orang-orang yang masih memerlukan mereka yang berada dibawah tanggungan mereka." Hal itulah, ujar Galvin, yang membuat ayahnya selalu termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi agar tercipta kehidupan yang lebih baik bagi mereka karena ayahnya melihat sosok ibunya dalam diri semua pekerja itu. "Begitulah bisnis kami semuanya dimulai dengan rasa hormat yang mendalam," katanya.

Bahkan salah satu sosok kaum beriman, Umar bin Abdul Azis, karena rasa belas kasih dan rasa cintanya, dia selalu memberikan upah kepada pegawainya lebih besar dari apa yang ia terima. "Allahu akbar," gumamku, dan aku yakin bila hal ini kusampaikan kepada para pegawaiku, mereka semua akan tersenyum lebar dan berharap hal itu menjadi kenyataan setelah membaca ini.

Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat nabi juga telah mempraktekkan tentang bagaimana menggunakan kekayaanya. Dia seorang pengusaha yang sukses. Tetapi dia memandang kekayaannya hanyalah sebagai fasilitas untuk beramal saleh. Dia mencontohkan dalam kisahnya yang telah mensedekahkan separuh harta miliknya sebanyak 40.000 dinar pada Rasulullah saw, kemudian dia mensedekahkan lagi hartanya sebanyak 40.000 dinar, dan kembali bersedekah sebanyak 40.000 dinar. Semuanya itu berlangsung dalam jangka waktu yang berdekatan. Lalu dia menanggung 500 kuda untuk kepentingan fi sabillillah, dan setelah itu kembali menanggung 1.500 unta untuk kepentingan fi sabilillah. Sebagian besar harta milik Abdurrahman tersebut adalah yang dia peroleh murni dari hasil berbisnis.

Mereka melakukan semua itu, tidak lain karena mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai hasil akhir yang ingin dicapai, melainkan mereka menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meraih janji Tuhannya dengan mendapatkan ganjaran yang luar biasa yaitu surga-Nya.

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (At Taubah:111)

Said Nursi, ulama dari Turki, mengomentari ayat tersebut dan berkata, "Seandainya saya memiliki seribu nyawa, dengan senang hati saya akan mengorbankan semuanya demi kejayaan Islam. Bagaimana tidak? Karena sesungguhnya saya kini sedang menunggu di alam Barzakh (alam antara kematian dan kebangkitan), kereta yang akan membawa saya ke akhirat. Saya sudah ikhlas dan siap melakukan perjalanan ke dunia lain untuk bergabung bersama di tiang gantungan. Saya ingin sekali dan sudah tidak sabar untuk melihat akhirat. Cobalah Anda bayangkan keadaan pikiran seorang anak kampung dari sebuah dusun yang seumur hidupnya belum pernah melihat sebuah kota besar dengan berbagai kesenangan, kemewahan dan kemegahan. Maka anda akan tahu bagaimana ketidaksabaran saya untuk mencapai hari akhir itu."

Akhirnya, tiada kata lain saudaraku, sudah siapkah kita menjadi enterpreuner langit seperti itu?


zidni_dinan@yahoo.com

Ribuan doa kupanjatkan di bulan suci ini, kupasrahkan semua usahaku kepada-MU, aku hanyalah seorang prajurit hina yang selalu mengharapkan pertolongan dan keridhoan-MU ... dan Engkau telah menjawabnya dengan sangat kasih dan lembutnya ... malam itu aku semakin cinta kepada-MU Ya Allah.

Nasi Tempe

Oleh : Sri Lestari

Aku tidak tahu bagaimana mesti menolak ketika ibu memasukkan sebungkus nasi dengan lauk kering tempe kedalam tasku. Diselipkan begitu saja diantara pakaian, beberapa majalah serta buku yang sengaja kubawa sebagai teman di perjalanan.

Ibu tak pernah berubah. Dari aku kecil sampai kini berusia seperempat abad, masih saja khawatir kalau aku akan kelaparan di jalan. Padahal sepanjang rute perjalanan Trenggalek- Jakarta aku bisa membeli makan dimana saja dengan gampang. Toh, pihak bis menyediakan jatah makan malam serta snack dan beberapa kali pula bis yang kutumpangi akan berhenti untuk istirahat.

“Ibu tak suka kamu dijejali dengan makanan-makanan bis yang asal jadi dan tak higienis. Lebih baik makan nasi tempe daripada makanan instant yang bikin otak kamu ndak encer mikir. Bikin ide-idemu terpasung dan omongan yang keluar dari mulut serba praktis.”

Duh Ibu, selalu saja begitu. Omongan bernada morilnya muncul. Aku memang gemar makan nasi tempe sejak balita. Namun ingin praktis saja. Masa sudah jadi wanita karir dengan gaji yang lumayan, masih juga bawa-bawa bekal nasi tempe dibungkus daun. Tengsin juga.

“Kalau tak kamu makan di bis, makanlah sesampai di Jakarta. Dijamin tak akan basi. Nasinya tanak betul dan kering tempenya tak pakai santan. Daripada kamu sibuk mencari sarapan dan waktumu tak mencukupi. Bukankah hidup di Jakarta harus pandai membagi waktu? Pagi untuk beribadah dan bekerja, siang untuk berbagi rasa dengan teman-teman, dan malam untuk beristirahat. Gunakan tiga waktu itu seoptimal mungkin, Nduk. Jangan terjebak rutinitas melelahkan dan melupakan tujuan hidupmu sesungguhnya.”

Aku mengiyakan nasehat ibu sambil menyantap makan siangku dengan lauk tempe bacem. Ibu beberapa kali menyuruhku untuk menambah porsi makan, namun aku menolak dengan halus. Kulirik, ibu memasukkan beberapa potong tempe bacem kedalam kantong plastik dan kembali mencari sela-sela kosong dalam tasku. Aku hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum kecut.

Ibu mengantarkan aku sampai terminal Tulungagung. Sebelum berangkat beliau berpesan.

“Meski di kota besar, hiduplah seperti tempe. Sederhana, bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan bermanfaat. Jangan mematok tarif terlalu tinggi, kamu akan hancur. Jadilah tempe yang bisa diolah menjadi apa saja dengan banyak rasa. Karena manusia yang kamu hadapi bukan hanya satu, melainkan jutaan dan bermacam pula.”

“Terimakasih Bu, aku akan menjadi yang terbaik dan bermanfaat untuk orang lain. Insya Allah.”

Kucium tangan lembutnya dan kupeluk kasih sayangnya. Saat bis mulai dinyalakan mesinnya, kubisikkan sesuatu, “ Ibu, rute kasihmu lebih panjang melebihi rute perjalananku Trenggalek-Jakarta bahkan rute seluruh kehidupanku.”

Seiring bis yang berjalan meninggalkan terminal Tulungagung, aku melihat bongkahan kaca dimata ibu menetes perlahan.

Apa Pantas Berharap Surga?

Penulis: Bayu Gautama

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah ...