Selasa, 10 Februari 2009

Bahaya Kemunafikan

Bahaya Kemunafikan



Dalam surat al-Baqarah dikisahkan tentang tiga golongan manusia. Pertama, suatu golongan yang menerima ajaran Allah secara kaffah yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa. Kedua, golongan yang menolak ajaran Allah secara mutlak yang dikenal sebagai orang-orang kafir. Golongan ini tidak saja menolak tapi juga memusuhi Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Ketiga ialah golongan yang memiliki dua kepribadian, yakni berkepribadian Islam jika berada di tengah-tengah kaum muslimin, dan berkepribadian ingkar ketika sedang di antara orang-orang yang memusuhi Islam. Kelompok ini dinyatakan sebagai golongan orang-orang munafik. Meskipun ketiga jenis golongan tersebut selalu ada dalam setiap perkembangan sejarah kehidupan manusia, namun Al-Qur'an lebih banyak menceritakan golongan orang-orang munafik karena keberadaan mereka di dunia dianggap sangat berbahaya.

Ciri-ciri orang munafik tentu sangat bertentangan dengan sifat-sifat orang yang bertakwa. Fudhail bin 'Iyadh mengumpamakan orang yang bertakwa seperti orang yang menanam pohon kurma dan merasa takut akan tumbuh duri. Namun sebaliknya, orang munafik bagaikan orang yang menanam duri tapi mengharapkan tumbuh kurma. Orang yang bertakwa selalu beramal sembari merenungi dirinya dan merasa cemas jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Sedangkan orang munafik, sedikit beramal tetapi membanggakan amalnya yang sedikit itu.

Sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW, bahwa orang munafik mempunyai tiga ciri-ciri, yakni kalau berbicara berbohong, bila berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat. Apabila tiga ciri-ciri ini terdapat pada diri seseorang, maka dia itulah orang munafik. Sesungguhnya, tidak ada penyakit yang lebih berbahaya dari pada kemunafikan. Sebab kemunafikan adalah ibarat debu yang sangat lembut. Terbangnya tidak terlihat, namun tiba-tiba tampak menebal di atas benda yang ia hinggapi. Kemunafikan akan menutupi hati manusia, membuat titik-titik noda di dalamnya, sehingga ruang hati menjadi gelap. Pada gilirannya, hati menjadi sarang berbagai penyakit seperti sikap sombing, riya', ujub, dengki yang menyebabkan anugerah Allah menjadi sulit untuk diraih.

Kemunafikan merupakan puncak perbuatan dosa. Karenanya, membersihkan diri dari sifat kemunafikan menjadi suatu keniscayaan. Sebab ia dapat merusak, menjatuhkan dan menghancurkan agama. Seorang sufi mengatakan: seandainya dosa orang-orang munafik bisa tumbuh seperti tanaman di muka bumi, maka tidak ada tempat bagi seorang mukmin untuk berjalan oleh karena banyaknya dosa mereka. Maka itu, tidak ada tempat yang layak bagi orang-orang munafik kecuali neraka yang paling dasar. Na'udzubillah min dzalik!

Enterpreneur Berdoa

Penulis: Zidni T. Dinan

Pernahkah saudara mendengar sebuah hadist bagaimana cara melantunkan sebuah doa versi tiga orang yang terkurung dalam sebuah gua, saya ingin ceritakan kembali versi singkatnya.

Rasulullah pernah mengabarkan mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, mereka semua berada dalam keputusasaan hingga salah seorang dari mereka berkata, "Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dalam bahaya ini, kecuali bila kalian berdoa kepada Allah swt dengan menyebut amal-amal saleh yang pernah kalian perbuat. Kemudian salah seorang berdoa dengan menyebutkan amalan utamanya berupa memuliakan orang tuanya dibanding keperluan anak-anaknya sendiri, kemudian setelah dia uraikan amalannya dia berkata, "Ya Allah, jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa juga keluar. Kemudian orang kedua pun melanjutkan doanya yang berkaitan dengan amalan utamanya berupa menghindari diri dari perbuatan zina karena takut kepada Allah, dan dia berdoa, "Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu. Tapi mereka belum juga bisa keluar, maka orang ketiga pun melanjutkan doanya mengenai amalan utamanya berupa menjaga amanat harta orang lain yang dikelolanya, dan dia berdoa, "Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari gua itu. (HR Bukhari dan Muslim).

Dan pernahkah juga saudara mendengar ataupun membaca bagaimana Rasulullah melantunkan doa di kala sangat kritis sewaktu berkecamuknya perang Badar? Saya akan coba menguraikan kembali kisahnya secara singkat.

Kala itu setelah meluruskan barisan pasukan kaum muslimin, Rasulullah kembali ke tendanya dengan ditemani oleh Abu Bakar, dan tidak ada seorang pun kecuali keduanya. Lalu Rasulullah bermunajat kepada Rabb-Nya, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan-Nya, begitu dalam ia hanyut dalam doa.

Dalam permohonannya ia berkata, "Allahumma Ya Allah, ini bangsa quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha untuk mendustakan rasul-Mu. Ya Allah, berilah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kaum kami pada hari ini, tiada lagi yang akan menyembah-Mu."

Sementara ia hanyut dalam doa sambil merentangkan tangan menghadap kiblat, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar menyaksikannya lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah, sambil ia berkata, "Wahai Nabi Allah, dengan doamu itu, sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu."

Tetapi sungguh pun begitu, Muhammad semakin dalam terbawa dalam aliran doa, dengan penuh ke-tawadhu-an dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan pertolongan Tuhan-Nya dalam menghadapi peristiwa yang genting, yang oleh kaum muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk pertempuran itu pula mereka tidak memiliki persiapan.

Hingga karena letihnya dalam berdoa membuat Rasul tertidur, beberapa saat kemudian beliau terbangun dengan rasa gembira, dan bersabda, "Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dan gigi di depannya terdapat kematian."

Kemudian ia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dikerahkannya semangat sambil berkata:

"Demi Dia yang memegang jiwa Muhammad, setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di surga."

Beberapa waktu lalu saya bertemu rekan lama, dia seorang pengusaha, kulihat sekarang kondisinya lumayan lah, mungkin bisnis yang dikelolanya cukup berhasil.

"Alhamdulillah", gumamku.

Saya ingat beberapa tahun silam dia pernah mengalami suatu ujian yang berat atas perusahaan yang dikelolanya, saat itu sering beliau mencurahkan isi hatinya kepadaku dan menceritakan beratnya ujian yang dialaminya, setelah setumpuk ikhtiar dilakukan, bisnisnya tak kunjung mendapatkan tanda-tanda akan selamat dari kebangkrutan, dan bukan saja bangkrut, bahkan akan terjerat hutang usaha yang sangat besar, dia katakan sekitar puluhan milyar siap untuk menjerat lehernya.

Bukan saja sisi nominal yang membuatnya sesak, tak kalah beratnya yang menjadi beban adalah tanggungan puluhan karyawan yang berada di perusahaannya, intinya menurut beliau pada saat itu adalah masa yang sangat mengguncang jiwanya, makan tak enak, tidur tak lelap, dan segala yang tak enak lainnya menghampiri beliau.

Yang kutahu, di sisi yang lain usaha beliau bukan saja terkait pada sektor bisnis, tetapi beliau juga aktif dalam melakukan pembinaan usaha berupa pesantren di suatu desa terpencil, pesantren tersebut tumbuh secara sehat, santrinya sekitar lima ratusan, tetapi jenis usahanya adalah nirlaba, atau tidak dikenakan biaya apa pun terhadap santri yang sekolah di pesantren tersebut.

"Usaha pesantren ini untuk cash flow langit", begitu ujarnya setiap kali saya tanyakan kenapa dia serius sekali mengelola usaha nirlaba ini.

Saya menjadi penasaran dan tercetus keingintahuan bagaimana caranya dia menyelesaikan masalah usahanya pada tahun-tahun silam. Karena saya melihat kondisi saat ini jauh berubah, lebih sukses bila dibandingkan pada saat itu.

Beberapa kali kupancing serentetan pertanyaan dari ketidaksabaranku, barulah ia bersedia untuk menceritakan kisahnya ...

Ya kawan karibku, tiada satu kekuatan yang dapat membantuku saat itu kecuali kekuatan Allah, tiada yang maha pengasih kecuali Allah pula, Dialah yang memberikan jawaban dan jalan keluar kepadaku. Kami ini makhluk yang sangat lemah dan hina, dan Dia lah Maha Kuat dan Maha Kaya. Tiadalah kejadian itu terjadi kecuali menambah kualitas keimanan kami, kami merasakan kasih sayang dan cinta-Nya.

Engkaupun tahu masalah yang kami hadapi saat itu, penuh dengan kesukaran, hati terasa sempit, kami ditinggalkan pula oleh kawan-kawan, tiada pihak yang ingin meringankan masalah kami saat itu, semua pihak menekan, menekan dan menekan setiap waktu.

Pada saat usaha kami jatuh, tiada akal lagi untuk mencari apa peluang pengganti usaha kami ini agar bisa melunasi hutang usaha yang berjumlah milyaran itu, sama sekali tidak ada ide, tertutup. Walaupun demikian kami tetap melakukan berbagai ikhtiar mencari solusinya, hingga sampai pada suatu waktu kami pasrah terhadap apapun keputusan-Nya.

Sering kali kami lantunkan doa untuk diberikan jalan keluar atau yang terbaik bagi kami, bahkan ribuan kali kami berdoa, bukan saja di saat sholat, bahkan dalam perjalanan pun tak lupa kami berdoa kepadanya, intinya lidah dan bibir kami basah dengan doa dan pujian.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan sekian bulan berlalu dalam kondisi tak menentu. Lalu sampailah pada satu saat aku berdoa di malam hari di tengah semua orang tertidur lelap, bersimpuh dan berdoa kepada-Nya, aku hanya ingat beberapa hadist dan kisah Kekasihku dalam melantunkan doa-doanya. Kemudian dia bercerita mengenai dua kisah di atas.

Aku coba ikuti cara Kekasihku, Muhammad, dalam berdoa pada saat-saat yang genting, dan kusesuaikan redaksi doanya dengan kondisiku.

"Ya Allah, Engkau Maha Tahu kondisi kami ini, kami sedang dibebani masalah, dan Engkau tahu pula bahwa dari hasil usaha yang kami upayakan kami kelola pula sebuah usaha pesantren, Engkau tahu kami tidak memungut biaya apapun pada mereka."

Jika memang amal ibadah tersebut kami lakukan hanya untuk meraih keridhoan-Mu, mohon Ya Allah berilah jalan keluar untuk kami.

Ya Allah, kami khawatir jika engkau tidak membantu hamba-Mu ini, kami khawatir keberlangsungan pesantren kami terhenti, akan ke mana perginya santri-santri tersebut.

Ya Allah, aku sayang mereka, kami iba dengan wajah mereka, curahkan kasih sayang-Mu pada mereka, dengan menolong usaha kami Ya Allah.

Engkaulah yang Maha Mengetahui hati hati kami, ikhlaskanlah hati kami, dan lapangkan hati kami apapun yang engkau putuskan, dan kami yakin apapun keputusan-Mu adalah yang terbaik bagi kami.

Tak kusangka doanya tersebut membuat jiwaku bergetar dan tak kuasa emosiku terlibat, nyaris kupeluk sahabatku itu, luar biasa makna dari doa tersebut.

Kemudian dia lanjutkan kembali, "Setelah kulantunkan doa tersebut, tak kusangka dalam waktu yang sangat singkat kasih sayang-Nya telah membuka sebuah jalan keluar yang tidak terduga, ibarat pintu gua yang tidak mungkin terbuka dalam kisah yang kuceritakan itu dengan izin-Nya menjadi terbuka".

Sambil menahan emosi, ia melanjutkan, "Tiba-tiba seorang relasi kami menawarkan suatu bisnis yang terbilang besar yang tidak pernah tersentuh oleh perusahaanku, bahkan bisnis tersebut di luar kapasitas secara materi maupun keahlian yang kami punya. Kala itu kami pikir bahwa peluang bisnis tersebut pastilah sudah diatur pemenangnya, paling-paling kalau ikut partisipasi juga, ya paling tidak hanyalah mengarak pemenangnya saja.

Saat itu, benar-benar aku tidak tertarik untuk memprosesnya. Kudiamkan saja. Tapi peluang itu datang lagi, datang lagi dan hadir kembali. Karena sering kali peluang yang sama itu selalu hadir, kucoba beranikan diri untuk memprosesnya.

Apa yang terjadi selanjutnya sungguh ku tak pernah menduganya. Kami mendapati ribuan kemudahan, kami memperoleh proyek tersebut dengan mudah, karena hanya perusahaan kami yang mengajukan proposal tender tersebut dan tidak ada pesaing sama sekali!

Ke mana para competitor yang besar? Ke mana mereka semuanya? Muncul keanehanku saat itu.

Bila Dia memutuskan sesuatu, tidak ada pihak pun yang akan mampu menghambat-Nya! Ini semuanya kemudahan dari-Nya, Dia permudah seluruh proses tersebut. Dan dalam jangka waktu yang singkat kami mendapati keuntungan tiga kali dari jumlah hutang kami! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Begitulah dia menceritakannya dengan penuh keharuan.

Selanjutnya kutahu, temanku itu menjadi orang yang selalu bersyukur dan dia yakin sekali bahwa pesantren tersebut telah menjadi amal andalan yang telah menjadi perantara doanya.

Kabar terakhir yang kuterima, pesantren tersebut menjadi semakin besar dan megah walaupun para santrinya tidak pernah terbebani oleh biaya apapun.

Nah, bagi para enterpreneur, tidak selamanya masa-masa menyenangkan hadir dari kehidupan seorang pengusaha, adakalanya masalah yang banyak terjadi justru sebuah ujian yang tidaklah ringan. Keberhasilan itu hadir setelah melewati masa masa sulit. Bukankah layangan akan terbang tinggi bilamana ada angin yang menerpanya?

Atau mungkin, bagi seorang pengusaha, janganlah berpikir hanya mengembangkan usaha untuk meraih keuntungan materi saja, tetapi cobalah mulai dipikirkan sebuah usaha alternatif yang bermanfaat buat orang banyak, yang akan dijadikan cash flow langitnya. Bisa saja usaha-usaha tersebut akan dan telah menjadi amalan andalan, yang bilamana kita terhimpit suatu masalah ataupun ujian yang berat, bisa dijadikan perantara atau tawasul untuk permohonan doa kita kepada Allah.

Terakhir, selamat berdoa. Allah Maha Mendengar rintihan hamba-hamba-Nya

Mengejar Kebahagiaan Hakiki*

Penulis: Diana Mardihayati (dianam@softhome.net)


“Kamu serius mau berhenti kerja? Suamimu sudah kaya ya?”

Degg! Kaget, heran, sedih, terhenyak, semua perasaanku bercampur baur. Tak menyangka ucapan kasar itu muncul dari mulut kolega kerjaku, mbak X (sebut saja demikian) yang selama ini boleh dikata merupakan dosen yang khusus kubantu dalam penanganan tes massal di kampusku. Kata tak santun dari mulut seseorang yang berpendidikan tinggi, kaum terpelajar!

Dengan muka ungu menahan amarah yang coba kupendam, kutelusuri wajah ayunya. Sama sekali tak bergeming dari rautnya yang tegang. Kami sama-sama membara. Sedetik berlalu, kutinggalkan ia. 'Time-out' sekaligus menurunkan ketegangan emosi yang memenuhi dada masing-masing.

Hari ini seolah memang bukan hari indahku. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja segala problema yang selama ini berusaha sekuat tenaga aku pendam, termuntahkan, dan ditambah dengan ucapan spontanku untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai dosen fakultas psikologi. Aku lelah, lelah mental terutama. Ibarat aku menetap di dalam rumah tanpa jendela dan cahaya, pemberontakanku mencapai titik klimaks. Aku ingin bebas dari situasi ini. Bebas, BEBAS! Biarlah orang bicara apa saja, asalkan aku bebas....


*******


Menjadi dosen adalah pilihan karirku, cita-citaku. Mungkin karena aku dibesarkan dalam keluarga guru, dan budaya membaca demikian kental dan mengasyikkan. Dedikasi tinggi dari bapak dan ibu terhadap pekerjaannya, begitu memukau pesona. Bahwa ilmu yang diajarkan insya Allah takkan berhenti di satu terminal, namun akan terus mengalir dan mengalir beserta pahalanya. Jadilah aku menggapai asaku, memenuhi harapan orang tuaku, sekaligus menobatkan predikat psikolog di bahuku.

Semula segalanya berjalan baik-baik saja. Menikah, dan kemudian lahirlah putri sulungku, Kuni. Kami pindah ke daerah Cimanggis, dengan memboyong serta Yu Ri'ah. Masalah mulai muncul ketika ia ternyata tidak kembali lagi dari kampungnya setelah lebaran usai. Aku tak kunjung mendapatkan penggantinya yang memadai. Jujur saja, mungkin standar dan tuntutan terhadap calon khadimat terlalu tinggi dan ideal. Bagaimana tidak, dia haruslah seorang yang sabar dan ngemong terhadap anakku. Terus-terang, agaknya ini dipicu oleh pengalaman mengamati anak-anak tetangga baruku di perumahan itu yang kebanyakan nakal dan diasuh oleh pembantu, sementara sang ibu bekerja seharian penuh di kantor. Tentu sulit mencari khadimat yang sempurna sesuai gambaranku kala itu. Beberapa kali aku mendapat khadimat baru, hanya bertahan sebentar, dengan beraneka ragam kendala dan hambatan.

Begitulah, akhirnya aku tidak punya pilihan lain kecuali selalu membawa anakku ke kampus. Kuni yang saat itu baru berusia satu tahun selama hampir setahun lamanya kubawa-bawa selama aku mengajar. Ia ikut ke kelas, ikut membaca di perpustakaan bagian, atau bahkan ikut rapat rutin seminggu sekali setiap hari Kamis. Yang sering terjadi adalah ia kelelahan menanti mamanya bekerja, hingga kadang-kadang tertidur di bilik shalat. Sementara aku terpaksa tidak dapat lagi ikut terlibat dalam kegiatan pelatihan siswa SMU/STM yang rutin diadakan Bagianku.

Kucoba menutup telinga atas komentar teman-teman dosenku, namun lama-kelamaan aku menyadari bahwa itu sangatlah tidak adil buat mereka. Perlahan-lahan keadaan ini membuka celah mata hatiku. Meresahkanku, mengusik hati nuraniku. Ya Rabb, apa yang sebenarnya kucari selama ini? Mencari materi alias uang sebanyak-banyaknya? Mempertahankan gengsi karena berhasil menjadi dosen di kampus negeri yang ternama seantero Indonesia dalam usia muda? Setimpalkah semua itu dengan pengorbanan anakku yang masih belia? Bukankah seharusnya terbalik, akulah yang semestinya berkorban untuknya, untuk kehidupannya, demi kebahagiannnya? Bukankah itu esensi terindah dari seorang ibu? Bukan, atau iya? Bagaimana dengan sabda Rasulullah SAW bahwa surga di bawah telapak kaki ibu? Namun telapak kaki ibu yang bagaimana? Rasanya aku bukan kategori ibu demikian. Astaghfirullah, astaghfirullah....

Sejuta pertanyaan bertalu-talu, sama layaknya sejuta jawab beterbangan di isi kepalaku. Pusing, bingung, frustrasi, seolah kaki tak tahu harus melangkah ke mana. Sungguh suatu ironi seorang psikolog tak mampu mencari jawab atas problema hidupnya sendiri. Setiap bertanya kepada teman sejawat, fokus mereka selalu berlabuh pada karir dan karir. Anak bisa dititipkan kepada ibu atau mertua, carilah pembantu dari yayasan, kalau perlu dua orang, kamu harus bisa menyiasati keadaan, dan bla bla, bla.... Semua itu bagiku tidak memberi jalan keluar karena bertentangan dengan prinsip hidupku dan suamiku. Bagi kami, anak identik dengan amanah yang perlu dan harus dipertanggungjawabkan. Lalu di mana tanggung jawab kami bila amanah itu dengan seenaknya dititipkan, terlebih pada ibu dan ibu mertua yang kebetulan masih aktif bekerja? Apakah itu justru bukan saat yang tepat untuk beristirahat bagi ibu-ibu kami yang sudah berusia paruh baya?

Saat itu kuteringat dengan firman-Nya dalam Al Qur'an surat Al Baqarah : 286, ”Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya...”. Apakah ini menyiratkan agar aku bersegera bertindak atas lingkaran setan problemku? Namun jauh di permukaan, entah mengapa, aku masih saja terjebak dalam dilema, hati ini masih berbolak-balik, antara keinginan untuk mencoba bertahan atas karirku yang susah payah kubangun semenjak masih kuliah, berhasil menjadi lulusan terbaik, bahkan menjadi wakil teman-teman saat menerima ucapan selamat dari Bapak Rektor, kesadaran akan potensi diri yang begitu besar, dengan beratnya hati untuk berkonsentrasi penuh menjadi ibu rumah tangga. Keraguan itu masih saja mendera-dera kalbu dan menjebak dalam situasi tak pasti.

Ketika hati ini masih digayuti pertanyaan-pertanyaan itu, seorang teman datang menghampiri. Ia dosen muda dari Bagian/Jurusan yang berbeda. Kebetulan ia beragama nasrani. Meski begitu, selama ini kami cukup dekat berkawan. Setelah mendengar keluh-kesahku, tuturannya yang bernas masih segar terngiang-ngiang di telingaku.

“Din, aku ikut prihatin dengan problemmu. Tapi cobalah tanya pada hati nuranimu sendiri, apa yang menjadi kebahagiaan hakikimu? Kebahagiaanmu yang sebenar-benarnya? Orang tentu boleh bicara atau berpendapat apa saja, itu hak mereka. Tapi kamulah yang mengambil keputusan, bukan mereka.”

Saat itu, ucapannya benar-benar meruapkan pencerahan bagiku. Tak peduli ia seorang nasrani, tapi tutur katanya seolah air dingin yang menyejukkan hati dan menyadarkanku bahwa selama ini aku buta, dibutakan oleh segala sesuatu yang maya dan hanya fatamorgana semata. Alangkah nista, cita-citaku begitu duniawi, sementara aku, seorang wanita yang telah menikah, berkeluarga, dan mempunyai anak, telah nyata-nyata menyisihkan kebahagiaan hakiki itu. Aku lupa menyandarkan dan memasrahkan segala yang kumiliki pada-Nya. Tentu saja Dia tidak meridhoi jalanku, karena aku telah buta arah.

Ketika kemudian di rumah aku merenung dalam malam yang tenang seusai shalat istikharah, fragmen-fragmen kehidupanku seolah berputar ulang. Saat aku tergopoh-gopoh pergi bersiap ke kampus, sementara anakku justru dibuai kantuk; saat hujan meluluhlantakkan jemuran bajuku; saat aku tergesa memasak dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan bahkan sering marah kepada putri kecilku; atau tatkala aku setengah memaksa mengerjakan tugas mengoreksi laporan tes mahasiswa di malam buta, sementara mata dan tubuhku ingin sekali terpejam dan berbaring. Ah, semua sama sekali tidak terfokus, tidak maksimal. Tak satupun yang 100% bisa dipenuhi dengan gemilang. Benar-benar mengecewakan! Dan akhirnya, shalat dan ibadah kepada-Nya hanyalah sebatas ritual saja. Entah sudah berapa lama kuabaikan hak-hak Sang Khalik, hak-hak orang tercinta di sekelilingku. Oh Gusti, aku sudah menzhalimi mereka. Aku menangis dan terus beristighfar menyebut asma-Nya.

Kusadari sepenuhnya, aku tidak bisa bertahan pada situasi buruk ini. Dan kuyakin sudah digariskan oleh Allah SWT pada tahun berikutnya kami (aku dan suami) pergi haji. Kelihatannya Dia ingin memberi waktu lapang untukku merenungkan kembali dan introspeksi atas segala perbuatanku, komitmenku terhadap-Nya. Alhamdulillah, meski sempat dibujukrayu dengan iming-iming dari pihak fakultas, sepulang dari perjalanan ibadah itu, justru tekadku untuk mengundurkan diri dan total berkarir di rumah sebagai ibu rumah tangga semakin bulat dan mantap. Meski hingga detik ini aku masih belajar dan terus belajar menjadi ibu dan istri yang baik dan jauh dari sempurna, kesempatan itu selalu terbuka luas untukku. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan peluang yang mungkin hanya sekali terbentang seumur hidupku.


Cimanggis, 16 April 2003


Demi masa
Sesungguhnya manusia kerugian...
Ingat lima perkara sebelum lima perkara...
Hidup sebelum mati

(petikan syair lagu Raihan, 'DEMI MASA')

Multilevel Kebaikan

Penulis: Bayu Gautama

Ada teman yang pernah bertanya, "apa sih yang membuat kamu senang membantu orang lain?"

Saya berikan dia dua jawaban, pertama, karena Allah senang dengan orang-orang yang suka membantu saudaranya. Allah akan memberikan kemudahan bagi orang yang memudahkan orang lain. Kedua, saya berjanji kepada seseorang untuk terus berbuat baik membantu orang lain.

"Seseorang ...?" teman saya makin bingung.

Baiklah, saya akan perjelas. Beberapa tahun lalu saya pernah berada dalam kesulitan keuangan. Kuliah saya terancam berantakan karena saya tak mampu mengumpulkan uang kuliah dari sisa-sisa gaji saya yang memang kecil. Saya nyaris putus asa dan berpikir akan mengakhiri kuliah saya dan berhenti di tingkat dua saja. Biarlah tinggal mimpi, pikir saya.

Disaat kebingungan dan putus asa melanda itulah, ada seorang sahabat yang datang menanyakan kabar saya dan juga studi saya. Karena kami biasa berterus terang tentang segala hal, saya katakan kondisi saya baik-baik saja. Tapi kuliah saya yang terancam gagal. Mendengar pengakuan saya, sahabat tersebut kemudian menawarkan bantuan sejumlah uang untuk membayar uang kuliah saya yang tertunggak.

Tanpa basa-basi, saya langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir terlebih dulu bagaimana nanti menggantinya.

Di akhir semester empat, saya sempat bertanya kepadanya perihal bantuan yang diberikan kepada saya. Ada yang membuat saya heran dengan jawabannya, "Saya hanya berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain"

Kemudian ia memperjelas, Ia pernah mendapati ibunya yang sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Namun tak sepeser pun uang yang ia dan anggota keluarga lainnya miliki saat itu. demi kesembuhan ibunya, ia nekat menghubungi satu persatu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa membantu biaya pengobatan. Hingga akhirnya, ada seorang sahabat lamanya yang dengan cuma-cuma membiayai seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan sang ibu.

Terheran sahabat itu bertanya, "Kenapa kamu mau membantu saya?"

Jawabnya, "Karena saya telah berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain"

Menurut cerita sahabat saya, sahabat lamanya itu pernah pula mendapati kesulitan dalam hidupnya. Ia hampir tak tahu kemana lagi meminta bantuan hingga ia bertemu dengan seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Setelah berterus terang, orang tak dikenal itu pun memberikan apa yang dibutuhkan sahabat lama itu. kepada orang itu ia bertanya, "Anda sebelumnya tidak mengenal saya, kenapa Anda mau membantu saya?"

Anda sudah bisa menduga jawabnya bukan? Tapi ada pertanyaan kedua dari sahabat lama sahabat saya itu, "Bagaimana saya mengganti kebaikan Anda ini?"

Orang tak dikenal itu menjawab, "Berjanjilah untuk melakukan banyak hal untuk membantu kesulitan orang lain. Itu lebih baik nilainya daripada mengganti apa yang telah saya berikan"

Begitulah seterusnya hingga saya tak pernah tahu siapa yang pertama kali menyulam jaringan amal kebaikan ini. Sungguh, saya tak pernah tahu. Hanya saja yang pasti akan saya lakukan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain, saya akan berkata, "Berjanjilah untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap orang lain yang membutuhkan".

Sang Khalifah

Penulis: Ihdina Sukma Dewi

Puluhan abad yang lalu, ada sebuah ekspedisi yang melibatkan belasan kapal layar dan ratusan orang. Ekspedisi ini bertujuan untuk mencari daratan baru yang subur dan menjanjikan karena tempat yang mereka huni sekarang sudah tidak menjanjikan apa-apa lagi untuk membangun sebuah kehidupan. Ekspedisi ini dipimpin oleh seseorang diantara mereka yang mereka percayai, karena selain handal, ia juga arif bijaksana.

Setelah belasan bulan mengarungi lautan, akhirnya mereka tiba di sebuah daratan yang subur serta menjanjikan, tepat seperti apa yang selama ini mereka impikan. Hanya saja, daratan baru tersebut masih terlalu liar karena belum pernah dihuni sebelumnya. Hal ini menimbulkan keragu-raguan di hati para peserta ekspedisi tersebut apakah mereka mampu untuk menaklukkan daratan baru tersebut dan membangun sebuah kehidupan seperti apa yang selama ini telah mereka impikan. Keraguan tersebut semakin kuat mengingat betapa berat perjuangan yang harus mereka lakukan karena segala sesuatunya harus dimulai dari awal kembali.

Pada suatu malam, ketika para peserta ekspedisi tersebut tengah terlelap tidur di tenda-tenda mereka, pemimpin ekspedisi itu membakar habis seluruh kapal yang mereka gunakan untuk berlayar. Para peserta ekspedisi tersebut terjaga dari tidurnya dan terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Dengan perasaan marah, mereka menghampiri pemimpin ekspedisi tersebut. Mereka bukan hanya marah, tetapi juga kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh sang pemimpin yang mereka percayai tersebut. Mereka bertanya mengapa sang pemimpin tersebut begitu tega membakar musnah kapal-kapal mereka. Dengan penuh kearifan pemimpin ekspedisi itu menjawab, "Keragu-raguan di hati kalianlah yang membuat aku melakukan hal ini. Bukankah inilah daratan yang kita impi-impikan yang membuat kita tegar dan mampu bertahan selama belasan bulan terhadap hantaman ombak dan rasa lapar? Lalu kenapa hanya dengan setitik keragu-raguan saja kalian rela menggadaikan segala apa yang telah kalian impikan? Aku sengaja membakar musnah kapal-kapal tersebut agar kita tidak dapat keluar dari pulau ini, sehingga kita mampu berkomitmen dan bertekad di dalam hati kita masing-masing untuk bersama-sama berjuang dan membangun sebuah kehidupan baru yang kita impikan. Jangan biarkan keragu-raguan di hati kalian menghancurkan impian kalian. Kita sudah melangkah terlalu jauh untuk menyerah sekarang!"

Coba perhatikan dan resapi hikmah yang dapat kita petik dari penggalan kisah nyata di atas. Betapa ternyata, secara manusiawi, selalu saja ada keragu-raguan di dalam hati setiap manusia dalam memulai sebuah kehidupan yang baru, bahkan meskipun hal tersebut adalah sesuatu yang diimpi-impikan sekalipun. Rasa ragu tersebut berkembang bagaikan sebuah tumor ganas yang menggerogoti kemampuan manusia untuk berpikir secara jernih.

Keragu-raguan tersebut tidak dapat menghasilkan apa-apa selain membunuh semua yang telah diimpikan dan dicita-citakan. Jangan lupa bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri dan untuk mampu melakukan suatu perubahan, tantangan terberat pertama adalah menghapuskan keragu-raguan yang timbul di hati manusia. Sebuah komitmen terhadap sebuah perjuangan dalam mencapai apa yang menjadi impian dan cita-cita sangat diperlukan untuk memusnahkan rasa ragu tersebut karena dengan izin-Nya, apabila rasa ragu tersebut telah musnah maka dengan sendirinya pintu pertolongan-Nya akan terbuka dan 'tangan-tangan' ilahiyah pun akan dikirimkan untuk membantu menuntun langkah manusia.

Dalam membangun sebuah komitmen untuk berjuang di jalan-Nya diperlukan kesadaran bahwa kita sebagai seorang manusia diutus pleh Allah SWT sebagai seorang khalifah. Ingatlah ketika Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Lalu para malaikat yang merasa pesimis terhadap tingkah laku manusia berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" Allah SWT menjawab, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dalam konteks ini, Allah tidak menyalahkan apa yang diucapkan oleh para malaikat, tetapi hanya Allah saja yang mengetahui hakikat keberadaan manusia tersebut.

Kita dihadirkan di permukaan bumi ini sebagai seorang khalifah untuk suatu tujuan, bukan suatu kebetulan. Segala sesuatu, sekecil apa pun itu, terjadi dengan izin-Nya. Banyak di antara kita yang sudah sering membaca dan mendengar kata-kata klise tersebut tanpa pernah meresapi dengan seksama akan arti yang terkandung di baliknya. Mungkin sebuah kisah unik yang terjadi pada dua orang mantan presiden Amerika berikut ini mampu menyadarkan kita bahwa Allah maha Berkehendak dan betapa banyak kejadian di dunia ini yang mampu mementahkan konsep manusia akan teori kausalitas.

Dua orang diantara mantan-mantan presiden Amerika yaitu Abraham Lincoln dan John F. Kennedy. Yang pertama lahir tahun 1860 dan yang kedua lahir tahun 1960. Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808 dan pengganti Kennedy bernama Johnson (Lindon) lahir tahun 1908. Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy, tewas terbunuh dalam masa jabatannya dan keduanya tertembak di kepala pada hari yang sama, yaitu Jumat. Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839 dan pembunuh Kennedy lahir tahun 1939. Kedua pembunuh tersebut terbunuh sebelum sempat diadili. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy dan sekretaris Kennedy bernama Lincoln. Kedua sekretaris menyarankan untuk tidak pergi ke tempat terjadinya pembunuhan, namun kedua presiden itu menolak. Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan dari teater dan bersembunyi di gudang sebuah pasar swalayan dan pembunuh Kennedy melakukan pembunuhan dari sebuah gudang pasar swalayan dan bersembunyi di teater!

Subhanallah! Betapa Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Bukankah kisah nyata di atas terlalu absurd untuk dapat dijelaskan dengan hanya mengandalkan teori kausalitas karena keterbatasan yang dimiliki oleh manusia? Tidakkah contoh di atas cukup untuk menyadarkan kita betapa Allah itu Maha Berkehendak? Orang Prancis boleh saja berkata bahwa L'histoire c'est repete-sejarah itu pasti berulang-, tapi tidak semua misteri-Nya dapat diterangkan dengan keterbatasan logika yang kita miliki, untuk itulah diperlukan iman untuk menjembatani 'gap' antara kenyataan yang terjadi karena kehendak-Nya dan keterbatasan logika yang dimiliki manusia.

Seorang ulama terkenal Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab berkata bahwa tidak semua kejadian di alam ini dapat diterangkan dengan teori kausalitas. Disamping sunatullah, ada juga yang dinamakan dengan inayatullah (uluran tangan Allah) dan inayatullah tersebut hanya akan menghampiri orang-orang yang memiliki komitmen dan kesungguhan terhadap apa yang ia perjuangakan.

Sebagai seorang calon almarhum dan almarhumah, cobalah kita sedikit meluangkan waktu untuk menghayati pesan sang Rasul teladan kita berikut ini ,"I'mal li dunyaka kaanaka ta'isyu abadan wa'mal li akhiratika kaanaka tamuttu ghadan ... Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok." Hidup ini terlalu singkat untuk terus menerus menyia-nyiakan kesempatan demi kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita. Apabila hari ini adalah hari terakhir kita berada di dunia, jangan biarkan kita terus menerus diliputi keraguan untuk memulai sebuah kehidupan baru yang membuat kita semakin dekat pada-Nya. Tanamkanlah komitmen untuk berjuang di jalan-Nya di dalam hati dan benak kita yang akan mengikis keragu-raguan tersebut. Ingatlah bahwa Islam membutuhkan tangan-tangan kita untuk menegakkan kembali bendera kejayaan Islam. Semoga Allah swt selalu menyertai setiap langkah kita. Wallahu a'lam bishawaab.