Kemarin sore bus patas reguler jurusan Blok M-Tangerang yang saya tumpangi mendadak mogok. Sudah dicoba berkali-kali, namun sopir tetap gagal menghidupkan mesin bus yang sudah sarat penumpang itu. Sebagian besar penumpang berkesah, peluh pun menjadi hiasan seragam semua penumpang. Sepuluh menit sudah kendaraan itu mogok, hingga akhirnya kondektur berteriak minta tolong kepada penumpang laki-laki untuk membantu mendorong bus besar itu.
Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.
Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.
Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?
Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.
***
Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.
Sebuah pelajaran di sore hari
Senin, 11 Mei 2009
memulai pekerjaan besar
Siapa sih orang yang dalam hidup ini tidak punya cita-cita, keinginan, harapan dan impian yang ingin di raih? Apakah ada dalam kehidupan ini orang yang tidak punya harapan tentang suatu hal?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hidup di dunia ini setiap orang pastilah mempunyai cita-cita, impian dan harapan akan terkabulnya suatu keinginan. Keinginan individu yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, karena banyak faktor personal yang mempengaruhinya. Seringkali tujuan hidup kita diarahkan oleh seperangkat keinginan tersebut. Beberapa aktivitas yang kita lakukan selalu berkaitan dan dalam rangka mewujudkan keinginan yang melekat erat dalam benak setiap manusia.
Tapi jangan dikira keinginan tersebut tidak berkembang. Keinginan kita ketika masih TK mungkin hanya berkisar pada terbelinya beberapa ‘mainan’ yang dapat memuaskan aktivitas bermain. Tetapi lihatlah, ketika kita duduk di bangku SMA, apakah keinginan kita tetap pada ‘sekadar’ terbelinya beberapa ‘mainan’ tersebut? Tentu saja tidak. Keinginan kita tentu saja sudah berkembang, misalnya menjadi siswa yang berprestasi, masuk dalam sekolah favorit, menjadi ‘bunga’ sekolah, dan masih banyak keinginan yang lain. Seiring dengan perjalanan waktu, keinginan tersebut terlewati, ada yang tercapai dan ada yang tidak. Dan apakah ketika kita sudah memasuki dunia kerja, keinginan kita masih sama?
Adakah di dunia ini orang yang berjalan tanpa ada tujuan yang jelas? Tanpa ada keinginan yang ingin dicapai? Tanpa ada harapan akan terkabulnya suatu hal? Jawabnya, ada. Kalau boleh saya perinci, pertama jelas orang yang sakit jiwa alias tidak normal. Kedua, orang yang putus asa. Ketiga, orang yang masih bingung ke mana akan diarahkan diri dan kehidupannya, yaitu orang yang tidak tahu alasan keberadaannya di dunia ini.
Saya pernah berada dalam suatu kondisi di mana terdapat perbedaan kontras aktivitas yang dilakukan dalam satu komunitas. Sebagian dari komunitas tersebut sangat aktif dan selalu berkreasi, singkatnya tidak pernah diam. Namun ada juga sebagian orang dalam satu komunitas tersebut yang hanya menggunakan waktunya untuk sesuatu yang mubah seperti berbicara panjang lebar tanpa manfaat yang jelas.
Pada awalnya saya sempat bingung. Terus terang memang saya tergolong orang yang tidak bisa diam. Maka akhirnya tergabunglah saya dalam satu bagian komunitas tersebut. Melakukan berbagai pekerjaan yang insyaAllah bisa menambah ilmu. Bahkan di saat saya merasa kebingungan mengatur waktu, masih ada sebagian orang yang tiap hari luntang-lantung hanya mengobrol ke sana ke mari tanpa ada hasil nyata dari aktivitas kesehariannya tersebut.
Saya termenung.
Ya Allah betapa Engkau melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira kepadaku. Bahkan suatu saat di mana saya sedang ‘bete’, seorang teman menasehati, “Jadikan semua aktivitas ini sebagai ibadah. Jangan terbebani dengan hal-hal besar. Cobalah jalani dan kerjakan dengan maksimal apa yang ada sekarang ini.”
Dalam Adz-Dzariyat 56 Allah berfirman, "Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun" "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Sehingga sudah jelas bahwa kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Jadi, bagaimanakah wujud ibadah kita? Apakah ‘cukup’ hanya dengan melaksanakan ibadah mahdhoh semata? Apakah kita menutup mata pada ibadah yang sifatnya muamalah? Setiap aktivitas yang kita niatkan lurus untuk Allah, dengan jalan yang benar maka bisa termasuk dalam ibadah. Kemudian apa kaitannya dengan keinginan dan harapan? Ternyata tujuan hidup manusia sangat terkait erat dengan keinginan dan harapan.
Jika dikembalikan pada ad dzariyat 56, maka sudah selayaknya kita melakukan ‘seleksi’ pada keinginan dan harapan kita. Kembali kita kaitkan dengan tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini. Sekali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Apakah kemudian keinginan dan harapan kita akan terkukung dalam satu batasan maya? Apakah masih mungkin bagi kita untuk mempunyai keinginan besar?
Sangat mungkin. Karena dalam pencapaian suatu keinginan terkandung 2 hal : ikhtiar dan doa. Jadi, tidak ada alasan bagi kita ragu untuk mempunyai suatu keinginan besar. Hanya masalahnya, sudahkah kita mengukur diri, mencoba mengaitkan antara keinginan ‘besar’ kita dengan usaha yang telah dan ‘sedang’ kita lakukan? Termasuk di dalamnya apakah aktivitas (maupun pekerjaan) yang sedang kita lakukan sekarang ini dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ‘besar’ tersebut? Satu hal yang perlu diingat. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha dan berdoa. Tetapi hasil akhir ada di tangan Allah. Kita harus ber-tawakkal pada semua ketentuan Allah.
Saya pikir memang benar, penyebab utama ‘bete’ yang saya alami adalah karena saya terlalu memaksakan diri dan kurang menikmati aktivitas keseharian. Sejak saat itulah ada yang berubah dalam paradigma berpikir saya. Bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut harus kita wujudkan mulai dari pekerjaan yang kecil. Bukankah pekerjaan kecil jika dikumpulkan akan menjadi suatu pekerjaan besar? Dan secara logis dapat diterima bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar kita harus mulai dari pekerjaan yang kecil.
Dan tahukah apa pekerjaan besar yang saya rencanakan dalam hidup ini? Menjadikan setiap aktivitas keseharian dalam rangka beribadah kepada Allah. Baik aktivitas di tempat kerja, di rumah, dan dalam lingkungan keseharian. Saya ingin menjadi dosen yang baik, yang bisa memberikan ilmu yang tidak seberapa ini kepada mahasiswa sehingga mereka bisa mengambil manfaat daripadanya, dan tentu saja saya harus selalu meng-up date pengetahuan yang saya miliki. Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua sebagai bakti pada mereka berdua atas segala kasih sayang yang telah mereka berikan. Dan saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain serta menjadikan rumah tangga yang insyaAllah kelak saya bangun sebagai sarana beribadah kepada Allah.
Jadi, memang belum terlambat kan bagi kita untuk memulainya
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hidup di dunia ini setiap orang pastilah mempunyai cita-cita, impian dan harapan akan terkabulnya suatu keinginan. Keinginan individu yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, karena banyak faktor personal yang mempengaruhinya. Seringkali tujuan hidup kita diarahkan oleh seperangkat keinginan tersebut. Beberapa aktivitas yang kita lakukan selalu berkaitan dan dalam rangka mewujudkan keinginan yang melekat erat dalam benak setiap manusia.
Tapi jangan dikira keinginan tersebut tidak berkembang. Keinginan kita ketika masih TK mungkin hanya berkisar pada terbelinya beberapa ‘mainan’ yang dapat memuaskan aktivitas bermain. Tetapi lihatlah, ketika kita duduk di bangku SMA, apakah keinginan kita tetap pada ‘sekadar’ terbelinya beberapa ‘mainan’ tersebut? Tentu saja tidak. Keinginan kita tentu saja sudah berkembang, misalnya menjadi siswa yang berprestasi, masuk dalam sekolah favorit, menjadi ‘bunga’ sekolah, dan masih banyak keinginan yang lain. Seiring dengan perjalanan waktu, keinginan tersebut terlewati, ada yang tercapai dan ada yang tidak. Dan apakah ketika kita sudah memasuki dunia kerja, keinginan kita masih sama?
Adakah di dunia ini orang yang berjalan tanpa ada tujuan yang jelas? Tanpa ada keinginan yang ingin dicapai? Tanpa ada harapan akan terkabulnya suatu hal? Jawabnya, ada. Kalau boleh saya perinci, pertama jelas orang yang sakit jiwa alias tidak normal. Kedua, orang yang putus asa. Ketiga, orang yang masih bingung ke mana akan diarahkan diri dan kehidupannya, yaitu orang yang tidak tahu alasan keberadaannya di dunia ini.
Saya pernah berada dalam suatu kondisi di mana terdapat perbedaan kontras aktivitas yang dilakukan dalam satu komunitas. Sebagian dari komunitas tersebut sangat aktif dan selalu berkreasi, singkatnya tidak pernah diam. Namun ada juga sebagian orang dalam satu komunitas tersebut yang hanya menggunakan waktunya untuk sesuatu yang mubah seperti berbicara panjang lebar tanpa manfaat yang jelas.
Pada awalnya saya sempat bingung. Terus terang memang saya tergolong orang yang tidak bisa diam. Maka akhirnya tergabunglah saya dalam satu bagian komunitas tersebut. Melakukan berbagai pekerjaan yang insyaAllah bisa menambah ilmu. Bahkan di saat saya merasa kebingungan mengatur waktu, masih ada sebagian orang yang tiap hari luntang-lantung hanya mengobrol ke sana ke mari tanpa ada hasil nyata dari aktivitas kesehariannya tersebut.
Saya termenung.
Ya Allah betapa Engkau melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira kepadaku. Bahkan suatu saat di mana saya sedang ‘bete’, seorang teman menasehati, “Jadikan semua aktivitas ini sebagai ibadah. Jangan terbebani dengan hal-hal besar. Cobalah jalani dan kerjakan dengan maksimal apa yang ada sekarang ini.”
Dalam Adz-Dzariyat 56 Allah berfirman, "Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun" "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Sehingga sudah jelas bahwa kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Jadi, bagaimanakah wujud ibadah kita? Apakah ‘cukup’ hanya dengan melaksanakan ibadah mahdhoh semata? Apakah kita menutup mata pada ibadah yang sifatnya muamalah? Setiap aktivitas yang kita niatkan lurus untuk Allah, dengan jalan yang benar maka bisa termasuk dalam ibadah. Kemudian apa kaitannya dengan keinginan dan harapan? Ternyata tujuan hidup manusia sangat terkait erat dengan keinginan dan harapan.
Jika dikembalikan pada ad dzariyat 56, maka sudah selayaknya kita melakukan ‘seleksi’ pada keinginan dan harapan kita. Kembali kita kaitkan dengan tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini. Sekali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Apakah kemudian keinginan dan harapan kita akan terkukung dalam satu batasan maya? Apakah masih mungkin bagi kita untuk mempunyai keinginan besar?
Sangat mungkin. Karena dalam pencapaian suatu keinginan terkandung 2 hal : ikhtiar dan doa. Jadi, tidak ada alasan bagi kita ragu untuk mempunyai suatu keinginan besar. Hanya masalahnya, sudahkah kita mengukur diri, mencoba mengaitkan antara keinginan ‘besar’ kita dengan usaha yang telah dan ‘sedang’ kita lakukan? Termasuk di dalamnya apakah aktivitas (maupun pekerjaan) yang sedang kita lakukan sekarang ini dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ‘besar’ tersebut? Satu hal yang perlu diingat. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha dan berdoa. Tetapi hasil akhir ada di tangan Allah. Kita harus ber-tawakkal pada semua ketentuan Allah.
Saya pikir memang benar, penyebab utama ‘bete’ yang saya alami adalah karena saya terlalu memaksakan diri dan kurang menikmati aktivitas keseharian. Sejak saat itulah ada yang berubah dalam paradigma berpikir saya. Bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut harus kita wujudkan mulai dari pekerjaan yang kecil. Bukankah pekerjaan kecil jika dikumpulkan akan menjadi suatu pekerjaan besar? Dan secara logis dapat diterima bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar kita harus mulai dari pekerjaan yang kecil.
Dan tahukah apa pekerjaan besar yang saya rencanakan dalam hidup ini? Menjadikan setiap aktivitas keseharian dalam rangka beribadah kepada Allah. Baik aktivitas di tempat kerja, di rumah, dan dalam lingkungan keseharian. Saya ingin menjadi dosen yang baik, yang bisa memberikan ilmu yang tidak seberapa ini kepada mahasiswa sehingga mereka bisa mengambil manfaat daripadanya, dan tentu saja saya harus selalu meng-up date pengetahuan yang saya miliki. Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua sebagai bakti pada mereka berdua atas segala kasih sayang yang telah mereka berikan. Dan saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain serta menjadikan rumah tangga yang insyaAllah kelak saya bangun sebagai sarana beribadah kepada Allah.
Jadi, memang belum terlambat kan bagi kita untuk memulainya
Ilustrasi manajemen waktu
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.
Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.
Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.
Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.
Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".
Senin, 13 April 2009
Si Pencuri Kue
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Ia terbenam dalam bukunya, tetapi kebetulan ia melihat, bahwa lelaki disebelahnya, dengan begitu berani, mengambil satu kue dari kantong yang terletak di antara mereka, ia mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam, sementara si "Pencuri Kue" yang pemberani menghabiskan persediaannya.Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu . Berpikir," kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia!". Setiap kali ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, "Ya ampun, Orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah, ia tidak kelihatan berterima kasih !". Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang, menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantung kuenya, di depan matanya! "Kok milikku ada di sini," erangnya dengan patah hati, "Jadi Kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi!" terlambat untuk minta maaf, ia tersandar dengan sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah si pencuri kue itu!
Lalu saya teringat dalam hidup ini kisah pencuri kue ini sering terjadi. Kita selalu sering berprasangka. Dan kita selalu terlalu sering melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Dan tak jarang kita sering berprasangka buruk. Oranglah yang kasar, oranglah yang tak tahu diri, oranglah yang berdosa, oranglah yang salah, oranglah yang kurang beriman, oranglah yang munafik, oranglah yang mencuri. Padahal kita yang mencuri.
Dan betapa seringnya kita mengatakan sesuatu itu adalah milik kita, padahal kalau di renungkan semua yang diatas bumi ini adalah milik Allah. Dan betapa seringnya kita mencuri Milik Allah? Maka Tuhan memberi peringatan pada kita melalui Al-Quran.
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga." (QS. 10:66)
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. 49:12)
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam, sementara si "Pencuri Kue" yang pemberani menghabiskan persediaannya.Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu . Berpikir," kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia!". Setiap kali ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, "Ya ampun, Orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah, ia tidak kelihatan berterima kasih !". Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang, menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantung kuenya, di depan matanya! "Kok milikku ada di sini," erangnya dengan patah hati, "Jadi Kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi!" terlambat untuk minta maaf, ia tersandar dengan sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah si pencuri kue itu!
Lalu saya teringat dalam hidup ini kisah pencuri kue ini sering terjadi. Kita selalu sering berprasangka. Dan kita selalu terlalu sering melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Dan tak jarang kita sering berprasangka buruk. Oranglah yang kasar, oranglah yang tak tahu diri, oranglah yang berdosa, oranglah yang salah, oranglah yang kurang beriman, oranglah yang munafik, oranglah yang mencuri. Padahal kita yang mencuri.
Dan betapa seringnya kita mengatakan sesuatu itu adalah milik kita, padahal kalau di renungkan semua yang diatas bumi ini adalah milik Allah. Dan betapa seringnya kita mencuri Milik Allah? Maka Tuhan memberi peringatan pada kita melalui Al-Quran.
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga." (QS. 10:66)
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. 49:12)
Sebatang Bambu
Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu, "Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"
Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..., kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"
Petani menjawab batang bambu itu, "Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."
Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
***
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita menjadi manusia yang berguna. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, "Ini hamba-Mu ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki. Hamba siap menjalaninya."
Dia berkata kepada batang bambu, "Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"
Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..., kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"
Petani menjawab batang bambu itu, "Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."
Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
***
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita menjadi manusia yang berguna. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, "Ini hamba-Mu ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki. Hamba siap menjalaninya."
Langganan:
Postingan (Atom)



